Celetukan Anak Senior
lampung@rilis.id
Selasa | 02/02/2021 14.10 WIB
Celetukan Anak Senior
Oleh: Wirahadikusumah

Raut gembira menyelimuti wajah crew Rilisid Lampung, Senin (1/2/2021). Sebab, pagi itu media massa ini berulang tahun yang ke-3.

Suasana kian ceria ketika beberapa tamu berdatangan. Termasuk kiriman kue dari mitra Rilisid Lampung. Juga silih berganti berdatangan.

Pagi itu, Tim Rilisid Lampung juga sudah menyiapkan nasi tumpeng. Untuk di makan bersama. 

Namun, beberapa menit acara bakal dimulai, salah satu tamu yang datang memberikan saran. 

Tamu itu bernama Fahuri Wherlian Ali KM. Pria yang akrab kami sapa Bang Wherly itu adalah seorang ASN. Yang juga owner Warta Coffee.  

Ia selama ini memang sangat akrab dengan crew Rilisid Lampung. Terlebih dengan saya. Sebab, Bang Wherly adalah senior saya di Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Lalu apa sarannya?

”Di koran hari ini gua liat ada foto Bang Een –Hendarmin-. Potongan tumpeng pertama harusnya diberikan kepada keluarganya,” saran Bang Wherly.

Saya, Ade Yunarso (Pemred Rilisid Lampung), Segan Petrus Simanjuntak (Pimpinan Perusahaan Rilisid Lampung), sontak tersentak. 

Kala itu, mata kami saling berpandangan. Seakan menandakan setuju atas saran itu.

Kami selama ini memang sangat menghormati sekali sosok almarhum Bang Een. Yang sangat berjasa dalam perjalanan Rilisid Lampung. Hingga sampai saat ini. 

Saya lantas berinisiatif. Langsung menghubungi Mba Eva -istri Bang Een-. Melalui telepon saya pun memintanya untuk membawa dua putranya: Bima dan Dana.

Alhasil, acara potong tumpeng pun diundur. Sebab, Mba Eva baru bisa datang pukul 13.00 WIB. Dia pun menyatakan akan datang sendiri. Dan menolak dijemput tim Rilisid Lampung. 

”Bada zuhur ya kami ke sana,” kata Mba Eva.

Usai menunggu beberapa jam, akhirnya Mba Eva dan dua putranya tiba. Kami langsung membawanya ke lantai dua. Ke ruang meeting. 

Ruang itu di pintunya tertempel wajah Bang Een. Dan tertulis ”Ruang Hendarmin Corner”. 

Kami memberi nama ruangan tersebut sebagai bentuk dedikasi kepada Bang Een. Yang jasanya kepada Rilisid Lampung tak terhingga. Sosok senior, teman, sahabat, yang selalu men-support kami. Semasa ia masih hidup.

Kehadiran keluarga Bang Een di Rilisid Lampung siang itu seakan mengingatkan kami kembali. Akan kenangan bersama Bang Een. Serasa ia kembali hadir di sekitar kami. Sebab, saat datang ke kantor Rilisid Lampung, Bang Een sering membawa dua putranya.

Saat akan masuk ke ruang Hendarmin Corner, hati saya pun kembali tersentak. Penyebabnya Dana, putra bungsu Bang Een berceletuk. Di saat ia melihat wajah ayahnya (Bang Een) terpampang di pintu ruang meeting tersebut.

”Ini ruangan ayah ya,” celetuk bocah kelas 4 SD itu polos.

Saat itu, saya terdiam. Pun yang lainnya. Saya yakin, semuanya sedang mengenang sosok Bang Een. Hingga akhirnya, Mba Eva dan dua anaknya duduk di ruangan itu bersama kami.

Sebelum acara memotong tumpeng dimulai, saya menyampaikan sambutan. Namun, kehadiran keluarga Bang Een membuat saya tak konsentrasi. 

Bahkan di pertengahan sambutan, saya sempat berhenti berbicara. Karena tak kuasa menahan air mata. Saya terkenang kembali masa-masa bersama Bang Een. 

Berlembar-lembar tisu saya usapkan ke wajah. Untuk mengelap air mata. Intinya saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Mba Eva dan dua putranya. Yang menghidupkan kembali kenangan terhadap Bang Een. Sosok senior yang di mata saya tanpa cela.   

Usai mengakhiri sambutan, saya pun memberikan kesempatan kepada Ade Yunarso. Juga untuk menyampaikan sambutannya. 

Apa yang saya rasakan, juga dirasakan Mas Ade- sapan akrab saya kepada Ade Yunarso-. Ia pun sempat berhenti beberapa kali saat menyampaikan sambutan. Matanya pun terlihat memerah. Menahan tangis lantaran mengenang sosok Bang Een. 

Mas Ade pun sempat meminta kepada kami untuk mendoakan Bang Een. Agar Allah SWT menempatkannya di Jannah-nya.

Usai Mas Ade sambutan, saya kembali memberikan kesempatan kepada Segan Petrus Simanjuntak.

Segan pun sama. Tak mampu menahan tangis. Bahkan, ia berkali-kali harus mengambil berlembar-lembar tisu di meja. Untuk mengelap air mata dan ingusnya yang mengalir deras. Sambil menangis sesenggukan, ia menyampaikan kenangannya terhadap Bang Een

Saya tahu, Segan begitu karena merasa sangat dekat sekali dengan Bang Een. Wajar. Itu karena Bang Een adalah seniornya langsung di Fakultas Hukum, Universitas Lampung.

Saya pun sempat melirik Mba Eva. Yang duduk berseberangan dengan saya. Dia pun terlihat menangis. Saya yakin, dia sangat bangga dengan sosok suaminya. Yang banyak dikenang orang sebagai orang baik.

Pun putranya Bima. Yang saya lihat juga meneteskan air mata. Wajar, ia sudah cukup dewasa untuk merasakan kesedihan. Sebab, ia sudah duduk di bangku kelas 2 SMP. 

Sementara adiknya Dana, terlihat termangu saja. Wajahnya terlihat kebingungan. Mungkin ia merasa heran, mengapa suasana yang biasanya ceria dalam merayakan ulang tahun, malah menjadi mengharu biru.

Pastinya, kami sangat bangga mengenal sosok Bang Een. Yang mengajarkan kami bagaimana menjadi teman yang baik. Dan tidak khawatir dalam menghadapi kondisi apapun. Terlebih soal kekurangan materi.

”Kenapa takut miskin, kalau kaya saja belum pernah!”.

Itulah quotenya yang terkenal. Yang kami kenang hingga sekarang. 

Tenanglah di sana Bang Een. Tunggu kami. Karena, kami juga pasti akan menyusulmu. (Wirahadikusumah)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID