Prospek Ekowisata Bendungan Way Sekampung
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Prospek Ekowisata Bendungan Way Sekampung

Bandarlampung
15 September 2021 - 7:00 WIB
Daerah | RILISID
...
Fajar Sidik, S.H., M.Medkom., Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Lampung. Ilustrasi: Kalbi Rikardo

RILISID, Bandarlampung — Bendungan Way Sekampung baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi.

Dalam situs Kementerian PUPR, bendungan yang dibangun menggunakan APBN Rp1,78 triliun tersebut memiliki kapasitas tampung 68 juta m3 dan luas genangan 800 hektare.

Bendungan akan mendukung Provinsi Lampung sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Selain itu, bendungan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai infrastruktur pengendalian banjir di Provinsi Lampung sebesar 185 m3/detik karena terintegrasi dengan Bendungan Batutegi dan Bendungan Margatiga.

Bendungan multifungsi ini juga berpotensi sebagai penyedia air baku untuk Kota Bandarlampung, Kota Metro, dan Kabupaten Lampung Selatan sebesar 2.482 liter/detik.

Selain itu, berpotensi menghasilkan tenaga listrik sebesar 5,4 MW serta menjadi objek wisata di Kabupaten Pringsewu.

Sebagai informasi bahwa Bendungan Way Sekampung yang masuk dalam Kabupaten Pringsewu, sebagian besar digunakan untuk tegal, sawah, dan perkebunan.

Oleh karena itu, proyek lanjutan sangat dibutuhkan, khususnya terkait irigasi yang menghubungkan bendungan dengan sawah maupun perkebunan masyarakat.

Harapannya jika sistem irigasi terbangun dengan baik, maka cita-cita Lampung sebagai lumbung padi nasional akan terwujud.

Hal tersebut diingatkan oleh Presiden Jokowi saat meresmikan Bendungan Way Sekampung beberapa waktu lalu.

Yakni menjadi bagian dari manajemen air yang baik dari hulu sampai hilir guna mendukung lumbung pangan nasional.

Intensitas tanam juga akan meningkat dari semula dua kali tanam menjadi tiga kali tanam setahun.

“Artinya produksi akan meningkat dan kita harapkan kesejahteraan petani ikut terangkat," ungkap Jokowi.

Tentu selain manfaat utama bendungan sebagai salah satu cara melakukan manajemen air untuk kepentingan publik, terdapat potensi lain yang juga perlu dioptimalkan sebagai salah satu pendapatan daerah.

Dengan semakin berkembangnya berbagai konsep ekowisata, maka Bendungan Way Sekampung perlu dikembangkan juga ke arah sana. Bagaimana caranya?

Belajar dari Desa Ponggok

Salah satu desa yang sukses menjadi lokasi ekowisata yang digemari wisatawan lokal adalah Desa Wisata Ponggok, Klaten.

Ponggok adalah sebuah desa yang memiliki Umbul Ponggok, yakni sebuah pemandian dan sumber air untuk pengairan perkebunan tebu pada zaman kolonial Belanda.

Menurut Dian Hotland Damanik dan Deden Dinar Iskandar dalam Jurnal Ilmiah Ekonomi Pembangunan volume 19 tahun 2019, Desa Umbul Ponggok mendapat kucuran Dana Desa dari pemerintah sejak tahun 2015 dan kemudian mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri.

Eksistensi Desa Umbul Ponggok semakin dikenal seiring penghasilan BUMDes Tirta Mandiri yang membukukan omset Rp10,3 miliar dari target Rp9 miliar pada tahun 2016.

Kemudian meningkat pada tahun 2017 mencapai Rp12 miliar dan menjadi Rp14 miliar pada tahun 2018.

Hal inilah yang kemudian menginspirasi desa-desa di seluruh Indonesia untuk mengoptimalkan potensi ekowisata yang ada di daerahnya.

Mengapa Umbul Ponggok sukses menjadi desa ekowisata? Masih dalam jurnal yang sama, kekuatan Umbul Ponggok di antaranya dengan mengoptimalkan media sosial sebagai media promosi.

Ekowisata yang dibangun melalui BUMDes, dikemas dalam media promosi yang menarik dan kreatif.

Pengunjung yang datang memiliki pengalaman wisata yang aman, nyaman, dan menyenangkan yang kemudian hal tersebut disampaikan secara masif oleh mereka melalui akun-akun medsos pribadi.

Tentunya alasan mereka memublikasikan karena tempat yang instagramable, makanan yang enak maupun lokasi berkumpul yang menyenangkan.

Mungkinkah Bendungan Way Sekampung dapat diarahkan seperti itu? Tentu ini butuh sinergi dan koordinasi berbagai pihak.

Hal penting lain yang dapat diambil dari ekowisata Umbul Ponggok adalah proses edukasi masyarakat sekitar lokasi.

Dukungan tokoh masyarakat bersama seluruh warga, mampu mewujudkan Umbul Ponggok bukan hanya sebagai lokasi ekowisata yang bagus, tapi juga aman tentunya.

Keamanan menjadi isu nasional pada tempat-tempat wisata di Indonesia. Lokasi yang bagus, indah, dan menarik, akan gagal berkembang ketika masalah keamanan belum tertangani dengan baik.

Tentunya, pelibatan warga sekitar untuk menjaga situasi lingkungan ekowisata menjadi kunci masalah keamanan. Selain peningkatan kemampuan warga untuk mengisi peluang-peluang ekonomi yang hadir seiring berdirinya ekowisata.

Tidak kalah penting dukungan pemerintah setempat melalui Dana Desa maupun APBD untuk membangun infrastruktur sekitar ekowisata.

Apakah hal tersebut memungkinkan? Tentu perlu diinisiasi oleh Pemerintah Daerah setempat.

Untuk diketahui bahwa sejak tahun 2015, Pemerintah Pusat menggelontorkan Dana Desa (DD) kepada ribuan desa se-Indonesia. Tujuannya tidak lain untuk mendorong pembangunan pada level desa.

Masyarakat desa menyusun program pembangunan yang sesuai dengan karakteristik desanya masing-masing. Sehingga, secara bertahap desa akan semakin maju, infrastruktur terpenuhi, dan pastinya kesejahteraan warga akan meningkat.

Dana desa tersebut dapat menjadi salah satu sumber pendanaan dalam pengembangan desa-desa ekowisata di sekitar Bendungan Way Sekampung.

Program edukasi warga, peningkatan kapasitas SDM, maupun pemasaran produk desa, dapat di-cover oleh program desa.

Namun untuk infrastruktur yang mendukung akses transportasi, tentu diarahkan untuk ditangani oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Pusat sesuai kewenangannya masing-masing.

Apakah konsep ekowisata tersebut dapat diwujudkan? Langkah awal yang perlu dibangun adalah sinergi antar unit. Baik dalam aspek pengelolaan teknis, maupun penganggaran.

Pemerintah desa, daerah, maupun pusat, perlu duduk bersama untuk menetapkan konsep ekowisata yang akan dibangun. Tentunya dengan kajian ilmiah yang berkualitas, ekowisata yang akan dibangun akan lebih tepat dan terarah.

Selain itu, sinergi penganggaran menjadi hal krusial lain untuk dibahas bersama. Harapannya, masing-masing unit di setiap levelnya, dapat mendukung program pembangunan ekowisata ini secara proporsional. Sehingga peluang double budget dapat terhindarkan.

Gubernur Lampung melalui Dinas Pariwisata, dapat memimpin cita-cita ini, menjadi leader yang mensinergikan lintas unit untuk mewujudkan Bendungan Way Sekampung menjadi objek ekowisata yang digandrungi. Bukan hanya oleh warga Lampung, tapi juga masyarakat Sumatera Bagian Selatan bahkan Pulau jawa.

Bukankah keberadaan jalan tol membuat jarak tempuh menjadi sangat singkat? Bukankah saat ini warga Lampung sudah terbiasa melihat kendaraan plat Palembang atau Jakarta di lokasi-lokasi wisata Lampung?

Ini peluang yang perlu ditangkap dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Prospek Ekowisata Bendungan Way Sekampung

...
[email protected]
Bandarlampung
15 September 2021 - 7:00 WIB
Daerah | RILISID
...
Fajar Sidik, S.H., M.Medkom., Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Lampung. Ilustrasi: Kalbi Rikardo

RILISID, Bandarlampung — Bendungan Way Sekampung baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi.

Dalam situs Kementerian PUPR, bendungan yang dibangun menggunakan APBN Rp1,78 triliun tersebut memiliki kapasitas tampung 68 juta m3 dan luas genangan 800 hektare.

Bendungan akan mendukung Provinsi Lampung sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Selain itu, bendungan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai infrastruktur pengendalian banjir di Provinsi Lampung sebesar 185 m3/detik karena terintegrasi dengan Bendungan Batutegi dan Bendungan Margatiga.

Bendungan multifungsi ini juga berpotensi sebagai penyedia air baku untuk Kota Bandarlampung, Kota Metro, dan Kabupaten Lampung Selatan sebesar 2.482 liter/detik.

Selain itu, berpotensi menghasilkan tenaga listrik sebesar 5,4 MW serta menjadi objek wisata di Kabupaten Pringsewu.

Sebagai informasi bahwa Bendungan Way Sekampung yang masuk dalam Kabupaten Pringsewu, sebagian besar digunakan untuk tegal, sawah, dan perkebunan.

Oleh karena itu, proyek lanjutan sangat dibutuhkan, khususnya terkait irigasi yang menghubungkan bendungan dengan sawah maupun perkebunan masyarakat.

Harapannya jika sistem irigasi terbangun dengan baik, maka cita-cita Lampung sebagai lumbung padi nasional akan terwujud.

Hal tersebut diingatkan oleh Presiden Jokowi saat meresmikan Bendungan Way Sekampung beberapa waktu lalu.

Yakni menjadi bagian dari manajemen air yang baik dari hulu sampai hilir guna mendukung lumbung pangan nasional.

Intensitas tanam juga akan meningkat dari semula dua kali tanam menjadi tiga kali tanam setahun.

“Artinya produksi akan meningkat dan kita harapkan kesejahteraan petani ikut terangkat," ungkap Jokowi.

Tentu selain manfaat utama bendungan sebagai salah satu cara melakukan manajemen air untuk kepentingan publik, terdapat potensi lain yang juga perlu dioptimalkan sebagai salah satu pendapatan daerah.

Dengan semakin berkembangnya berbagai konsep ekowisata, maka Bendungan Way Sekampung perlu dikembangkan juga ke arah sana. Bagaimana caranya?

Belajar dari Desa Ponggok

Salah satu desa yang sukses menjadi lokasi ekowisata yang digemari wisatawan lokal adalah Desa Wisata Ponggok, Klaten.

Ponggok adalah sebuah desa yang memiliki Umbul Ponggok, yakni sebuah pemandian dan sumber air untuk pengairan perkebunan tebu pada zaman kolonial Belanda.

Menurut Dian Hotland Damanik dan Deden Dinar Iskandar dalam Jurnal Ilmiah Ekonomi Pembangunan volume 19 tahun 2019, Desa Umbul Ponggok mendapat kucuran Dana Desa dari pemerintah sejak tahun 2015 dan kemudian mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri.

Eksistensi Desa Umbul Ponggok semakin dikenal seiring penghasilan BUMDes Tirta Mandiri yang membukukan omset Rp10,3 miliar dari target Rp9 miliar pada tahun 2016.

Kemudian meningkat pada tahun 2017 mencapai Rp12 miliar dan menjadi Rp14 miliar pada tahun 2018.

Hal inilah yang kemudian menginspirasi desa-desa di seluruh Indonesia untuk mengoptimalkan potensi ekowisata yang ada di daerahnya.

Mengapa Umbul Ponggok sukses menjadi desa ekowisata? Masih dalam jurnal yang sama, kekuatan Umbul Ponggok di antaranya dengan mengoptimalkan media sosial sebagai media promosi.

Ekowisata yang dibangun melalui BUMDes, dikemas dalam media promosi yang menarik dan kreatif.

Pengunjung yang datang memiliki pengalaman wisata yang aman, nyaman, dan menyenangkan yang kemudian hal tersebut disampaikan secara masif oleh mereka melalui akun-akun medsos pribadi.

Tentunya alasan mereka memublikasikan karena tempat yang instagramable, makanan yang enak maupun lokasi berkumpul yang menyenangkan.

Mungkinkah Bendungan Way Sekampung dapat diarahkan seperti itu? Tentu ini butuh sinergi dan koordinasi berbagai pihak.

Hal penting lain yang dapat diambil dari ekowisata Umbul Ponggok adalah proses edukasi masyarakat sekitar lokasi.

Dukungan tokoh masyarakat bersama seluruh warga, mampu mewujudkan Umbul Ponggok bukan hanya sebagai lokasi ekowisata yang bagus, tapi juga aman tentunya.

Keamanan menjadi isu nasional pada tempat-tempat wisata di Indonesia. Lokasi yang bagus, indah, dan menarik, akan gagal berkembang ketika masalah keamanan belum tertangani dengan baik.

Tentunya, pelibatan warga sekitar untuk menjaga situasi lingkungan ekowisata menjadi kunci masalah keamanan. Selain peningkatan kemampuan warga untuk mengisi peluang-peluang ekonomi yang hadir seiring berdirinya ekowisata.

Tidak kalah penting dukungan pemerintah setempat melalui Dana Desa maupun APBD untuk membangun infrastruktur sekitar ekowisata.

Apakah hal tersebut memungkinkan? Tentu perlu diinisiasi oleh Pemerintah Daerah setempat.

Untuk diketahui bahwa sejak tahun 2015, Pemerintah Pusat menggelontorkan Dana Desa (DD) kepada ribuan desa se-Indonesia. Tujuannya tidak lain untuk mendorong pembangunan pada level desa.

Masyarakat desa menyusun program pembangunan yang sesuai dengan karakteristik desanya masing-masing. Sehingga, secara bertahap desa akan semakin maju, infrastruktur terpenuhi, dan pastinya kesejahteraan warga akan meningkat.

Dana desa tersebut dapat menjadi salah satu sumber pendanaan dalam pengembangan desa-desa ekowisata di sekitar Bendungan Way Sekampung.

Program edukasi warga, peningkatan kapasitas SDM, maupun pemasaran produk desa, dapat di-cover oleh program desa.

Namun untuk infrastruktur yang mendukung akses transportasi, tentu diarahkan untuk ditangani oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Pusat sesuai kewenangannya masing-masing.

Apakah konsep ekowisata tersebut dapat diwujudkan? Langkah awal yang perlu dibangun adalah sinergi antar unit. Baik dalam aspek pengelolaan teknis, maupun penganggaran.

Pemerintah desa, daerah, maupun pusat, perlu duduk bersama untuk menetapkan konsep ekowisata yang akan dibangun. Tentunya dengan kajian ilmiah yang berkualitas, ekowisata yang akan dibangun akan lebih tepat dan terarah.

Selain itu, sinergi penganggaran menjadi hal krusial lain untuk dibahas bersama. Harapannya, masing-masing unit di setiap levelnya, dapat mendukung program pembangunan ekowisata ini secara proporsional. Sehingga peluang double budget dapat terhindarkan.

Gubernur Lampung melalui Dinas Pariwisata, dapat memimpin cita-cita ini, menjadi leader yang mensinergikan lintas unit untuk mewujudkan Bendungan Way Sekampung menjadi objek ekowisata yang digandrungi. Bukan hanya oleh warga Lampung, tapi juga masyarakat Sumatera Bagian Selatan bahkan Pulau jawa.

Bukankah keberadaan jalan tol membuat jarak tempuh menjadi sangat singkat? Bukankah saat ini warga Lampung sudah terbiasa melihat kendaraan plat Palembang atau Jakarta di lokasi-lokasi wisata Lampung?

Ini peluang yang perlu ditangkap dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya