Klaim Angka Stunting Turun, Budi Akui Pemenuhan Gizi Ibu dan Bayi Belum Tercukupi
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Klaim Angka Stunting Turun, Budi Akui Pemenuhan Gizi Ibu dan Bayi Belum Tercukupi

...
Isti Febri Wantika
Lampung Utara
3 Juni 2021 - 17:17 WIB
Kesehatan | RILISID
...
Kegiatan Rembuk Stunting Strategi Konvergensi Penanggulangan dan Pencegahan Stunting di Ruang Siger Setdakab Lampura, Kamis (3/6/2021). Foto: Istimewa

RILISID, Lampung Utara — Kabupaten Lampung Utara (Lampura) merupakan salah satu dari 360 Kabupaten dan Kota yang ditetapkan menjadi lokasi focus (locus) intervensi stunting terintegrasi.

Hasil riset Kesehatan Dasar 2013 terdapat balita stunting sebesar 16,8 persen. dan Pada 2018 prevalensi stunting naik menjadi 26,64 persen. Selanjutnya pada 2019 turun menjadi 9,6 persen dan pada 2020 dapat ditekan menjadi 7,4 persen.

Hal itu disampaika Bupati Lampura Budi Utomo saat memberikan sambutan pada acara Rembuk Stunting Strategi Konvergensi Penanggulangan dan Pencegahan Stunting di Ruang Siger Setdakab setempat, Kamis (3/6/2021).

“Kita menyadari, pemenuhan gizi yang belum tercukupi ini baik sejak dalam kandungan hingga bayi lahir, dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Baik pada ibu maupun anaknya. Salah satu gangguan kesehatan yang berdampak pada anak-anak yaitu stunting atau tubuh pendek akibat kurang gizi kronis, sehinga berdampak pula pada kualitas sumber daya manusianya,” kata Budi.

Ia juga menyatakan Lampura bisa bebas stunting pada 2024. Setidaknya ada dua solusi yang bisa dilakukan, yakni dengan intervensi spesifik dan intervensi sensitif. 

“Intervensi spesifik diarahkan untuk mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung. Sedangkan intervensi sensitif diarahkan untuk mengatasi akar masalahnya dan sifatnya jangka panjang,” terus Budi lagi.

Kunci utama pencegahan stunting menurut Budi adalah pada 1.000 hari pertama kelahiran (HPK). Sehingga perhatian kepada ibu hamil dan balita di bawah dua tahun perlu terus diupayakan.

“Saya minta intervensi tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga dilaksanakan oleh sektor yang lain. Seperti penyediaan pangan yang aman dan bergizi, pembangunan sanitasi, air bersih dan yang terutama pemahaman secara baik, serta kepedulian individu dan masyarakat untuk mengoptimalkan perannya dalam upaya penanggulangan stunting,” tandas Bupati. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya

Klaim Angka Stunting Turun, Budi Akui Pemenuhan Gizi Ibu dan Bayi Belum Tercukupi

...
Isti Febri Wantika
Lampung Utara
3 Juni 2021 - 17:17 WIB
Kesehatan | RILISID
...
Kegiatan Rembuk Stunting Strategi Konvergensi Penanggulangan dan Pencegahan Stunting di Ruang Siger Setdakab Lampura, Kamis (3/6/2021). Foto: Istimewa

RILISID, Lampung Utara — Kabupaten Lampung Utara (Lampura) merupakan salah satu dari 360 Kabupaten dan Kota yang ditetapkan menjadi lokasi focus (locus) intervensi stunting terintegrasi.

Hasil riset Kesehatan Dasar 2013 terdapat balita stunting sebesar 16,8 persen. dan Pada 2018 prevalensi stunting naik menjadi 26,64 persen. Selanjutnya pada 2019 turun menjadi 9,6 persen dan pada 2020 dapat ditekan menjadi 7,4 persen.

Hal itu disampaika Bupati Lampura Budi Utomo saat memberikan sambutan pada acara Rembuk Stunting Strategi Konvergensi Penanggulangan dan Pencegahan Stunting di Ruang Siger Setdakab setempat, Kamis (3/6/2021).

“Kita menyadari, pemenuhan gizi yang belum tercukupi ini baik sejak dalam kandungan hingga bayi lahir, dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Baik pada ibu maupun anaknya. Salah satu gangguan kesehatan yang berdampak pada anak-anak yaitu stunting atau tubuh pendek akibat kurang gizi kronis, sehinga berdampak pula pada kualitas sumber daya manusianya,” kata Budi.

Ia juga menyatakan Lampura bisa bebas stunting pada 2024. Setidaknya ada dua solusi yang bisa dilakukan, yakni dengan intervensi spesifik dan intervensi sensitif. 

“Intervensi spesifik diarahkan untuk mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung. Sedangkan intervensi sensitif diarahkan untuk mengatasi akar masalahnya dan sifatnya jangka panjang,” terus Budi lagi.

Kunci utama pencegahan stunting menurut Budi adalah pada 1.000 hari pertama kelahiran (HPK). Sehingga perhatian kepada ibu hamil dan balita di bawah dua tahun perlu terus diupayakan.

“Saya minta intervensi tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga dilaksanakan oleh sektor yang lain. Seperti penyediaan pangan yang aman dan bergizi, pembangunan sanitasi, air bersih dan yang terutama pemahaman secara baik, serta kepedulian individu dan masyarakat untuk mengoptimalkan perannya dalam upaya penanggulangan stunting,” tandas Bupati. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya