Bahagia dengan Memaafkan
lampung@rilis.id
Minggu | 02/05/2021 12.20 WIB
Bahagia dengan Memaafkan
Oleh: Wasril Purnawan (Aparatur Sipil Negara)

"Kegiatan paling melelahkan adalah mengurus kebencian,". Demikian refleksi mendiang Prie GS yang sempat diabadikan para penggemarnya dalam sebuah desain kaos.

Tak satu agama atau aliran kepercayaan apapun yang mengajarkan tentang kebencian. Tapi tak sedikit orang beragama yang terbelenggu karena terus memeluk rasa benci.

"Sampai khapas mak nyak haga ngemahapkoni !" (sampai mati saya tak akan sudi memaafkannya). 

Begitu sumpah seorang perempuan yang tak pernah mampu menaklukan kebencian pada sosok lelaki yang telah melukainya begitu dalam.

Dan benar, ketika berita tentang kematian mantan suaminya ia terima, tak sedikitpun rona kesedihan tampak di wajahnya. Ia seperti telah mengubur semua kenangan manis masa-masa pernikahan yang hanya seusia jagung. 

Luka karena ditinggalkan tanpa kabar saat sedang hamil tua, melahirkan hingga membesarkan anak, sementara ia lenyap tak diketahui rimbanya. Luka itu terus menganga tak kunjung sembuh. Bahkan saat lelaki yang menjadi objek kebenciannya itu telah mati ditelan semesta.

Ini hanyalah satu dari jutaan cerita tentang kristal kebencian yang tak mampu dilumerkan karena pengalaman yang teramat traumatik. Bahkan jika ada yang coba-coba menasehati, jawabannya selalu sama: "kamu bisa ngomong begitu, karena kamu nggak mengalaminya,”.

Membenci dengan alasan yang jelas semacam ini masih dapat dimaklumi. Bandingkan dengan kebencian era 4.0! Lebih parah lagi!  

Orang dapat ikut-ikutan membenci tanpa benar-benar tahu alasan kenapa benci. Hanya karena orang lain benci, maka cukup alasan untuk ikut membenci. Setiap saat manusia zaman now rentan terancam virus kebencian. Postingan bernada hate speech  yang lalu lalang di layar gawai melalui ragam platform medsos jika tak hati-hati kerap kali menjerumuskan kita menjadi sang pembenci.

Sungguh absurd bukan?

Tak terhitung energi yang terkuras untuk mengurus kebencian dan dendam. Saya pernah mengalami langsung. Betapa menderitanya dibelenggu rasa ini hingga belasan tahun. 

Malam itu, sepekan menjelang keberangkatan haji saya bersama istri pada tahun 2012, saya ceritakan kepadanya tentang tiga ganjalan perasaan yang cukup mengganggu. Dua persoalan menyangkut piutang cukup besar dengan teman yang membuat saya tak berhenti berharap dan sisanya terkait dendam dan kebencian pada seseorang. 

Sambil duduk di teras depan rumah saya membuka obrolan.

“Dek, gimana kalau kita ikhlaskan saja utang-utang itu,” usul saya kepadanya.

Seperti yang saya duga, ia nyolot dengan nada tinggi. "Itu kan bukan uang kecil. Giliran minjemin ke orang, nggak bilang-bilang, pas begini baru ngomong. Pokoknya aku nggak setuju!” jawabnya. 

Kendati demikian, setelah melalui obrolan panjang, malam itu saya berhasil mengajaknya untuk menyetujui proyek hati terkait dengan piutang yang sebenarnya sangat mungkin menagihnya. Hanya butuh alasan sederhana untuk menganggapnya lunas. Yakni berhenti berharap seraya bertanya nikmat mana lagi yang kau dustakan? Mengingatnya hanya membuat kesyukuran terhadap apa yang telah diterima menjadi tak sempurna. 

Dengan Bismillah, malam itu juga saya telepon kedua orang tersebut seraya mendeklarasikan bahwa saya telah menganggapnya impas. Malam bersejarah di mana secara rela saya memilih bahagia dengan mengikhlaskannya.

Tetapi tidak dengan dendam dan kebencian itu. Saya tak kunjung mampu memaafkan. Gemuruh di dada dan detak jantung yang mengencang selalu saya rasakan setiap kali mengingat peristiwa itu. Kadang ia muncul saat di kesendirian. Ketika mengendarai mobil atau saat duduk di keheningan. 

Tak jarang secara reflek saya tiba-tiba mengumpat keras seraya melepaskan kesumat itu. Yang lebih unik, kadang saya melampiaskannya dengan menjerit kencang seraya membenamkan kepala di bak air mandi.

Tak jarang ingatan itu juga muncul saat di keramaian. Suhu tubuh terasa memanas seketika. Entah berapa ratus kali sensasi rasa sedemikian itu saya pelihara. Hingga satu masa, entah kapan persisnya rasa itu berangsur-angsur mereda. Sayup-sayup suara lirih di alam bawah sadar saya mengingatkan: "Apa untungnya membalas?”

Sejak saat itu saya merasa sudah selesai dengan urusan ini. Sampai suatu malam dalam obrolan panjang di teras rumah, saudara sulung saya mengingatkan bahwa saya belum benar-benar menuntaskannya. Menurutnya, saya belum closing rasa ini dengan cara mendeklarasikan pada yang bersangkutan, sebagaimana saya mendeklarasikan pemutihan piutang dahulu. 

Deklarasi dalam hal ini menjadi semacam cara melampaui rasa. Sebagaimana jika sedang sakit gigi, setiap hendak salat selalu dihantui kecemasan. Cemas membayangkan rasa sakit dan linu sejak dari berkumur saat berwudu hingga memulai aneka gerakan salat terlebih ketika sujud. Dan semakin dihindari rasa linu itu semakin menjadi jadi. 

Sekali waktu saya coba mengabaikan rasa linu tersebut dengan sengaja sujud berlama-lama. Saya berusaha meresapi setiap irama denyutan linu yang bergerak perlahan melewati skala rasa sakit dari yang rendah hingga mentok menyentuh level paling tinggi. Ajaibnya setelah melampaui sensasi puncak linu itu, berangsur-angsur denyutan sakit itu sirna seolah tak merasakan apa-apa lagi. 

Begitulah Nelson Mandela melampaui rasa sakit atas segala tindakan aniaya para sipir selama ia di penjara dengan mendeklarasikan pemaafannya. Saat terpilih sebagai Presiden, alih-alih membalas para sipir yang telah menganiayanya, ia malah mengundang mereka sebagai tamu kehormatan di hari pelantikannya. Sikap ini pada akhirnya mendorong terjadinya rekonsiliasi rasial dan penghapusan pengaruh apartheid. 

Terlebih jika menelisik beragam teladan perilaku maaf Rasulullah. Salah satunya yang ditunjukan dalam pemaafannya kepada penduduk Thaif yang telah mencemooh bahkan melukai kaki beliau dengan lemparan batu. Hingga Jibril berseru: jika engkau berkenan, niscaya aku perintahkan malaikat penjaga gunung Abu Qubais agar menimpakannya kepada penduduk Thaif. 

Alih-alih menerima tawaran tersebut untuk membalas perbuatan mereka, sang uswatun hasanah justru memilih mendoakan agar kelak anak cucu para penghinanya bisa beriman kepada Allah.

Semoga Allah anugerahkan kelapangan hati kepada kita untuk membuka pintu maaf seluas-luasnya kepada sesama sebagaimana teladan Rasulullah dan pesan Alquran Surat Ali-imron ayat 133-134. Wallahu a’lam.(*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID