Tan Malaka, Pendiri Bangsa yang Terlupa (1)
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Tan Malaka, Pendiri Bangsa yang Terlupa (1)

...
Rilis.id

26 Maret 2018 - 10:59 WIB
Historia | RILISID
...
Tan Malaka

RILISID, — Tan Malaka, sosok intelektual revolusioner yang gigih memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya bagi kaum tertindas. Ia adalah seorang Bapak Pendiri Bangsa yang tidak begitu dikenal, namun sesungguhnya merupakan orang pertama yang mencetuskan gagasan Republik Indonesia, dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang ditulis pada 1925. Buku ini mendahului tulisan Hatta berjudul “Indonesia Merdeka” (Indonesia Vrije) yang ditulis di Den Haag pada 1928, dan tulisan Bung Karno berjudul “Mencapai Indonesia Merdeka” yang ditulis pada 1933.

Lahir di Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat, (mungkin) 2 Juni 1894, nama lengkapnya Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Ibrahim adalah nama aslinya, sedangkan Tan Malaka (Datuk Sutan Malaka) adalah nama gelar semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis ibu. Seperti halnya Soerjopranoto, meskipun Tan Malaka memiliki garis keturunan bangsawan, perjalanan hidupnya diabdikan untuk memperjuangkan wong cilik dan kaum terjajah.

Setelah mempelajari ilmu agama dan menjalani sekolah dasar, pada 1908, Tan Malaka didaftarkan ke sekolah guru Kweekschool di Bukittinggi. Menurut gurunya, GH Horensma, Tan Malaka adalah murid yang pintar, meskipun kadang-kadang tidak patuh. Ia menikmati pelajaran bahasa Belanda, dan seorang pemain sepak bola yang hebat. Setelah lulus dari sekolah itu pada 1913, ia ditawari gelar datuk dan seorang gadis untuk menjadi tunangannya; namun ia hanya menerima yang pertama. Meskipun diangkat sebagai datuk, ia segera meninggalkan desanya untuk melanjutkan studi ke Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah) di negeri Belanda.

Se­lama enam tahun (1913-1919) masa studinya yang penuh penderitaan, karena sering sakit dan kesepian, ia terkesan oleh rasa percaya diri yang dimiliki keluarga kelas buruh yang menjadi pemilik rumah tempat ia tinggal di Belanda. Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai meningkat setelah membaca de Fransche Revolutie, yang diberikan oleh Horensma kepadanya sebelum keberangkatannya ke Belanda. Secara khusus, ia juga tertarik oleh keberhasilan Revolusi Rusia 1917.

Dalam penglihatannya, keberhasilan kaum buruh merebut kekuasaan dari Tsar bisa menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa yang sedang dalam belenggu penjajahan untuk lepas dari kolonialisme. Gagasan penting yang diinspirasikan dari Revolusi Oktober dalam pemikirannya adalah soal peran Massa Aksi. Menurutnya, kelompok buruh dan kaum proletar perlu mengambil peran yang lebih besar dalam jalannya pemerintahan agar mereka tidak menjadi objek dari birokrasi yang kerap bersekongkol dengan kaum kapitalis atau pemilik modal.

Ketertarikannya pada Revolusi Oktober merangsangnya untuk mulai mendalami literatur Marxisme-Sosialisme. Sebelum menyelesaikan kuliahnya, ia sempat bertemu dengan Henk Sneevliet, salah seorang pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV, pendahulu dari Partai Komunis Indonesia), dan tertarik bergabung dengan Sociaal Democratische-Onderwijzers Vereeniging (Asosiasi Demokrat Sosial Guru).        

Setelah lulus kuliah pada November 1919, ia kembali ke desanya. Tak lama kemudian, ia menerima tawaran Dr. C.W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Ia tiba di sana pada Desember 1919, dan mulai mengajar anak-anak kuli itu pada Januari 1920. Selama masa ini, ia belajar dari kemerosotan dan keterbelakangan hidup kaum pribumi di Sumatera, dan mulai menulis beberapa propaganda perlawanan kaum kuli, yang dikenal sebagai Deli Spoor.

Selain itu, ia juga berhubungan dengan ISDV dan terkadang juga menulis untuk media massa. Salah satu karya awalnya adalah “Tanah Orang Miskin”, yang menceritakan perbedaan mencolok dalam hal kekayaan antara kaum kapitalis dan pekerja.Tulisan itu dimuat di Het Vrije Woord edisi Maret 1920. Ia juga menulis mengenai penderitaan para kuli kebun teh di Sumatera Post. Tan Malaka menjadi calon anggota Volksraad dalam pemilihan tahun 1920, mewakili kaum kiri. Namun, ia memutuskan untuk mengundurkan diri pada 23 Februari 1921.

Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin komunis sejak akhir 1921, Tan Malaka berusaha keras untuk meredakan ke­tegangan-ketegangan antara para pemimpin komunis dan Islam sebelum ia kemudian ditangkap pada Maret 1922. Dari tempat pengasingan, ia terus melanjutkan perjuangan untuk merukunkan hubungan antara komunisme dan Islamisme melalui Kongres Komintern Keempat pada November 1922.

Pada kesempatan itu, ia dengan terang-terangan mengecam sikap permusuhan Komintern terhadap Pan-Islamisme, karena hal itu dia pandang sebagai cerminan kekuatan borjuis yang tak bisa dipercaya. Ia juga menekankan “potensi revolusioner dalam Islam di daerah-daerah jajahan dan kebutuhan partai-partai komunis untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok radikal Islam.” Corak pemahaman komunisme Tan Malaka, yang lebih mempertimbangkan kontekstualisasinya dengan kepentingan perjuangan nasional, membuatnya dikenal sebagai “komunis nasionalis”.

Perjuangan Tan Malaka membela kaum terjajah dan tertindas memberi inspirasi yang kuat kepada para pemimpin bangsa menjelang dan selama revolusi kemerdekaan. Hampir bersamaan dengan masuknya tentara pendudukan Jepang pada 1942, Tan Malaka pulang ke Tanah Air. Setelah tinggal sebentar di Rawajati, Jakarta Selatan, ia membutuhkan pekerjaan untuk nafkahnya. Temannya, Dr. Poerbotjaroko, pengurus Perpustakaan Gedung Arca, menyarankan untuk melamar pekerjaan di Bayah Kozan.

Bayah waktu itu merupakan pusat eksploitasi tambang batu bara. Meski menguasai pulau-pulau bekas jajahan Belanda, Jepang masih harus menghadapi pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II, termasuk di Hindia Belanda. Pasokan kebutuhan batu bara untuk Pulau Jawa, yang sebelumnya dipasok dari Sumatera, terhenti karena operasi militer pasukan Sekutu. Selain itu, banyak kapal Jepang dipergunakan untuk kepentingan perang. Jepang melirik tambang batu bara di Bayah, Banten Selatan.

Bayah memang dikenal memiliki cadangan batu bara, meski batu bara muda berdasarkan survei yang dilakukan Belanda pada 1900. Cadangan batu bara di Bayah sekitar 20-30 juta ton. Bila dieksploitasi, Jepang memperkirakan tambang di Bayah bisa menghasilkan 300 ribu ton batu bara per tahun. Konsesi penambangan untuk kepentingan militer Jepang itu diserahkan pada perusahaan Bayah Kozan, yang modalnya ditanggung keluarga pengusaha Jepang, Sumitomo.

Untuk mengangkut batu bara ini, Jepang perlu membangun jalan kereta api sepanjang kurang lebih 89 kilometer, yang menghubungkan Gunung Madur (Bayah) ke Saketi (Pandeglang) yang sudah terhubung dengan jalan kereta api ke Jakarta. Pada awal 1943, pembangunan jalan kereta api dimulai dan selesai pada Maret 1944. Terhitung 1 April 1944, jalan kereta api ini dipergunakan untuk mengangkut batu bara sebanyak 300 ton per hari. Pembangunan jalan kereta api ini menggunakan tenaga romusha, antara lain dari Purwokerto, Purworejo, dan Madiun. Setidaknya, sekitar 30.000 pekerja membangun jalan kereta api ini. Para pekerja ini banyak yang tewas karena malaria dan kekurangan makanan.

Tan Malaka, yang memiliki 23 nama samaran, diterima di perusahaan Bayah Kozan sebagai juru tulis dengan menggunakan nama Iljas Hussein. Di sini, ia menyaksikan sendiri bagaimana nilai-nilai kemanusiaan bangsa sendiri dikoyak-koyak oleh kekejaman Jepang. (Bersambung)

Sumber: Yudi Latif, Mata Air Keteladanan

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Tan Malaka, Pendiri Bangsa yang Terlupa (1)

...
Rilis.id

26 Maret 2018 - 10:59 WIB
Historia | RILISID
...
Tan Malaka

RILISID, — Tan Malaka, sosok intelektual revolusioner yang gigih memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya bagi kaum tertindas. Ia adalah seorang Bapak Pendiri Bangsa yang tidak begitu dikenal, namun sesungguhnya merupakan orang pertama yang mencetuskan gagasan Republik Indonesia, dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang ditulis pada 1925. Buku ini mendahului tulisan Hatta berjudul “Indonesia Merdeka” (Indonesia Vrije) yang ditulis di Den Haag pada 1928, dan tulisan Bung Karno berjudul “Mencapai Indonesia Merdeka” yang ditulis pada 1933.

Lahir di Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat, (mungkin) 2 Juni 1894, nama lengkapnya Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Ibrahim adalah nama aslinya, sedangkan Tan Malaka (Datuk Sutan Malaka) adalah nama gelar semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis ibu. Seperti halnya Soerjopranoto, meskipun Tan Malaka memiliki garis keturunan bangsawan, perjalanan hidupnya diabdikan untuk memperjuangkan wong cilik dan kaum terjajah.

Setelah mempelajari ilmu agama dan menjalani sekolah dasar, pada 1908, Tan Malaka didaftarkan ke sekolah guru Kweekschool di Bukittinggi. Menurut gurunya, GH Horensma, Tan Malaka adalah murid yang pintar, meskipun kadang-kadang tidak patuh. Ia menikmati pelajaran bahasa Belanda, dan seorang pemain sepak bola yang hebat. Setelah lulus dari sekolah itu pada 1913, ia ditawari gelar datuk dan seorang gadis untuk menjadi tunangannya; namun ia hanya menerima yang pertama. Meskipun diangkat sebagai datuk, ia segera meninggalkan desanya untuk melanjutkan studi ke Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah) di negeri Belanda.

Se­lama enam tahun (1913-1919) masa studinya yang penuh penderitaan, karena sering sakit dan kesepian, ia terkesan oleh rasa percaya diri yang dimiliki keluarga kelas buruh yang menjadi pemilik rumah tempat ia tinggal di Belanda. Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai meningkat setelah membaca de Fransche Revolutie, yang diberikan oleh Horensma kepadanya sebelum keberangkatannya ke Belanda. Secara khusus, ia juga tertarik oleh keberhasilan Revolusi Rusia 1917.

Dalam penglihatannya, keberhasilan kaum buruh merebut kekuasaan dari Tsar bisa menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa yang sedang dalam belenggu penjajahan untuk lepas dari kolonialisme. Gagasan penting yang diinspirasikan dari Revolusi Oktober dalam pemikirannya adalah soal peran Massa Aksi. Menurutnya, kelompok buruh dan kaum proletar perlu mengambil peran yang lebih besar dalam jalannya pemerintahan agar mereka tidak menjadi objek dari birokrasi yang kerap bersekongkol dengan kaum kapitalis atau pemilik modal.

Ketertarikannya pada Revolusi Oktober merangsangnya untuk mulai mendalami literatur Marxisme-Sosialisme. Sebelum menyelesaikan kuliahnya, ia sempat bertemu dengan Henk Sneevliet, salah seorang pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV, pendahulu dari Partai Komunis Indonesia), dan tertarik bergabung dengan Sociaal Democratische-Onderwijzers Vereeniging (Asosiasi Demokrat Sosial Guru).        

Setelah lulus kuliah pada November 1919, ia kembali ke desanya. Tak lama kemudian, ia menerima tawaran Dr. C.W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Ia tiba di sana pada Desember 1919, dan mulai mengajar anak-anak kuli itu pada Januari 1920. Selama masa ini, ia belajar dari kemerosotan dan keterbelakangan hidup kaum pribumi di Sumatera, dan mulai menulis beberapa propaganda perlawanan kaum kuli, yang dikenal sebagai Deli Spoor.

Selain itu, ia juga berhubungan dengan ISDV dan terkadang juga menulis untuk media massa. Salah satu karya awalnya adalah “Tanah Orang Miskin”, yang menceritakan perbedaan mencolok dalam hal kekayaan antara kaum kapitalis dan pekerja.Tulisan itu dimuat di Het Vrije Woord edisi Maret 1920. Ia juga menulis mengenai penderitaan para kuli kebun teh di Sumatera Post. Tan Malaka menjadi calon anggota Volksraad dalam pemilihan tahun 1920, mewakili kaum kiri. Namun, ia memutuskan untuk mengundurkan diri pada 23 Februari 1921.

Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin komunis sejak akhir 1921, Tan Malaka berusaha keras untuk meredakan ke­tegangan-ketegangan antara para pemimpin komunis dan Islam sebelum ia kemudian ditangkap pada Maret 1922. Dari tempat pengasingan, ia terus melanjutkan perjuangan untuk merukunkan hubungan antara komunisme dan Islamisme melalui Kongres Komintern Keempat pada November 1922.

Pada kesempatan itu, ia dengan terang-terangan mengecam sikap permusuhan Komintern terhadap Pan-Islamisme, karena hal itu dia pandang sebagai cerminan kekuatan borjuis yang tak bisa dipercaya. Ia juga menekankan “potensi revolusioner dalam Islam di daerah-daerah jajahan dan kebutuhan partai-partai komunis untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok radikal Islam.” Corak pemahaman komunisme Tan Malaka, yang lebih mempertimbangkan kontekstualisasinya dengan kepentingan perjuangan nasional, membuatnya dikenal sebagai “komunis nasionalis”.

Perjuangan Tan Malaka membela kaum terjajah dan tertindas memberi inspirasi yang kuat kepada para pemimpin bangsa menjelang dan selama revolusi kemerdekaan. Hampir bersamaan dengan masuknya tentara pendudukan Jepang pada 1942, Tan Malaka pulang ke Tanah Air. Setelah tinggal sebentar di Rawajati, Jakarta Selatan, ia membutuhkan pekerjaan untuk nafkahnya. Temannya, Dr. Poerbotjaroko, pengurus Perpustakaan Gedung Arca, menyarankan untuk melamar pekerjaan di Bayah Kozan.

Bayah waktu itu merupakan pusat eksploitasi tambang batu bara. Meski menguasai pulau-pulau bekas jajahan Belanda, Jepang masih harus menghadapi pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II, termasuk di Hindia Belanda. Pasokan kebutuhan batu bara untuk Pulau Jawa, yang sebelumnya dipasok dari Sumatera, terhenti karena operasi militer pasukan Sekutu. Selain itu, banyak kapal Jepang dipergunakan untuk kepentingan perang. Jepang melirik tambang batu bara di Bayah, Banten Selatan.

Bayah memang dikenal memiliki cadangan batu bara, meski batu bara muda berdasarkan survei yang dilakukan Belanda pada 1900. Cadangan batu bara di Bayah sekitar 20-30 juta ton. Bila dieksploitasi, Jepang memperkirakan tambang di Bayah bisa menghasilkan 300 ribu ton batu bara per tahun. Konsesi penambangan untuk kepentingan militer Jepang itu diserahkan pada perusahaan Bayah Kozan, yang modalnya ditanggung keluarga pengusaha Jepang, Sumitomo.

Untuk mengangkut batu bara ini, Jepang perlu membangun jalan kereta api sepanjang kurang lebih 89 kilometer, yang menghubungkan Gunung Madur (Bayah) ke Saketi (Pandeglang) yang sudah terhubung dengan jalan kereta api ke Jakarta. Pada awal 1943, pembangunan jalan kereta api dimulai dan selesai pada Maret 1944. Terhitung 1 April 1944, jalan kereta api ini dipergunakan untuk mengangkut batu bara sebanyak 300 ton per hari. Pembangunan jalan kereta api ini menggunakan tenaga romusha, antara lain dari Purwokerto, Purworejo, dan Madiun. Setidaknya, sekitar 30.000 pekerja membangun jalan kereta api ini. Para pekerja ini banyak yang tewas karena malaria dan kekurangan makanan.

Tan Malaka, yang memiliki 23 nama samaran, diterima di perusahaan Bayah Kozan sebagai juru tulis dengan menggunakan nama Iljas Hussein. Di sini, ia menyaksikan sendiri bagaimana nilai-nilai kemanusiaan bangsa sendiri dikoyak-koyak oleh kekejaman Jepang. (Bersambung)

Sumber: Yudi Latif, Mata Air Keteladanan

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya