Berharap Semua Suka? Percuma!
lampung@rilis.id
Selasa | 22/12/2020 06.00 WIB
Berharap Semua Suka? Percuma!
Oleh: Wasril Purnawan (Kabag Tata Usaha Kanwil Kemenag Lampung)

”Saya capek paaak!!! Bapak tau gak? Saya tadi barusan nganter jamaah ke Rumah Sakit! Melayani yang lain-lain juga!”

Emosi si dokter sudah mentok di ubun-ubun. Tak terima disalahkan terus. Ia meradang, mendamprat siapa pun yang ada di hadapannya. Kesan kalem yang selama ini saya tangkap dari sosoknya, tiba-tiba sirna seketika.

Potongan fragmen itu terjadi pada musim haji lima tahun lalu. Tepat di ruang depan bagian kamar yang disulap menjadi ruang layanan di salah satu hotel tak jauh dari Masjid Nabawi.

Kala itu, saya bersama seorang dokter, dua paramedis, dan seorang pembimbing ibadah tengah melaksanakan misi pelayanan terhadap 450 jamaah haji.

Sungguh tak mudah memimpin pasukan sebesar itu. Lima petugas harus melayani hampir semua urusan. Dari yang paling serius hingga yang kecil dan remeh-temeh. Dari merespons pertanyaan sekitar rukun, wajib, dan sunah haji hingga rengekan sepasang pengantin baru yang minta kamar khusus supaya leluasa sunnah rasul.

Setelah suasana reda, saya mendekatinya. Tentu setelah memastikannya tak bakal lanjut melabrak saya. Beruntung, dulu pernah nyantri psikologi langsung dari mendiang Prof. Sarlito Wirawan Sarwono. Sekadar mendeteksi hal-hal semacam ini, dikit-dikit bisa lah.

”Dok, apa perlu membela diri seperti tadi?” tanya saya pelan.

”Percuma kita jelasin kepada semua orang bahwa kita gak salah. Bikin capek saja,” lanjut saya bak Guru BK yang sedang menasehati siswanya.

Dari 450 jamaah, memang ada tipikal yang gampang nyolot dan menyalahkan petugas karena dianggap tak cukup siaga. Lebih-lebih mereka yang merasa punya status sosial di atas rata-rata.  Hanya karena pas mereka butuh, petugasnya nggak ada, lantas meradang seolah petugas tidak bekerja. Celakanya ada anggapan para petugas yang lima orang tersebut dibayar melalui ongkos haji mereka. Anggapan salah tersebut membuat mereka tambah jumawa.

Tapi saya yakin, itu semua karena ketidaktahuan belaka. Justru, karena saking siaganya, saat itu kami semua berada di luar. Dua mengantar jamaah emergency ke rumah sakit, dua lainnya sedang berkeliling memeriksa beberapa jamaah lanjut usia yang butuh pertolongan. Saya sendiri selaku ketua sedang menyampaikan laporan kondisi jamaah ke petugas sektor.

Alih-alih ngotot membela diri –sesuatu yang melelahkan- saya mengajak tim untuk belajar mengabaikan ala Gus Dur: ”begitu saja kok repot!”.

Belum genap seminggu dalam misi ini, masih ada beberapa minggu ke depan, dengan medan yang jauh lebih sulit dan membutuhkan kesabaran tingkat dewa.

Kalau tidak mulai membiasakan dengan jurus Gus Dur ini, khawatir misi mulia itu akan terasa menyesakkan. Rumus gampangnya, selama urusannya dengan manusia, risiko terbesarnya adalah disalahpahami. Hanya Tuhan yang tak pernah salah paham. Se sederhana itu resepnya.

Jauh tujuh abad yang lampau, Ibnu Atha’illah Al-Sakandari penulis Al-Hikam kitab tasawuf yang menjadi rujukan utama tarekat Al-Syadziliyah telah mengingatkan, manusia itu lagi baiknya saja masih dianggap salah, apalagi kalau salah.

”Maka, jangan pernah berharap semua manusia ridha, karena itu sesuatu yang mustahil!” begitu petuah Imam As-Syafi’i.

Menjadi waras model ini butuh upaya dan tapa. Tak jarang justru hasrat membela diri yang kerap muncul. Alih-alih terus fokus melakukan hal-hal benar yang diyakini, malah sibuk menjaga citra agar selalu dipandang baik.

Celakanya, tak sedikit yang terjebak pada politik pencitraan. Seolah semua kebaikan harus dimaklumatkan. Tak jarang, sesuatu yang sepatutnya menjadi area privat -cukup kita dan Tuhan saja yang tahu- juga ikut diumbar. Rasanya nggak marem, kalau nggak semua orang tahu. Dan media sosial ikut menyuburkan prilaku itu.

Betapa sering status WhatsApp, postingan Facebook dan akun medsos lainnya cuma menjadi ajang penelanjangan area privat yang seharusnya dijaga. Bahkan, tak kalah bahayanya, jejak kebaikan yang semula telah tercatat rapi karena dilakukan dalam senyap tanpa pamrih seketika rontok. Luruh terhapus dari catatan amal kerena tak cermat menjaga jari.

Di era disrupsi ini, jari sebagaimana mulut adalah dua atribut yang harus senantiasa  diperiksa. Melalaikannya berarti rela terjerambab dalam kebangkrutan.

Tentang ini, ada baiknya kita belajar dari kearifan masa lalu. Karena praktik pamer tentu adalah masalah klasik yang sudah ada sejak zaman dahulu. Cuma bedanya tidak semudah dan se-massif zaman medsos ini.

Sebelas abad yang silam, demi menjaga kemurnian hati, muncul sekelompok orang yang berprilaku tak lazim. Alih-alih memamerkan kebaikan, mereka sengaja menampakkan perbuatan-perbuatan yang jelek di hadapan manusia, agar orang lain mencelanya.

”Peduli apa dengan penilaian manusia, biarlah penilaian mutlak urusan Tuhan,” demikian keyakinan mereka.

Lelaku demikian biasa diperlihatkan oleh penganut suluk Malamatiyah. Nama yang berasal dari kata ”malamah” yang artinya celaan. Melawan ego dan mengikis rasa sombong adalah ciri utama pencapaian penganut suluk ini.(*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID