Oknum Dosen Terdakwa Pencabulan Mahasiswi Bantah Dakwaan JPU
Muhammad Iqbal
Senin | 22/10/2018 20.34 WIB
Oknum Dosen Terdakwa Pencabulan Mahasiswi Bantah Dakwaan JPU
Terdakwa Chandra Ertikanto usai persidangan. FOTO: RILISLAMPUNG.ID/M. Iqbal

RILIS.ID, Bandarlampung – Sidang lanjutan perkara pencabulan yang dilakukan oleh Chandra Ertikanto, Dosen FKIP Universitas Lampung (Unila) terhadap mahasiswi didiknya, DCL, berlangsung tertutup di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, Senin (22/10/2018).

Agenda sidang yang dipimpin oleh majelis hakim ketua Ismail Hidayat, mendengarkan keterangan saksi ahli. 

Usai persidangan, terdakwa yang mengenakan kemeja putih serta rompi tahanan warna merah dan kopiah warna hitam itu, tanpa basa-basi langsung meninggalkan ruang persidangan.

Mulutnya tetap membisu ketika awak media memberondong dirinya dengan sejuta pertanyaan. Hanya langkah kaki yang tegak lurus menuju sel tahanan sementara PN Tanjungkarang.

Kuasa hukum terdakwa, yakni Alhajar Syahyan, mengatakan bahwa saksi ahli yang dihadirkan dalam persidangan tertutup tersebut adalah saksi ahli Bahasa Indonesia dan saksi ahli Psikolog.

“Jadi dalam persidangan tadi kedua saksi yang hadir itu peryataannya tidak sesuai dengan dakwaan yang dibacakan oleh JPU. Kan kalau dalam dakwaan JPU bahwa adanya tekanan fisik, tapi buktinya dari saksi ahli tadi tidak ada, hanya saja tekanan psikologis,” ujarnya kepada rilislampung.id di PN Tanjungkarang.

Lanjutnya, jika memang adanya tekanan fisik oleh terdakwa terhadap korban, maka segala urusan korban tidak akan terselesaikan dengan baik.

“Sekarang gini, kalau memang ada tekanan yang diberikan oleh klien kami terhadap korban, ngapain klien kami justru kasih nilai ujian B+ sama korban, bimbingan skripsi tetap jalan, terus dimana bukti korban tertekannya,” katanya.

Selain itu, menurut Alhajar semua dakwaan yang telah dibacakan oleh JPU dibantah oleh klien nya tersebut. 

“Semua dakwaan itu tidak benar, karena tidak adanya saksi yang melihat peritiwa itu. Yang ada itu justru si mahasiswi nya sempat mengeluarkan kalimat tidak sopan terhadap klien kami, salah satunya contohnya “Pak saya harus bayar berapa biar cepat kelar urusan ini” tentu klien kami tersinggung dengan kalimat itu, dibentaknya lah si DCL, kamu jangan kurang ajar, ikuti saja prosedur yang ada,” pungkasnya.

Terpisah Jaksa Kadek Agus Dwi Hendrawan menyatakan bahwa dirinya bersama tim tetap pada dakwaan yang dibacakan sebelumnya.

Yakni, perbuatan terdakwa tersebut telah melanggar pasal 290 ayat (1) Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHPdana, atau perbuatan terdakwa diancam pidana dalam pasal 281 Ke-2 Jo. pasal 64 Ayat (1)  KUHPdana. “Hasilnya ya kita lihat saja nanti dalam fakta persidangan,” singkatnya.(*)

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID