Penikam Syekh Ali Jaber Patut Dibidik UU Terorisme
lampung@rilis.id
Sabtu | 19/09/2020 22.20 WIB
Penikam Syekh Ali Jaber Patut Dibidik UU Terorisme
Gunawan Pharrikesit SH, advokat tinggal di Bandarlampung

KEJADIAN luar biasa. Tidak hanya bagi publik di Kota Bandarlampung. Namun seantero wilayah Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Ulama besar pembina Hafiz Quran di Indonesia tertikam pisau di tubuhnya. Peristiwa berdarah yang begitu menyayat hati umat muslim. 

Kejadian sangat luar biasa di atas panggung halaman Masjid Falahudin, Jl Tamin, Lebak Budi, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung, Rabu, 13 September 2020, sekitar pukul 17.30 WIB.

Seorang bernama Alpin, "melesat bagai peluru" (meminjam kalimat sang guru: Herman Batin Mangku pada opini analisisnya berjudul Peluru Itu Bernama Alpin.

Dengan cepat dan tangkas sambil membawa pisau terhunus, lelaki berusia 24 tahun ini begitu terencana mendekati sasarannya, Syekh Ali Jaber di atas panggung, ketika sedang memberikan siraman rohani.

Syekh Ali Jaber dikenal dengan pembawaannya yang tenang dan isi tausiahnya yang sejuk, dan tidak menimbulkan kontroversi atau menyinggung pihak mana pun (baca: aspek politik, agama, usaha).

Teriakan kecemasan dan ketakutan para anak-anak pelajar hafiz Quran, para santri dan santriawan, ibu-ibu pengajian, para ustaz dan ustazah, yang kemudian menimbulkan traumatik, ketika lelaki putus sekolah ini menancapkan sebilah pisau dengan tekanan tenaga sangat kuat.

Pisau diayun ke belakang untuk memberi tekanan dan terarah ke bagian leher, bagian yang mematikan dari organ tubuh manusia ketika tertancap.

Dan, cluup...., terjadilah peristiwa berdarah yang menggemparkan tersebut. Pisau menancap di lengan kanan bagian atas Syekh Ali Jaber.  Sebuah sasaran mematikan yang awalnya mengarah leher sang ulama pengemban amanah Rasulullah SAW.

Allah maha berkehendak. Meski sasaran mematikan (seperti pengakuan Syekh Ali Jaber), namun rencana pembunuhan itupun gagal.

Ulama besar ini dengan kepekaannya (dalam lindungan Allah SWT) merespons serangan tiba-tiba dari arah sebelah kanannya tersebut dengan gerakan spontan, sehingga senjata meyasar ke lengannya.

Dorongan refleks Syekh Ali Jaber terhadap pelaku, menggagalkan rencana mencabut pisau untuk kembali meneruskan sasaran tikaman ke arah leher. Selanjutnya pelaku diamankan masa yang sigap membekuknya.

Dalam waktu tidak lama, polisi datang ke lokasi dan mengamankan pelaku dan membawanya ke kantor Polresta Bandarlampung.

Menariknya, pada saat hampir bersamaan setelah pelaku berada di sebuah ruang kantor polresta, sang ayah bernama Rudi (46), juga sudah berada di dekat anaknya seraya menyatakan bahwa anaknya mengalami gangguan jiwa: orang gila. Foto keduanya pun beredar dengan cepat di medsos.

Kejadian yang menimbulkan keresahan di kalangan para ulama dan masyarakat umat Islam khususnya. Tragedi yang kemudian masuk dalam kategori teror.

Muncullah berbagai spekulasi publik tentang peristiwa berdarah dan pola penanganan pihak berwenang terhadap kasus ini. Mulai dari benarkah pelakunya orang gila, apakakah ada dalang yang menggerakkan pelaku, sampai spekulasi bahwa pelaku diposisikan sebagai orang gila untuk menutup kasusnya.

Kasus inipun menjadi atensi. Bahkan terdengar info pihak Densus 88 (Mabes Polri), psikiater dari Mabes Polri, dan BNPT, turun lapangan ikut ambil bagian dalam pengungkapannya.

Tidak memerlukan waktu lama, polisi menetapkan pelaku sebagai tersangka dengan kesimpulan bahwa pelaku tidak gila. Alasannya pelaku dalam kondisi normal (baca: baik kejiwaannya) saat dilakukan pemeriksaan oleh penyidik. Argumennya, pelaku bisa menjawab semua pertanyaan penyidik dengan baik.

Mulanya tersebar informasi bahwa pelaku diterapkan sangkaan Pasal 351 KUHP (tentang penganiayaan) dan Undang-Undang Darurat karena membawa senjata tajam tanpa hak.

Selang beberapa waktu kemudian diterapkan juga sangkaan Pasal 340 KUHP, pasal tentang perencanaan pembunuhan yang menghilangkan nyawa seseorang.

Namun selain menerapkan pasal-pasal tersebut,  pihak Polri mulai seakan tidak konsisten dengan keyakinan dalam penyidikan. Melalui Kabid Humas Polda Lampung,  Kombes Zahwani Pandra Arsyad, ke luar pernyataan pelaku berhalusinasi.

Ini merupakan konstruksi hukum yang memiliki makna tidak seirama tentang pernyataan pelaku dalam keadaan normal sehingga ditetapkan sebagai tersangka. Dan, kondisi yang melekat pada pelaku dengan halusinasinya yang beresensi palaku dalam keadaan tidak normal.

Dari sinilah penulis sebagai seorang advokat, merasa kurang nyaman dengan situasi pengungkapan kasus berdarah yang membuat resah para ulama dan masyarakat luas yang juga menimbulkan rasa traumatik.

Muncul pertanyaan: apakah polisi menggunakan standar ganda dalam pengungkapan kasus ini? Standar ganda dimaksud adalah menggunakan rasio pengungkapan dengan "dua sisi mata uang".

Pertama, pelaku dalam keadaan normal dan kedua, dengan menyatakan pelaku berhalusinasi yang berarti tidak normal. Tinggal nanti bagaimana nanti  hakim memutuskan perkaranya.

Idealnya dalam konstruksi hukum, penyidik tidak boleh menggunakan dua keyakinan berbeda tersebut (baca: standar ganda). Penyidik harus memiliki keyakinan, tidak boleh "abu-abu".

Persoalannya kemudian muncul spekulasi selanjutnya di publik: Polri sedang mengikuti "keinginan pasar" agar pelaku ditetapkan sebagai tersangka. Dengan tujuan meredam gejolak yang kemungkinan timbul di tengah masyarakat apabila pelaku dinyatakan sebagai sosok yang tidak normal dalam kejiwaannya (baca: orang gila).

Masalahnya, ketika pelaku dinyatakan sebagai bukan orang gila dan ditetapkan sebagai tersangka, maka haruslah ditemukan motivasi dari tindakan pelaku.

Sampai di sini saya menilai Polri menemui kendala untuk itu, terlebih juga telah menerapkan pasal perencanaan pembunuhan.

Membahas tentang motivasi pelaku dan penerapan sangkaan, justru ada yang mungkin terlupakan oleh pihak kepolisian: Penerapan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2018 tentang Terorisme.

Memang penerapan Undang-Undang Terorisme dapat memunculkan beragam pandangan yang bisa saja berbeda. Namun kita juga harus menjelajah kasus-kasus berdarah lainnya yang kemudian disangkakan dalam undang-undang tersebut.

Yang perlu diketahui bahwa teror tidak harus dilakukan secara berjamaah atau dengan bersama-sama pihak lainnya (baca: kelompok paham tertentu).

Sebagai contoh: pelaku penusukan terhadap Wiranto, yang kemudian dituntut 16 tahun penjara dengan menerapkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2018 tentang Terorisme.

Benar adanya kalau seorang Wiranto adalah pejabat negara. Lantas bukankah Syekh Ali Jaber merupakan seorang ulama yang sangat menjadi panutan? Dan, kejadian yang menimpanya merupakan kejadian luar biasa. Bukan kejadian kriminal biasa.

Perlu juga diperjelas bahwa peristiwa berdarah terhadap para ulama bukan baru kali ini saja. Bahkan sampai beberapa ulama yang menjadi sasaran teror wafat sebagai syuhada. Ya, patut kita menyatakan bahwa serangan terhadap para ulama ini sebagai bentuk teror.

Perilaku teror menyasar para ulama secara berulang. Namun sayang belum satu pun terungkap siapa dalang dari semua aksi teror ini.

Sekadar mengingat bahwa dalam UU 5/2018 pada pasal 1 ayat (1) termuat: Tindak pidana terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini.

Pasal 1 ayat (2)  berbunyi: Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.

Pasal 1 ayat (3): Kekerasan adalah setiap perbuatan penyalahgunaan kekuatan fisik dengan atau tanpa menggunakan sarana secara melawan hukum dan menimbulkan bahaya bagi badan, nyawa, dan kemerdekaan orang, termasuk menjadikan orang pingsan atau tidak berdaya.

Melatarbelakangi uraian di atas, penulis berpendapat bahwa sepatutnya pelaku diterapkan sangkaan UU Terorisme Nomor 5 tahun 2019.

 Ini jika memang pelakunya dinyatakan dalam kondisi normal dan tidak dalam keadaan gangguan jiwa (baca: gila). (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID