Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi untuk Pakan Ternak Kambing 
lampung@rilis.id
Selasa | 11/08/2020 18.00 WIB
Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi untuk Pakan Ternak Kambing 
Oleh: Dr. Irmayani Noer, dkk. (Dosen Program Studi Agribisnis Jurusan Ekonomi dan Bisnis Politeknik Negeri Lampung)

Pada 18-19 Juli 2020, tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tribudisyukur, Kecamatan Kebuntebu, Kabupaten Lampung Barat.

Anggota kelompok tani Tri Guna 45 mengeluhkan harga pasar produk kopi yang turun sebagai dampak wabah pandemi Covid-19. Secara rinci permasalahan yang dihadapi petani adalah sebagai berikut:

1)      Harga pasar produk kopi sering tidak jauh berbeda dengan harga pokok produksi (HPP) kopi, sehingga pendapatan petani sulit meningkat.

2)      HPP kopi relatif tinggi antara lain disebabkan produktivitas kebun kopi semakin menurun akibat daya dukung kesuburan lahan terus menurun.

3)      Sebagian besar petani kopi memelihara ternak kambing. Namun, petani sering kesulitan menyediakan pakan yang cukup.

4)      Limbah kulit kopi belum termanfaatkan dengan baik sehingga sering menimbulkan permasalahan limbah.

 

Limbah kulit kopi yang belum termanfaatkan menyebabkan keuntungan  ekonomi  yang  seharusnya diperoleh dari kegiatan produksi usahatani kopi belum dapat dirasakan secara  optimal. 

Berdasarkan hasil diskusi antara tim pelaksana dengan pengurus kelompok tani  ”Triguna 45” telah diidentifikasi beberapa kondisi utama tersebut di atas. 

Rangkaian permasalahan di atas dapat diatasi secara bertahap dengan mengintegrasikan usaha ternak kambing dengan usaha perkebunan kopi (Erwanto, dkk., 2020). Limbah kulit kopi (kadar protein kasar 9.94%) dan daun kopi (kadar protein kasar 23.5%) dapat diolah menggunakan inovasi teknologi fermentasi dan silase menjadi pakan ternak kambing yang berkualitas. Feses ternak kambing dapat diolah menjadi pupuk organik berkualitas untuk memulihkan kesuburan tanah lahan perkebunan kopi yang semakin terkuras bahan organiknya.

Sinergi antara kedua komoditas andalan tersebut harus dieksplorasi dan diarahkan menuju praktik budidaya nir limbah (zero waste). Praktik budidaya zero waste selain dapat meningkatkan efisiensi proses produksi (menurunkan HPP produk) juga akan meningkatkan produktivitas lahan kopi dan ternak kambing. Limbah kulit kopi dan pangkasan daun (wiwilan) setelah diolah dapat menjadi pakan ternak kambing yang berkualitas baik.

Ceramah dan diskusi pada penyuluhan ”Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi Sebagai Salah Satu Model Sistem Agribisnis Terpadu” dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada petani kopi tentang manfaat dan cara penerapan sistem agribisnis terpadu agar terbentuk keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman dan ternak.

Petani dapat memanfaatkan limbah kulit buah kopi sebagai pakan ternak sehingga dapat mengatasi biaya pakan ternak.  Kotoran ternak dapat menjadi pupuk organik bagi tanaman kopi sehingga dapat mengatasi biaya pemupukan.  Dengan demikian dapat terciptanya sistem agribisnis terpadu yaitu dalam satu proses produksi kopi dan pemeliharaan hewan ternak (kambing). 

Target yang diharapkan dari kegiatan penyuluhan adalah peningkatan pemahaman petani kopi dalam pemanfaatan limbah kulit kopi sebagai bahan pakan ternak serta pemanfaatan limbah kotoran ternak sebagai pupuk organik tanaman kopi.  Sinergi tanaman dan ternak ini merupakan salah satu model sistem agribisnis terpadu yang dapat meningkatkan efisiensi usahatani kopi. 

Karena, petani belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai pengolahan limbah kulit kopi sebagai pakan ternak, maka solusi yang ditawarkan dalam penyuluhan adalah peningkatan pemahaman petani dalam pengolahan limbah kulit kopi sebagai pakan ternak. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan menggunakan metode penyuluhan (ceramah dan diskusi).

Anggota kelompok tani Tri Guna 45 sangat tertarik dan antusias mengikuti kegiatan penyuluhan. Beberapa pertanyaan bagus disampaikan peserta pada sesi diskusi dan tanya-jawab. Sebagai tindak lanjut penyuluhan, tim pelaksana sedang mengusulkan proposal ke Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk difusi teknologi.  Hal ini dilakukan  sebagai upaya lanjutan pengembangan usaha pengolahan limbah kulit kopi untuk pakan ternak agar berkembang menjadi agribisnis terpadu.(*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID