Peserta Tunanetra UTBK-SBMPTN Unila, Eska dan Mirna Ingin Jadi Psikolog
Dora Afrohah
Kamis | 15/04/2021 15.35 WIB
Peserta Tunanetra UTBK-SBMPTN Unila, Eska dan Mirna Ingin Jadi Psikolog
Eska dan Mirna, dua penyandang disabilitas tunanetra mengikuti UTBK-SBMPTN Unila, Kamis (15/4/2021). Foto: Dora

Dua peserta berkebutuhan khusus mengikuti UTBK-SBMPTN (Ujian Tertulis Berbasis Komputer-Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Universitas Lampung (Unila), pada Kamis (15/4/2021) gelombang pertama yang digelar sejak 12 hingga 18 April mendatang.

Mereka adalah Mirna Ega Melisa dari SMA 14 Bandarlampung dan Eska Setya Lestari dari SLB Bina Insani Bandarlampung. Keduanya merupakan penyandang tuna netra. Namun kondisi itu tidak menyurutkan upaya keduanya memasuki perguruan tinggi.

Menurut Eska, dia memilih program studi (prodi) Bimbingan Konseling, FKIP untuk pilihan pertama dan prodi Ilmu Komunikasi, FISIP Unila untuk pilihan kedua.

“Saya ingin belajar memahami karakter diri sendiri dan orang lain. Untuk teman-teman jangan menyerah, kami saja yang punya keterbatasan tetap punya semangat yang tinggi,” ungkapnya kepada Rilislampung usai mengikuti ujian.

Berbeda dengan Eska, Mirna memilih Universitas Negeri Jogjakarta dengan pilihan pertama prodi Psikologi dan pilihan kedua Sastra Bahasa Inggris.

Menurut Mirna, ia merasa tidak mengalami kesulitan secara teknis. Justru ia merasa lega setelah menyelesaikan ujian. Menurut Mirna, di sekolahnya selalu mengadakan bimbingan tes masuk kuliah setiap hari Sabtu, dan dirinya pun rutin melakukan tryout online.

“Saya pengen kuliah dan coba berbagai jalur mana yang berhasil. Cita-cita saya ingin jadi psikolog karena saya mau membantu teman-teman mencari solusi dari masalah yang ada dari ilmu konseling yang akan saya pelajari,” ungkap Mirna bersemangat.

Eska dan Mirna melakukan ujian di Ruang 107 Divisi Pusat Data dan Informasi UPT TIK sejak pukul 07.30 hingga 10.30 WIB.

Sementara, M.Komaruddin, Humas penerimaan mahasiswa baru (PMB) Unila menjelaskan, bahwa ini adalah tahun pertama Unila menggunakan earphone sebagai alat bantu tunanetra mengerjakan soal.

“Kami gunakan perangkat lunak khusus berupa text to speech yang bisa membaca teks langsung menjadi audio. Maka mereka memakai earphone dan mereka menjawabnya dengan menggunakan keyboard dan yang digunakan hanya beberapa tools. Sebelum pelaksanaan tes, teknisnya sudah diberikan saat pelatihan,” ungkapnya.

Hal itu menurut Komaruddin berbeda dengan tahun lalu, yakni jika ada penyandang tunantera ikut tes, maka panitia akan membantu membacakan soal, kemudian merekam jawaban mereka dan membantu melingkari jawaban. (*)

Editor Andry Kurniawan


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID