AJI Kecam Dugaan Kekerasan dan Intervensi pada Jurnalis Teknokra
lampung@rilis.id
Minggu | 14/04/2019 16.17 WIB
AJI Kecam Dugaan Kekerasan dan Intervensi pada Jurnalis Teknokra
ILUSTRASI: AJI.OR.ID

RILIS.ID, Bandarlampung – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung mengecam dugaan kekerasan dan intimidasi yang diduga dilakukan beberapa oknum mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) terhadap jurnalis mahasiswa Teknokra, Alfany Pratama.  

Tindakan kekerasan dan intimidasi hingga intervensi ini terjadi saat Alfany hendak mengonfirmasi pemilik mobil bergambar salah satu pasangan capres-cawapres, yang terpakir di sekitar FH Unila, Sabtu (13/4/2019).

Saat kejadian di FH Unila sedang berlangsung seminar nasional dengan tema Pemilu Serentak: Potensi Ledakan Sengketa dan Konflik Pasca Pemilu. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Mahkamah Konstitusi dan perwakilan KPU serta Bawaslu.

Awalnya beredar informasi di media sosial (medsos) yang menyebut ada mobil bergambar salah satu pasangan capres-cawapres terpakir di sekitar FH Unila. Jurnalis Teknokra, Mitha Setiani Asih, ke lokasi untuk memastikan informasi.  

Mitha kemudian memfoto mobil tersebut dan mewawancarai mahasiswa serta satpam. Namun saat mengetik berita, ponsel Mitha habis baterai sehingga dia ke indekos di Kampung Baru untuk mengisi ulang. Alfany kemudian menggantikan Mitha ke FH untuk mendapatkan konfirmasi kepada pemilik kendaraan agar berita lebih berimbang.

Alfany juga mewawancarai salah satu panitia seminar yang berupaya menutup gambar capres pada mobil tersebut dengan koran.

Saat menunggu di dekat halaman parkir gedung dekanat FH Unila, Alfany ditelepon oleh nomor tidak dikenal dan menanyakan keberadaannya. Alfanny menjawab di gazebo FH. Tiba-tiba datang empat mahasiswa FH Unila  menghampiri Alfanny. 

Mahasiswa tersebut langsung memegang Alfany sembari menanyakan maksud Teknokra menerbitkan breaking news di Instagram berjudul, ”Satu Unit Mobil Berstiker Salah Satu Pasangan Capres Terparkir di FH”.

Salah seorang mahasiswa sempat memegang leher Alfany dan mahasiswa lain menyampaikan, ”Saya nggak suka gaya kamu nerbitkan berita gitu."  

Alfany terus merekam aksi mahasiswa yang mendekati dirinya untuk mencegah kekerasan fisik lebih parah. Seorang satpam kemudian membantu melerai dan membawa ke dalam gedung dekanat FH didampingi dosen. 

Dosen juga menanyakan mengapa berita itu bisa terbit. Alfany sempat mengaktifkan video ponsel untuk berjaga-jaga, tapi diminta untuk dimatikan.

Dosen dan mahasiwa menanyakan identitas Alfany, KTP, dan kartu pers. Namun, Alfany mengaku semua identitasnya ada di sekret Teknokra yang tidak jauh dari gedung FH.

Akhirnya  dosen dan mahasiswa FH bersama Alfanny ke sekretariat Teknokra. Alfanny menyerahkan kartu pers Teknokra, tapi tidak dengan KTM.

Mereka agaknya ingin memastikan bahwa Alfany adalah mahasiswa Unila.  Jurnalis Teknokra Mitha kemudian datang ke sekretariat Teknokra. Mitha juga diminta menunjuukan kartu pers dan KTM.  Mereka kemudian memfoto KTM dan kertu pers tersebut.

Setelah jurnalis Teknokra berembuk dengan mahasiswa FH,  kedua belah pihak sepakat saling meminta maaf. Namun, mahasiswa FH tetap mencoba mengintervensi agar breaking news tersebut dicabut. Namun, jurnalis Teknokra menolak.

Dengan Kejadian ini, AJI mengecam oknum mahasiswa FH Unila yang diduga melakukan kekerasan dan intervensi kepada jurnalis Teknokra.

Ketua AJI Bandarlampung Padli Ramdan menilai tindakan memegangi leher disertai upaya intimidasi merupakan kekerasan terhadap aktivitas wartawan dan melanggar kebebasan pers.

Menurut Padli, desakan untuk menghapus berita adalah bentuk intervensi kepada media dan melanggar Pasal 4 ayat 2 UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Isinya, pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran.

Upaya menghalang-halangi kerja jurnalistik, mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan berita serta penyensoran merupakan tindakan pidana.

Padli menegaskan aktivitas pers mahasiswa merupakan bagian dari kebebasan berpendapat dan berekspresi sehingga dilindungi UU.

Setiap upaya menghalangi kebebasan pers dan kekerasan terhadap jurnalis harus dilawan dan pelaku perlu diberi sanksi tegas sehingga tidak terjadi lagi pada kemudian hari.

”Selama pers mahasiswa patuh pada kode etik jurnalistik dan semua karya jurnalistiknya bisa dipertanggungjawabkan, maka aktivitas jurnalis kampus sah dan bagian dari kebebasan pers,” kata Padli dalam rilisnya, Minggu (14/4/2019).

Setiap orang yang merasa dirugikan dengan pemberitaan media, kata Padli, bisa menempuh cara-cara yang diatur dalam UU pers. Misalnya, menyampaikan hak jawab atau hak koreksi yang nantinya bisa dimuat pada media yang bersangkutan. Cara-cara kekerasan, apa lagi di lingkungan kampus, sangat tidak dibenarkan.

Padli menambahkan civitas akademika Unila harus mendukung kebebasan pers yang dijamin oleh UU. Cara-cara kekerasan dan intimidasi bukanlah budaya akademik di lingkungan kampus sehingga perlu ada teguran hingga sanksi terhadap oknum mahasiswa yang melakukan tindakan tersebut. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID