Tingkatkan Produktifitas Pertanian, Kebun Agrowisata Menjadi Alternatif
kontributor kontributor
lampung@rilis.id
Jumat, 2020/09/25 18.18

RILIS.ID, ; RILISID TV - Pesawaran, Tak percuma Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona rajin main ke pusat. Hasilnya, terbitlah Surat Keputusan Menteri Kehutanan (SK Menhut) tentang pemanfaatan hutan kawasan register. ”Rabu (23/9/2020, Red) besok, SK Menhut ini terbit.

Sehingga penduduk sekitar register dapat memanfaatkan kemitraan ini selama 35 tahun,” kata Dendi, Senin (21/9/2020).

Pemkab Pesawaran sebelumnya memang menargetkan 219 SK untuk empat kawasan, yaitu register 18, 19, 20, dan 21. Luas dari keseluruhan adalah 32.853 hektare (ha). Dendi kembali menjadi pembicara dalam program Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pesawaran, bertajuk Bupati Menyapa: Diskusi Online Bersama Bupati Pesawaran.

Baca: Pesawaran Diperbolehkan Kelola Register Selama 35 Tahun

Temanya, ”Meningkatkan Produktivitas Pertanian di Era New Normal”. Selain Dendi, narasumber lain dalam acara ini adalah Kepala Dinas Pertanian Pesawaran Anca Martha Utama dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Profesor Irwan Sukri Banuwa.

Menurut Dendi, pada era New Normal ini masalah supply dan demand hasil produksi pertanian masih menjadi masalah klasik. Sampai-sampai pemerintah harus mengintervensi.

Contohnya adalah saat panen raya, melalui BUMD dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), membeli gabah kering hasil petani.

”Hal ini merupakan bentuk kerja nyata Pemkab Pesawaran dalam rangka menjaga kesejahteraan petani dan melindungi harga komoditas petani,” ungkap Dendi.

Ia karenanya berharap seluruh stake holder bahu-membahu membantu meningkatkan produktivitas petani untuk menjaga ketahanan pangan serta daya beli. Sementara, Anca berbicara soal kondisi pertanian di era new normal saat ini.

Dia berpendapat Kabupaten Pesawaran berhasil mencari alternatif dengan membuka Kebun Agrowisata Hortipark di Desa Negerisakti, Gedongtataan. Ia memberikan contoh pengelolaan agrowisata menjadi one stop destination.

Anca menyatakan petani di Wayratai telah memiliki pabrik mini pengelolaan cokelat, mulai pengelolaan mentah sampai jadi cokelat batang.

Keberhasilan ini menurutnya harus menjadi apresiasi tersendiri dan mampu mendorong daerah lain di wilayah Kabupaten Pesawaran mampu mereplikasi keberhasilan tersebut. Ia berharap keberhasilan ini bukan hanya untuk jangka pendek, tetapi juga panjang.

Pihaknya karena itu akan memfasilitasi pelatihan terhadap petani, mulai pembibitan, pemeliharaan, sampai pascapanen. Inovasi petani juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas serta mampu memanfaatkan lahan secara optimal sesuai kondisi tempat usahanya.

Terakhir, Anca berjanji memfasilitasi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk meningkatkan kapasitas dalam menangani permasalahan pertanian.

“PPL harus memiliki kemampuan dalam menanggapi permasalahan lapangan, mereka merupakan orang yang bersinggungan langsung dengan petani sehingga perlu kemampuan yang mumpuni,” ungkapnya.

Sedangkan, profesor Irwan berpendapat pertanian merupakan salah satu sektor yang mampu survive di tengah pandemi dibandingkan sektor lain. Ia mengambil contoh panen yang dilakukan agrowisata Unila baru-baru ini.

Hanya dengan lahan 0,8 hektare mampu menghasilkan 25 ton melon. Melon kemudian dijual Rp10 ribu per kilogram dan mampu menghasilkan pendapatan Rp250 juta.

”Dalam tempo 75-100 hari panen, mampu meraup untung sebesar itu dapat mengalahkan pendapatan orang-orang yang bekerja di kantoran,” kata Irwan.

Potensi ini harusnya menjadi peluang besar bukan hanya petani yang telah lama berkecimpung di dunia pertanian. Tetapi juga generasi milenial.

Berdasarkan data Pertanian Pesawaran, data panen untuk lahan padi sawah mampu menghasilkan 5,11 ton per ha dan untuk jagung 5,52 ton per ha. Menurutnya, hasil ini masih berada di bawah rata-rata panen nasional yang mencapai 5,5 ton per ha.

”Tentunya masih ada peluang besar untuk ditingkatkan lagi,” ungkapnya. Dalam closing statement, Dendi mengimbau petani berkreasi dan tidak monoton.

Memang tidak semudah membalik telapak tangan, banyak sekali permasalahan. Karenanya butuh sinergi yang baik untuk kemajuan pertanian. (*)

Laporan: Dwi Des/RILISID TV 



Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID