Ngopi Wine, Jaring Aspirasi untuk Majukan Pariwisata Lambar
Anton Suryadi
Jumat | 21/02/2020 20.56 WIB
Ngopi Wine, Jaring Aspirasi untuk Majukan Pariwisata Lambar
Kadisporapar Lambar Tri Umaryani dalam diskusi di Hotel Sari Rasa Way Mengaku, Kamis (20/2/2020). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/ Anton

RILIS.ID, Lampung Barat – Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu daerah di sebelah barat Provinsi Lampung yang memiliki sejumlah destinasi wisata menjanjikan.

Namun hingga saat ini pengelolaannya belum maksimal. Ini menyebabkan nilai jual pariwisata di Lambar masih sedikit tertinggal dari beberapa daerah di Lampung.

Hal itulah yang menginisiasi Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Lambar menggelar diskusi santai bertema "Ngopi Wine" (Ngobrol Pintar Wisata Negeri Skala Brak), di Hotel Sari Rasa Way Mengaku, Kamis (20/2/2020). 

Kepala Disporapar Lambar, Tri Umaryani, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menampung berbagai kendala dalam pengelolaan pariwisata.

Tri menjelaskan untuk memajukan pariwisata ada sembilan langkah yang dapat dilakukan. Yakni identifikasi produk, rumuskan keunikan lokasi wisata, tetapkan target pasar, rumuskan positioning (strategi dalam menanamkan citra di benak pasar), dan bangun identitas (brand) seperti logo slogan nama dan tagline.

Kemudian bangun produk, tetapkan harga, bangun saluran pemasaran, dan lakukan komunikasi pemasaran.

Selain menjelaskan sembilan langkah pemasaran desa wisata itu, Tri juga meminta setiap Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Lambar lebih aktif lagi.

"Tugas pokdarwis membuat logo, slogan, dan tagline. Selain itu memberi kepuasan kepada setiap tamu. Dengan begitu pariwisata kita akan maju karena punya nilai ekonomi,” jelasnya.

Kolaborasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pariwisata juga diperlukan untuk mewujudkan Lampung Barat hebat dan sejahtera.

Salah satu peserta yang mewakili pelaku usaha wisata, Iwan Setiawan, mengungkapkan meski kunjungan wisata di Lambar meningkat, tapi keterlibatan masyarakat dalam menyambut wisatawan belum ada. 

"Mencari oleh-oleh juga masih cukup sulit. Untuk menikmati satu lokasi wisata mungkin bisa selesai dalam 1-2 jam. Tapi saat mencari buah tangan untuk dibawa pulang wisatawan masih bingung," ungkap Iwan.

Selain itu, Iwan juga melihat jika tempat-tempat wisata di lambar masih minim fasilitas pendukung.

"Di daerah lain selain objek utama juga ada fasilitas yang disiapkan oleh pengelola wisata. Seperti permainan anak-anak," terang Iwan.

Secara umum, dia berpendapat ada beberapa faktor utama yang menyebabkan pariwisata belum optimal. Yakni kurangnya promosi serta pemasaran yang kurang efektif dan efisien dan minimnya kesadaran akan pentingnya sektor pariwisata.

Lalu, buruknya infrastruktur sebagai sarana penunjang, terbatasnya jaringan informasi, serta tidak adanya icon atau ciri khas. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID