Bahas Privasi Warga, FH Unila Gelar I Coffess Ketiga
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Bahas Privasi Warga, FH Unila Gelar I Coffess Ketiga

...
Dwi Des Saputra
Bandarlampung
9 November 2021 - 18:38 WIB
Pendidikan | RILISID
...
Warek I Unila dan Dekan FH Unila foto bersama. Foto: Dwi DS

RILISID, Bandarlampung — Fakultas Hukum Unila mengadakan The Third Internasional Conference On Fundamental Rights (I Coffess) atau seminar internasional hak-hak konstitusional warga negara.

Acara seminar internasional ini menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri.

Di antaranya, H.E Vincent Picket, Ambasador Eropa Union untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Ruda Gonzalez Alberto, Universitat de Girona, Spanyol, Anita Yadav, University of New Delhi India, dan Nadirsya Hosen, Monash University.

Wakil Rektor I Unila, Prof Heryandi mengatakan kegiatan I Coffees ini melaraskan kebijakan menteri yang ditugaskan kepada perguruan tinggi.

Adapun tujuannya membangun jejaring, menggiatkan diskusi ilmiah dan mimbar akademik. 

Sementara, Dekan Fakultas Hukum Unila, M Fakih, mengatakan even ini seharusnya digelar setiap tahun. Namun, karena pandemi sempat tertunda.

"Kita mengundang pembicara luar dan dalam negeri. Kemudian membicarakan isu-isu terkini," ucap dia. 

Ia menjelaskan, tema kegiatan ini adalah 'Privacy In New Era'. Intinya di era digital ini harus bersiap tentang keamanan dan privacy data.

Semuanya harus didiskusikan sesuai aspek hukum. Sebab, banyak peraturan sehingga banyak pula aspeknya.

Ia mencontohkan, mahasiswa yang mengajukan ke Mahkamah Konstitusi soal penggeledahan yang dilakukan pihak kepolisian. Apakah ada kaitannya dengan privacy atau tidak. 

"Di situ nanti terlihat berhak atau tidak penegak hukum di jalan membuka ponsel, tetapi batasannya perlu dicari dan dirumuskan," kata dia. 

Ia menyatakan, saat ini sudah ada peraturan terkait privacy. Misalnya UU ITE, namun hal ini masih luas. Makanya dijadikan payung hukum untuk membentuk peraturan yang lebih khsusus dan spesifik. 

"Hukum bersifat dinamis, dengan perkembangan zaman ada hal yang belum tertampung. Mudah-mudahan keluaran dari seminar ini sifatnya inovatif," tandasnya. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Bahas Privasi Warga, FH Unila Gelar I Coffess Ketiga

...
Dwi Des Saputra
Bandarlampung
9 November 2021 - 18:38 WIB
Pendidikan | RILISID
...
Warek I Unila dan Dekan FH Unila foto bersama. Foto: Dwi DS

RILISID, Bandarlampung — Fakultas Hukum Unila mengadakan The Third Internasional Conference On Fundamental Rights (I Coffess) atau seminar internasional hak-hak konstitusional warga negara.

Acara seminar internasional ini menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri.

Di antaranya, H.E Vincent Picket, Ambasador Eropa Union untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Ruda Gonzalez Alberto, Universitat de Girona, Spanyol, Anita Yadav, University of New Delhi India, dan Nadirsya Hosen, Monash University.

Wakil Rektor I Unila, Prof Heryandi mengatakan kegiatan I Coffees ini melaraskan kebijakan menteri yang ditugaskan kepada perguruan tinggi.

Adapun tujuannya membangun jejaring, menggiatkan diskusi ilmiah dan mimbar akademik. 

Sementara, Dekan Fakultas Hukum Unila, M Fakih, mengatakan even ini seharusnya digelar setiap tahun. Namun, karena pandemi sempat tertunda.

"Kita mengundang pembicara luar dan dalam negeri. Kemudian membicarakan isu-isu terkini," ucap dia. 

Ia menjelaskan, tema kegiatan ini adalah 'Privacy In New Era'. Intinya di era digital ini harus bersiap tentang keamanan dan privacy data.

Semuanya harus didiskusikan sesuai aspek hukum. Sebab, banyak peraturan sehingga banyak pula aspeknya.

Ia mencontohkan, mahasiswa yang mengajukan ke Mahkamah Konstitusi soal penggeledahan yang dilakukan pihak kepolisian. Apakah ada kaitannya dengan privacy atau tidak. 

"Di situ nanti terlihat berhak atau tidak penegak hukum di jalan membuka ponsel, tetapi batasannya perlu dicari dan dirumuskan," kata dia. 

Ia menyatakan, saat ini sudah ada peraturan terkait privacy. Misalnya UU ITE, namun hal ini masih luas. Makanya dijadikan payung hukum untuk membentuk peraturan yang lebih khsusus dan spesifik. 

"Hukum bersifat dinamis, dengan perkembangan zaman ada hal yang belum tertampung. Mudah-mudahan keluaran dari seminar ini sifatnya inovatif," tandasnya. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya