Ribuan Anak Lampung Barat Menderita Stunting karena Gizi Buruk
Anton Suryadi
Selasa | 14/01/2020 17.50 WIB
Ribuan Anak Lampung Barat Menderita Stunting karena Gizi Buruk
ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Anto RX

RILIS.ID, Lampung Barat – Upaya Pemerintah Kabupaten Lampung Barat (Pemkab Lambar) untuk bebas stunting atau masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan, nampaknya perlu dipertanyakan.

Berdasarkan pendataan melalui aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) per 10 Januari 2020, jumlah penderita stunting di kabupaten ini mencapai 1.002 menderita gizi buruk.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Diskes) Lambar Erna Yanti mengatakan data tersebut hanya bersifat sementara dikarenakan masih ada selisih di data sasaran dengan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin).

"Hasil verifikasi terakhir total jumlah balita yang ada di Lambar sebanyak 17.461 balita, namun menurut Pusdatin 35.000 balita,” katanya, Selasa (14/1/2020).

“Kita masih akan melakukan pemantauan status gizi dengan cara sweeping sampai ke pekon-pekon dan pemangku di seluruh wilayah Lambar untuk memastikan apakah data sudah valid atau belum," sambung Erna.

Selain sweeping, Diskes Lambar juga akan berkoordinasi dengan Disdukcapil setempat mengenai jumlah pasti balita di daerah tersebut.

Lebih jauh, Erna menjelaskan bahwa satuan kerjanya memiliki program 1.000 Hari Pertama Kelahiran yang diharapkan dapat mencegah dan menanggulangi stunting.

“Dengan intervensi sensitif, seperti akses ketersediaan air bersih, jamban sehat yang dilakukan juga kepada aparat pekon, fortifikasi bahan pangan, pendidikan gizi masyarakat, pemberian pendidikan dan pola asuh dalam keluarga, pemantapan akses dan pelayanan KB, JKN dan jaminan persalinan, pemberian edukasi kesehatan reproduksi,” paparnya.

Kemudian melakukan intervensi spesifik, yakni memberikan tablet besi folat pada ibu hamil (bumil), PMT bumil kurang energi kalori, promosi dan konseling IMD inisiasi menyusui dini dan ASI eksklusif, PMBA pemberian makanan bayi dan anak, pemantauan pertumbuhan posyandu, imunisasi, vitamin A dan pemberian taburia pada balita.

“Intervensi pendidikan ke remaja putri yang akan menjadi ibu hamil juga kita berikan. Bentuk penanganannya sendiri, untuk di bawah dua tahun masih bisa diselamatkan otaknya, tapi jika sudah lebih dari dua tahun akan susah, kemungkinan kita hanya bisa membantu fisiknya saja,” jelas Erna.

Untuk verifikasi data akan dilakukan petugas puskesmas yang mempunyai jaringan seperti pustu dan posyandu serta bidan desa.

"Kita memang ada kendala keterbatasan tenaga gizi. Di Lambar hanya ada 4 tenaga gizi dari 15 puskesmas, miris sih. Solusi dari keterbatasan itu, yakni dengan memberdayakan bidan-bidan yang ada atau tenaga kesehatan yang bukan khusus tenaga ahli gizi," ujarnya.

Penanggulangan stunting juga melibatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pekon (DPMP).

"Kami berharap setiap pekon menyisihkan sebagian anggaran untuk menanggulangi stunting," kata Kepala DPMP Lambar Yudha Setiawan.

Sementara anggota Komisi III DPRD Lambar Noviadi menambahkan temuan kasus stunting mengindikasikan bahwa petugas kesehatan telah bekerja.

"Justru kalau tidak ditemukan ada kasus stunting jadi pertanyaan, jangan-jangan petugas kesehatan tidak bekerja," ujar politisi PKS ini.

Menurut Noviadi, tingginya kasus stunting adalah hal yang positif. Karena semakin banyak kasus yang ditemukan, maka semakin banyak juga kasus yang akan dituntaskan oleh petugas.

”Sehingga ke depan kabupaten kita benar-benar terlepas dari stunting. Kami selaku wakil rakyat mendukung sepenuhnya setiap program Pemkab Lambar melalui dinas terkait untuk menuntaskan kasus ini di daerah kita," pungkasnya. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID