Tersangka Ijazah Palsu, Legislator Lambar Tidak Ditahan
Anton Suryadi
Rabu | 24/03/2021 18.07 WIB
Tersangka Ijazah Palsu, Legislator Lambar Tidak Ditahan
Anggota DPRD Lampung Barat, Sarjono. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/ Kalbi Rikardo

RILIS.ID, Lampung Barat – Anggota DPRD Lampung Barat (Lambar) Sarjono yang menjadi tersangka dugaan ijazah palsu menyandang status tahanan kota mulai Rabu (24/3/2021).

Status baru ini mengharuskan Sarjono wajib lapor ke kejari dua kali seminggu. Dia juga tidak boleh meninggalkan daerah yang menjadi tempat tinggalnya.

”Status tahanan kota ini kami berikan karena masih pandemi Covid-19,” beber Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Lambar Wisnu Hamboro.

Pertimbangan lainnya, Sarjono adalah tulang punggung keluarga dan masih aktif sebagai anggota DPRD Lambar sehingga tidak dikhawatirkan melarikan diri.

Namun sayang hingga berita diturunkan Sarjono belum dapat dikonfirmasi. Wartawan media ini berusaha menghubunginya berkali-kali, namun telepon selular yang bersangkutan tidak aktif.

Ketua DPC PPP Lampung Barat, Maspajoni, menyatakan sejak dilantik sebagai anggota dewan, Sarjono tidak pernah berkomunikasi dengan partai.

"Nomor hp (handphone) saya diblokir oleh saudara Sarjono. Artinya, dia tidak butuh dukungan partai. Pak Sarjono mungkin bisa menyelesaikan ini sendiri," kesal Maspajoni.

Dia mengaku mengetahui masalah ini dari pelapor, LSM LIPAN (Lembaga Independen Pemantau Anggaran Negara).

LSM LIPAN bahkan meminta kepada Maspajoni agar segera dilakukan pergantian antar waktu (PAW) kepada Sarjono.

”Tapi kan semua ada prosedur. Saya juga sudah menyambangi Polda dan Kejati untuk mengklarifikasi kabar tersebut. Ternyata kasusnya sudah dilimpahkan ke Kejari Lambar," jelas Maspajoni.

Sementara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP LSM LIPAN Indonesia Kabupaten Lambar, Dedi Tisna Amijaya, selaku pelapor berharap kasus tersebut mempunyai kepastian hukum.

Dedi menyatakan dirinya telah menerima surat dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Lampung tertanggal 30 September 2020.

Dalam surat Nomor: B/543/RES.1.9/IX/2020/Ditreskrimum tersebut, Sarjono dinyatakan sebagai tersangka atas tindak pindana dugaan penggunaan ijazah palsu.

Dasarnya adalah laporan polisi pada 26 September 2019 tentang tindak pidana membuat atau menggunakan ijazah paket C palsu.

”Saya tahu masalah ijazah palsu tahun 2019. Saya langsung kontak Maspajoni, agar jangan sampai dunia pendidikan tercoreng karena ijazah palsu,” paparnya.

Menurut dia, seorang anggota dewan harus punya integritas di bidang pendidikan. Bukan karena bisa beli ijazah, terus dapat seenaknya melenggang menjadi wakil rakyat.

Dedi menerangkan pihaknya membuat laporan polisi tahun 2019. Sebelumnya dia terlebih dulu mengonfirmasi kepala sekolah (kepsek) di Lampung Tengah yang mengeluarkan ijazah.

Namun, kepsek itu tidak menanggapi dengan berbagai alasan. Dedi akhirnya meminta dokumen ijazah palsu anggota dewan yang bersangkutan ke pengurus partai. Ini menjadi bahan laporannya ke polisi.

"Proses kasus ini memang panjang sejak 2019. Karena kami sebagai pelapor menginginkan bahan laporan lengkap dan bisa diproses sesuai aturan yang berlaku," ujar Dedi.

Dia meminta kasus ini menjadi pelajaran bagi siapapun. Jangan sampai ada yang berpikir sekolah itu tidak penting karena ijazah gampang dibeli. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID