Calo Driver Kena OTT, Pengemudi Ojol Geruduk Kantor Gojek Lampung
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Calo Driver Kena OTT, Pengemudi Ojol Geruduk Kantor Gojek Lampung

...
Pandu Satria
Bandarlampung
17 November 2021 - 6:15 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Suasana saat driver menggeruduk kantor Gojek Lampung. Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Pengemudi ojek online (ojol) menggeruduk kantor Gojek Lampung di Jl Wolter Mongonsidi, Telukbetung Utara, Selasa (16/11/2021). 

Driver ojol ini ingin kejelasan atas tertangkap tangannya calo driver baru dengan cara cepat atau membayar. Padahal, seharusnya gratis. 

Calo yang diamankan mitra Gojek ini sudah sebulan beraksi dan mematok uang hingga Rp1,2 juta kepada calon driver

Agus, salah satu mitra Gojek mengaku sudah berkoordinasi dengan driver lainnya untuk menjebak oknum tersebur pada pukul 10.00 WIB. 

"Kami sengaja dari awal meminta salah satu rekan untuk terus menelepon oknum calo tersebut," katanya. 

Tidak lama oknum tadi menelepon balik dan membenarkan rekan Agus bisa mendaftar driver Gojek. 

"Seharusnya daftar Gojek itu gratis. Tapi dia matok Rp1,2 juta dengan tawaran langsung jadi driver," jelasnya. 

Padahal, semestinya untuk mereka yang ingin mendaftar harus lewat aplikasi Gopartner

"Saat itu kami sengaja menunggu di dekat tempat pertemuan oknum calo dengan rekan kami," paparnya. 

Begitu uang berada di tangan calo, rombongan pengemudi ojol langsung melakukan 'Operasi Tangkap Tangan' (OTT). 

Dari handphone calo ini diketahui ada 12 nomor telepon berbeda dengan chat ingin menjadi mitra Gojek secara instan. 

"Kata calo tadi, dia oknum pimpinan  Asosiasi Driver Online (ADO) untuk memasukan driver baru," paparnya. 

Si oknum menetapkan tarif Rp800 ribu untuk calon driver dan calo tersebut menaikkan lagi jadi Rp1,2 juta.

Rombongan ojek ini kemudian membawa calo tadi ke Polresta Bandarlampung. 

"Tapi oleh petugas kamu diarahkan ke kantor Gojek dulu," ungkapnya. 

Agus mengaku sempat ditolak pihak Gojek ketika hendak mengklarifikasi persoalan ini. 

"Setelah suasana memanas barulah kami di suruh masuk dan menelepon oknum ADO untuk datang," tutur Agus. 

Si oknum ADO mengakui dirinya meminta uang Rp800 ribu untuk menjadi driver.

Lalu, Agus menanyakan apakah ini ada sangkut pautnya dengan pihak kantor. Tetapi Satgas Gojek langsung membantah. 

Setelah itu akhirnya dibuat dengan oknum ADO dan calo untuk memidanakan mereka jika mengulangi perbuatannya. 

Sementara itu, Head of Regional Corporate Affairs Sumatra, Aji Wihardandi, menyatakan belum mendapatkan informasi ini. 

"Terkait dengan kejadian tadi (Rabu) sore akan kami dalami," kata Aji. 

Dia juga menegaskan bahwa pihak Gojek tidak pernah meminta biaya apa pun untuk proses rekrut mitra Gojek. 

"Semua proses pendaftaran harus dilakukan melalui aplikasi Gopartner," jelas Aji. 

Di bagian lain, sempat terjadi insiden saat suasana antara driver dan pihak Gojek memanas. 

"Dua orang wartawan wanita datang dan sempat dimarahi oleh oknum Gojek," jelas Agus.

Tak lama datang dua jurnalis pria yang akhirnya diperbolehkan merekam proses mediasi. 

"Intinya kami kecewa dengan kantor," pungkas Agus. (*) 

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Calo Driver Kena OTT, Pengemudi Ojol Geruduk Kantor Gojek Lampung

...
Pandu Satria
Bandarlampung
17 November 2021 - 6:15 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Suasana saat driver menggeruduk kantor Gojek Lampung. Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Pengemudi ojek online (ojol) menggeruduk kantor Gojek Lampung di Jl Wolter Mongonsidi, Telukbetung Utara, Selasa (16/11/2021). 

Driver ojol ini ingin kejelasan atas tertangkap tangannya calo driver baru dengan cara cepat atau membayar. Padahal, seharusnya gratis. 

Calo yang diamankan mitra Gojek ini sudah sebulan beraksi dan mematok uang hingga Rp1,2 juta kepada calon driver

Agus, salah satu mitra Gojek mengaku sudah berkoordinasi dengan driver lainnya untuk menjebak oknum tersebur pada pukul 10.00 WIB. 

"Kami sengaja dari awal meminta salah satu rekan untuk terus menelepon oknum calo tersebut," katanya. 

Tidak lama oknum tadi menelepon balik dan membenarkan rekan Agus bisa mendaftar driver Gojek. 

"Seharusnya daftar Gojek itu gratis. Tapi dia matok Rp1,2 juta dengan tawaran langsung jadi driver," jelasnya. 

Padahal, semestinya untuk mereka yang ingin mendaftar harus lewat aplikasi Gopartner

"Saat itu kami sengaja menunggu di dekat tempat pertemuan oknum calo dengan rekan kami," paparnya. 

Begitu uang berada di tangan calo, rombongan pengemudi ojol langsung melakukan 'Operasi Tangkap Tangan' (OTT). 

Dari handphone calo ini diketahui ada 12 nomor telepon berbeda dengan chat ingin menjadi mitra Gojek secara instan. 

"Kata calo tadi, dia oknum pimpinan  Asosiasi Driver Online (ADO) untuk memasukan driver baru," paparnya. 

Si oknum menetapkan tarif Rp800 ribu untuk calon driver dan calo tersebut menaikkan lagi jadi Rp1,2 juta.

Rombongan ojek ini kemudian membawa calo tadi ke Polresta Bandarlampung. 

"Tapi oleh petugas kamu diarahkan ke kantor Gojek dulu," ungkapnya. 

Agus mengaku sempat ditolak pihak Gojek ketika hendak mengklarifikasi persoalan ini. 

"Setelah suasana memanas barulah kami di suruh masuk dan menelepon oknum ADO untuk datang," tutur Agus. 

Si oknum ADO mengakui dirinya meminta uang Rp800 ribu untuk menjadi driver.

Lalu, Agus menanyakan apakah ini ada sangkut pautnya dengan pihak kantor. Tetapi Satgas Gojek langsung membantah. 

Setelah itu akhirnya dibuat dengan oknum ADO dan calo untuk memidanakan mereka jika mengulangi perbuatannya. 

Sementara itu, Head of Regional Corporate Affairs Sumatra, Aji Wihardandi, menyatakan belum mendapatkan informasi ini. 

"Terkait dengan kejadian tadi (Rabu) sore akan kami dalami," kata Aji. 

Dia juga menegaskan bahwa pihak Gojek tidak pernah meminta biaya apa pun untuk proses rekrut mitra Gojek. 

"Semua proses pendaftaran harus dilakukan melalui aplikasi Gopartner," jelas Aji. 

Di bagian lain, sempat terjadi insiden saat suasana antara driver dan pihak Gojek memanas. 

"Dua orang wartawan wanita datang dan sempat dimarahi oleh oknum Gojek," jelas Agus.

Tak lama datang dua jurnalis pria yang akhirnya diperbolehkan merekam proses mediasi. 

"Intinya kami kecewa dengan kantor," pungkas Agus. (*) 

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya