Ada Sendu saat Bicara Kemiskinan dan Politik, Ada Apa Ilham? - RILIS.ID
Ada Sendu saat Bicara Kemiskinan dan Politik, Ada Apa Ilham?
Gueade
Senin | 27/08/2018 08.00 WIB
Ada Sendu saat Bicara Kemiskinan dan Politik, Ada Apa Ilham?
Ilham Mendrofa. FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Bandarlampung – Setiap kali mengucap kata kemiskinan dan politik, seperti ada sendu di mata Ilham Mendrofa. Semua itu ternyata bukan tanpa alasan.

Pada 42 tahun lalu, Ilham Mendrofa lahir di Desa Olora, Gunungsitoli, Sumatera Utara.

Almarhum bapaknya, Alidar Mendrofa, adalah seorang pegawai negeri sipil yang juga petani. Sementara almarhumah bundanya, Nilam Sari Aceh, seorang ibu rumah tangga.

Ia tinggal bersama empat saudara kandungnya. Masing-masing Zul Ashfi Mendrofa, Asrul Mendrofa, Fahmi Mendrofa, dan Imran Mendrofa.

Kampungnya adalah tempat terpencil. Tidak ada listrik. Dulu, untuk bisa sampai ke Medan harus menyeberangi laut sampai 10 jam.

Ilham mengalami fase anak kecil di mana semua akses tidak ada. Untuk ke pasar naik angkutan pedesaan butuh dua jam karena jalan dan jembatan rusak. Bandingkan dengan sekarang yang hanya butuh 15 menit.

Bapaknya meski mereka hidup serba kekurangan, selalu mendoktrin anak-anaknya punya pendidikan tinggi. Biar tidak makan, harus tetap belajar. Walau perut lapar, mesti berpendidikan.

”Kami didoktrin sama seperti kita mengucap syahadat, kira-kira begitu,” kenang founder rilislampung.id dalam acara Rilis Corner di markas media ini, Jumat (24/8/2018).

Ilham bersyukur dalam proses kehidupannya, dia lolos dari lubang jarum itu. Perjalanan takdir akhirnya justru membuatnya berjarak dengan kemiskinan. Hidup di Jakata, berkarir, dikelilingi profesional, sampai keliling mancanegara.

”Sehingga kata-kata miskin, fakir hanya menjadi bacaan, suara yang sayup-sayup terdengar. Sampai akhirnya saya temukan kata-kata itu menjadi objek yang saya rasakan sendiri. Tidur di kampung tanpa listrik, mandi di kali. Bukan cerita novel, saya benar-benar mengalaminya,” paparnya.

Kalaupun tadinya ada niat dia menjadi calon legislatif (caleg) DPR RI sepersekian persen untuk berkuasa, maka ketika itulah semuanya luluh lantak. Ia ikhlas kalah.

”Saya punya masa lalu yang satu frekuensi dengan warga yang saya kunjungi di Register 47. Saya tidak punya cara lain untuk membalasnya. Selain bersama mereka untuk berjuang,” tekadnya (baca: Perjalanan Mendrofa dan Sepotong Ironi di Kebun Tebu).

Soal politik adalah hal yang sedikit berbeda. Dalam setiap pertemuannya dengan warga dan berdialog, selalu ada kata yang sama dalam setiap diskusi. Yaitu kecewa.

”Saya juga bingung apa hubungan kata kecewa ini dengan politik?” tukasnya.

Akhirnya dia sampai pada kesimpulan, tradisi politik yang lahir dalam beberapa tahun terakhir membuat warga kecewa. Kata ini diproduksi oleh mereka sendiri karena kegagalan parpol dan kandidat.

”Bayangkan dalam proses kampanye, mereka mendaki gunung harapan dan ketika sampai puncak mereka disuguhi kekecewaan, bertemu jarak antara keinginan dan apa yang terjadi,” amsal Bendahara Umum Ikatan Alumni Universitas Lampung 2017-2019 itu.

Darisanalah lahir program Konco Sekelik. Ini merupakan jawaban dari kekecewaan itu. Sebuah program pendampingan untuk memastikan agar kelompok petani terpilih binaannya menjalani proses budidaya yang baik sampai panen.

”Dalam jangka panjang ini menjadi komunitas untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka,” tutupnya. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID