Bursa Ketua PWI Lampung, Murid Dahlan Iskan Bertekad Maju
Gueade
Sabtu | 24/04/2021 07.09 WIB
Bursa Ketua PWI Lampung, Murid Dahlan Iskan Bertekad Maju
Wirahadikusumah. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/ Kalbi Rikardo

RILIS.ID, Bandarlampung – Bursa pemilihan ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung makin panas. Ada beberapa nama yang berpeluang menggantikan pemimpinnya saat ini, Supriyadi Alfian.

Sebagian memang masih malu-malu. Namun ada juga yang terang-terangan. Sebut saja Sekretaris PWI Lampung Nizwar yang dalam beberapa kesempatan blak-blakan menyatakan kesiapannya.

Tak ketinggalan, Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Lampung Wirahadikusumah yang juga Direktur Utama Rilisid Lampung.

Wira –sapaan akrabnya, menegaskan tekadnya untuk menjadi calon ketua PWI Lampung dalam buka bersama Rilisid Lampung di Batiqa Hotel Lampung, Jumat (23/4/2021).

Ada empat alasan mengapa Wira tertarik meramaikan pemilihan ketua PWI dalam Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI yang dilaksanakan Oktober 2021.

Pertama, PWI sebagai organisasi wartawan yang besar dan tertua sejak 1946, banyak melahirkan wartawan-wartawan hebat. Di sini, PWI sudah memiliki sistem yang baik untuk meningkatkan kapasitas wartawan dalam hal pendidikan jurnalistik.

Wira menginginkan wartawan PWI benar-benar kompeten dan multitasking. Tidak hanya bisa menulis, tapi juga mampu memfoto dan membuat video. Bahkan, memanajemeni media sosial (medsos).

”Sebenarnya, ini sudah saya lakukan. Sebab, jika ada sepuluh program PWI, sembilannya itu pasti soal pendidikan wartawan,” paparnya.

Kedua, menjadikan kantor PWI Lampung sebagai pusat studi jurnalistik. Tidak hanya untuk anggotanya, tapi juga masyarakat.

PWI menurutnya bisa berbagi informasi maupun ilmu jurnalistik kepada pejabat urusan informasi, humas pemerintahan, atau humas penegak hukum di provinsi ini.

Ketiga, Wira menginginkan wartawan menjadi clearing house untuk menangkal hoaks yang menderas di era keterbukaan informasi seperti sekarang.

”Solusinya wartawan harus membuat informasi yang akurat. Nah, di sini PWI harus mampu memberi pemahaman pada anggotanya untuk menghasilkan produk jurnalistik yang baik,” bebernya.

Menurut dia, PWI harus menjadi contoh bagi organisasi profesi lainnya. Demikian juga anggotanya. Program kerja di daerah juga bersinergi dengan provinsi.

”Jangan sampai anggota PWI dikeluhkan masyarakat. PWI harus beda, menjunjung tinggi profesionalitas. Pedomannya PD/PRT (Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga) PWI yang menurut saya sangat mulia,” imbuhnya.

Untuk menampung keluhan prihal perilaku oknum wartawan nakal, PWI harus membuka saluran pengaduan. Masyarakat berhak melaporkan yang kemudian akan ditindaklanjuti dengan investigasi internal di PWI. Jika terbukti, status keanggotaan PWI-nya dicabut.

Keempat, majunya Wira lantaran dukungan dari sesama anggota PWI, maupun legislator dan akademisi. Banyak yang meneleponnya maupun menemuinya secara langsung. Sehingga klop, ada niat banyak juga yang men-support.

Perihal menang atau kalah, bagi Wira itu bukan yang utama. Sebab, dia memandang pemilihan ini bukan kompetisi. Siapa pun yang nanti terpilih sebenarnya sama saja. Semua pasti punya visi untuk memajukan PWI.

"Mereka yang maju orang baik semua. Pastinya, jangan sampai karena tidak mendukung saya, malah memutus silaturahmi. Lebih baik saya urungkan niat untuk maju sebagai Ketua PWI Lampung kalau seperti itu jadinya. Ini kan hanya memilih pemimpin dalam keluarga besar. Ketua juga esensinya adalah anggota. Tidak mungkin juga ketua itu bekerja sendirian," paparnya.

Karir Jurnalistik
Wira masuk PWI sejak 2009 dengan status anggota muda. Ia memulai karir dengan mengikuti Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI) PWI pertama kali di Lampung tahun 2011.

SJI ini memang dikhususkan untuk pendidikan anggota muda PWI selama dua hari. Pematerinya tokoh pers kaliber seperti Marah Sakti Siregar, Uni Lubis, dan Hendry ch Bangun.

Pasca-SJI, Wira menempuh Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk jenjang wartawan muda pada 2011.

Lulus UKW, dia sah menjadi anggota biasa dan masuk struktur kepengurusan bidang advokasi dan hukum PWI Lampung periode 2011-2016.

Ketika itu, Wira masih bekerja di Radar Lampung, salah satu media mainstream di provinsi ini sebagai redaktur halaman Metropolis --yang khusus menyajikan berita-berita di Bandarlampung.

Pada Desember 2014, ia menjadi murid jurnalis kawakan Dahlan Iskan (DI) di Graha Pena Jakarta selama 10 hari. Tidak ada pemateri lain dalam pelatihan untuk pemimpin redaksi (pemred) ini. Hanya DI.

Di sinilah, dia sempat ’membohongi’ DI lantaran sudah jauh-jauh dari Lampung namun malah diminta pulang. Sebab, pelatihan khusus untuk pemred. Sementara, Wira masih menjadi redaktur.

Selain itu, kurikulum pelatihan sebenarnya untuk koran yang punya spesifikasi khusus. Seperti fokus pada pemberitaan kriminal, bisnis, atau politik. Tidak untuk koran umum seperti Radar Lampung.

Namun, Wira nekat beralasan Radar Lampung bakal mendirikan koran baru khusus kriminal. Dengan dalih ini, ia berhasil masuk kelas eksklusif ini.

”Padahal, sampai sekarang pun koran khusus kriminal ini tidak ada,” kenang Wira, Sabtu (24/4/2021).

Pada 2015, Wira dikirim ke Jawa Pos untuk pelatihan redaktur selama sepekan. Yang mendidik para panglima Jawa Pos, dengan posisi redaktur pelaksana ke atas.

Ada Leak Kustiya yang saat itu Direktur Jawa Pos, Nur Wahid (pemred) dan Abdurrohim (wakil pemred).

Pelatihan level nasional ini kemudian membawa Wira pada 1 Februari 2016 resmi sebagai pemred Radar Lampung. Dan, lantaran Ingin fokus pada keredaksian, Wira memutuskan tidak masuk kepengurusan PWI pada 2016-2021.

Saat menjadi Pemred Radar Lampung itulah ia sempat mengikuti UKW untuk kategori Utama yang diadakan PWI Lampung bersama PWI Lampung Utara di Kotabumi. 

Karirnya di Radar Lampung semakin moncer hingga Juni 2017, ia merangkap jabatan sebagai deputy general manager yang membawahi divisi pemasaran dan redaksi.

Pada Juli 2018, Wira kemudian memutuskan ke luar dari zona nyaman. Ia resign dari Radar Lampung.

Pada April 2019, Wira hijrah ke Rilisid Lampung. Tak tanggung-tanggung, ia langsung menempati posisi sebagai direktur utama sampai sekarang.

Tak lama kemudian, pada Agustus 2019, Dahlan Iskan menghubunginya menawarkan posisi sebagai redaktur jarak jauh di calon koran bernama Harian Disway.

”Sehari kemudian, Abah (panggilan Dahlan Iskan, Red) menelepon lagi, dan meminta saya menjadi pemred,” ujar Wira.

Tapi, Wira saat itu merasa berat karena syarat menjadi pemred harus tinggal di Surabaya. Sementara, anak dan istrinya berada di Lampung.

Akhirnya DI memberikan jalan tengah. Sambil menunggu persiapan koran Harian Disway Wira diminta menulis di rubrikasi ’Disway Viral’ di disway.id.

Penulis di disway.id ini hanya ada tiga orang. Yakni Dahlan Iskan dan anaknya, Azrul Ananda, serta Wira. Di sini, Wira mengisi rubrikasi Disway Viral sampai Desember 2019.

”Saya menerima karena ingin menimba ilmu jurnalistik dari Abah. Setiap hari, saya pasti berhubungan dengan beliau. Dari teleponan sampai WhatsApp-an dengan Abah,” terang Wira.

Pada tahun itu juga Wira memutuskan kembali aktif di PWI. Bertepatan, reshuffle kepengurusan PWI Lampung untuk penyegaran. Ia diamanahkan sebagai wakil ketua bidang pendidikan sampai sekarang.

Ia pernah menggarap beberapa even berkelas PWI Lampung. Salah satunya pada akhir Desember 2019 juga, menjadi ketua umum pelaksana Pekan Tjindar Boemi.

Lalu, tepat pada awal Januari 2020 sampai saat ini, Wira fokus membangun Rilisid Lampung dan mengembangkan koran Rilisid Lampung. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID