Tunggakan Pajak Reklame Sejumlah Toko dan Produk Mencapai Ratusan Juta, Ini Datanya
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Tunggakan Pajak Reklame Sejumlah Toko dan Produk Mencapai Ratusan Juta, Ini Datanya

...
Sulaiman
Bandarlampung
4 Agustus 2021 - 19:09 WIB
Pemerintahan | RILISID
...
Pemasangan stiker penunggak pajak reklame di Bandarlampung, Rabu (4/8/2021) FOTO: Sulaiman

RILISID, Bandarlampung — Setelah memberikan sanksi masalah pajak pada restoran dan hotel, kali ini Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung mulai gencar menindak pada penunggak pajak reklame. 

Hasilnya, beberapa reklame yang ada di Bandarlampung ditempeli stiker belum bayar pajak. Reklame yang dipasangi stiker diantaranya Martabak Damang, Mbak Nur Laundry, Photocopy Digital Printing Canon, dan Lord King yang berada di Jalan Ratu Dibalau. 

Selain itu juga ada empat konter ponsel merek Vivo, tiga Toko Semen Merah Putih, dan Bakso Ali (go food), yang semuanya ada di Jalan Ratu Dibalau, Kecamatan Tanjungsenang. 


Menurut data yang diterima Rilisid Lampung, sejumlah reklame menunggak pajak bila diakumulasi nilainya mencapai ratusan juta rupiah. 

Reklame Vivo misalnya. Salah satu merek ponsel ini memiliki tunggakan pajak reklame sebesar Rp68.074.800 selama dua tahun. 

Staf UPT Pajak Tanjungsenang Zainuri mengatakan, reklame Vivo terdapat dua macam, yakni billboard dan neonboard.

"Untuk Billboard nilainya Rp26.827.500 per tahun, dan yang bersangkutan menunggak pajak selama 2 tahun, sehingga  bila diakumulasi mencapai Rp53.655.000. Sementara neonboard Rp7.209.900 per tahun dengan total Rp14.419.800," ungkapnya, Rabu (4/8/2021).

Selain itu, reklame Lord King menunggak pajak setahun sebesar Rp1.171.650. Kemudian reklame Nippon menunggak pajak selama setahun dengan dua titik sebesar Rp6.022.200. 

Kemudian Semen Merah Putih ada tiga titik dengan nilai Rp4.927.500 setahun. Serta reklame Bintang ada satu titik nilainya Rp1.905.000 satu tahun. 

"Sehingga total tunggakan pajak reklame dari 6 produk tersebut sebesar Rp150.175.950," paparnya lagi.


Sementara itu, Kasubbid Pengendalian dan Pengawasan BPPRD Bandarlampung Ferry Budhiman menjelaskan, beberapa tempat tersebut sudah menunggak pajak sebelum adanya pandemi covid-19. 

"Kita sudah berikan surat peringatan hingga ke tiga kalinya. Sudah menunggak lebih dari satu tahun dan tidak ada itikad baik dari pemilik," ujarnya.  

Ferry menjelaskan, nilai pajak reklame bergantung dengan ukuran reklame. Satu meter reklame memiliki nilai pajak sebesar Rp585.825. 

"Jadi kalau misalnya satu titik reklame menunggak hingga Rp8 juta, apabila ada reklame dengan ukuran yang sama di 10 titik, maka bisa mencapai Rp80 juta. Kan lumayan, belum reklame yang kecil," pungkasnya. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya

Tunggakan Pajak Reklame Sejumlah Toko dan Produk Mencapai Ratusan Juta, Ini Datanya

...
Sulaiman
Bandarlampung
4 Agustus 2021 - 19:09 WIB
Pemerintahan | RILISID
...
Pemasangan stiker penunggak pajak reklame di Bandarlampung, Rabu (4/8/2021) FOTO: Sulaiman

RILISID, Bandarlampung — Setelah memberikan sanksi masalah pajak pada restoran dan hotel, kali ini Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung mulai gencar menindak pada penunggak pajak reklame. 

Hasilnya, beberapa reklame yang ada di Bandarlampung ditempeli stiker belum bayar pajak. Reklame yang dipasangi stiker diantaranya Martabak Damang, Mbak Nur Laundry, Photocopy Digital Printing Canon, dan Lord King yang berada di Jalan Ratu Dibalau. 

Selain itu juga ada empat konter ponsel merek Vivo, tiga Toko Semen Merah Putih, dan Bakso Ali (go food), yang semuanya ada di Jalan Ratu Dibalau, Kecamatan Tanjungsenang. 


Menurut data yang diterima Rilisid Lampung, sejumlah reklame menunggak pajak bila diakumulasi nilainya mencapai ratusan juta rupiah. 

Reklame Vivo misalnya. Salah satu merek ponsel ini memiliki tunggakan pajak reklame sebesar Rp68.074.800 selama dua tahun. 

Staf UPT Pajak Tanjungsenang Zainuri mengatakan, reklame Vivo terdapat dua macam, yakni billboard dan neonboard.

"Untuk Billboard nilainya Rp26.827.500 per tahun, dan yang bersangkutan menunggak pajak selama 2 tahun, sehingga  bila diakumulasi mencapai Rp53.655.000. Sementara neonboard Rp7.209.900 per tahun dengan total Rp14.419.800," ungkapnya, Rabu (4/8/2021).

Selain itu, reklame Lord King menunggak pajak setahun sebesar Rp1.171.650. Kemudian reklame Nippon menunggak pajak selama setahun dengan dua titik sebesar Rp6.022.200. 

Kemudian Semen Merah Putih ada tiga titik dengan nilai Rp4.927.500 setahun. Serta reklame Bintang ada satu titik nilainya Rp1.905.000 satu tahun. 

"Sehingga total tunggakan pajak reklame dari 6 produk tersebut sebesar Rp150.175.950," paparnya lagi.


Sementara itu, Kasubbid Pengendalian dan Pengawasan BPPRD Bandarlampung Ferry Budhiman menjelaskan, beberapa tempat tersebut sudah menunggak pajak sebelum adanya pandemi covid-19. 

"Kita sudah berikan surat peringatan hingga ke tiga kalinya. Sudah menunggak lebih dari satu tahun dan tidak ada itikad baik dari pemilik," ujarnya.  

Ferry menjelaskan, nilai pajak reklame bergantung dengan ukuran reklame. Satu meter reklame memiliki nilai pajak sebesar Rp585.825. 

"Jadi kalau misalnya satu titik reklame menunggak hingga Rp8 juta, apabila ada reklame dengan ukuran yang sama di 10 titik, maka bisa mencapai Rp80 juta. Kan lumayan, belum reklame yang kecil," pungkasnya. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya