Dampak Covid-19 pada PTS - RILIS.ID
Dampak Covid-19 pada PTS
lampung@rilis.id
Rabu | 29/04/2020 06.01 WIB
Dampak Covid-19 pada PTS
Prof M Budi Djatmiko, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI)

ADA rencana Kemendikbud Nadiem akan memperpanjang belajar di rumah hingga akhir tahun 2020, hal ini dikarenakan wabah pandemi Covid-19 belum terlihat tanda-tanda penurunan penyebaran yang signifikan.

Walapun secara aturan hukum tidak diperbolehkan belajar dengan sistem daring (online) tanpa izin pemerintah, tapi Nadiem membolehkan dan malah memerintahkannya. Karena ini adalah alternatif yang paling rasional, walapun melanggar hukum.

Sama halnya dalam krisis keuangan di Indonesia Gojek dan sejenisnya itu melanggar perundangan sistem lalu lintas di Indonesia. Bahwa mobil membawa penumpang harus plat kuning, tetapi Gojek, Grap dll., tetap jalan, karena justru membantu masyarakat yang kesulitan ekonomi. Dan pemerintah dalam hal ini polisi tidak berani menangkap dan memperkarakan Nadiem bersama Gojek-nya.

Jika memang bertujuan membantu sivitas akademika seluruh pendidikan di Indonesia, mestinya Menteri Nadiem meminta pada Presiden untuk memberikan banyak beasiswa pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS), karena SD, SMP dan SMA sudah ada BOS dan ditanggung oleh pemerintah daerah dan pusat.

Dan demi terciptanya kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing perguruan tinggi (PT), maka kita harus tahu peta jalan (road map) PT di Indonesia.

Diperkirakan, PT di Indonesia yang memiliki mahasiswa di atas 10.000 orang tidak lebih dari 300 PT atau di bawah 5 persen total PTS yang jumlahnya lebih dari 4.520 PTS.

Lima persen PTS yang memiliki mahasiswa di bawah 10.000 dan di atas 5000 mahasiswa; 10 persen jumlah PTS yang jumlah mahasiswanya di bawah 5000 dan di atas 1000 mahasiswa; dan, sisanya 70 persen lebih mahasiswanya di bawah 1000 (seribu).

PTS yang mahasiswanya di bawah 1000 (70 persen dari jumlah PTS) adalah yang paling terasa terkena dampak. Karena biaya kuliahnya antara Rp1,2 juta sampai Rp3,5 juta per semester, dan rata-rata mereka tidak memiliki saving.

Ada pula mahasiswa yang di atas 5000 ribu pun kena dampak, tapi tidak sesulit PTS yang di bawah 1000 mahasiswa. Ada pula PTS yang kecil mahasiswa di bawah 1000 dan sehat, tapi ini bisa dihitung dengan jari.

Dalam pandemi Covid-19 yang paling terkena dampak adalah PTS yang memiliki mahasiswa di bawah 1000 yang berjumlah 80 persen dari total PTS (sekitar 3.164 PTS).

Maka semestinya Kemendikbud memberikan perhatian kepada kelompok PTS yang mahasiswanya di bawah 1000, yang diarahkan untuk terciptanya kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan PTS terbanyak di negeri ini.

Bukan memotret 10 PT Negeri (PTN) terbaik Indonesia saja misalnya, pasti tidak bisa menyelesaikan permasalahan sesungguhnya pendidikan tinggi kita.

Dari hasil rapat daring nasional APTISI pada tanggal 22 April 2020, disimpulkan dampak Corona pada PTS yang memiliki mahasiswa di bawah 1000, sangat signifikan rata-rata mahasiswanya hanya mampu membayar 50 persen dari total uang yang masuk.

Jika semester depan berlanjut dapat dipastikan 2/3 PTS Indonesia akan terkena imbas besar tidak bisa membayar dosen dan karyawannya. Bahkan tidak bisa membayar listrik, telepon, dan lainnya.

Padahal lima tahun sebelumnya mereka PTS yang mahasiswanya di bawah 1000 terus mengalami penurunan karena tekanan ekonomi kita, daya beli untuk masuk kuliah di kelas menengah bawah terus merosot. Tetapi menengah ke atas terus bertahan dan sedikit naik.

 

Belajar di Rumah Saja
Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia ada 4670, namun belum ada 10 persen yang menggunakan konten dengan layak. Karena pemerintah kita lambat membuat aturan. Dulu hanya yang memiliki akreditasi institusi A boleh mengunakan daring atau PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dan baru 2017 Kemenristek Dikti memberikan kebebasan menggunakan daring sebanyak 50 persen pertemuan dengan daring tanpa dibatasi akreditasi.

Di negara-negara maju lainnya penggunaan daring tidak dibatasi dengan nilai akreditasi. Hanya Unviersitas Terbuka (UT) dari berdiri sampai sekarang dengan hanya modul seadanya, dengan sedikit tutorial dan sekarang dengan daring, memiliki mahasiswa terbanyak di Indonesia mencapai 1 juta mahasiswa.

Jadi wajar saat presiden dan kemendikbud mengimbau pembelajaran dengan daring atau PJJ hampir semua entitas pendidikan agak terkejut karena belum siap. Karena hampir setiap PT belum mengarah ke pembelajaran online karena persyaratan pendiriannya terlalu berlebihan oleh Dikti dan tidak membumi.

Sehingga dengan wabah Covid 19 dapat dipastikan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Ristekdikti pada masa kemarin gagal total, dari sisi pembelajaran online. Karena membuat perangkat dengan persyaratan yang tidak masuk akal. Sehingga dapat dipastikan sistem daring pembelajaran secara nasional dalam mengahadapi Covid-19 adalah persiapan seadanya dengan nilai hanya di bawah 5, dengan kata lain kemendikbud kena rapor merah.

 

Penyebab Tidak Siap Daring
Ada tujuh penyebab kenapa pembelajaran daring di Indonesia gagal total yaitu:
1. Secara aturan yang boleh membuka pendidikan daring hanya perguruan tinggi terakreditasi A, untuk PT dan untuk pendidikan dasar menengah belum ada aturan;
2. Banyak yang belum memiliki sistem daring atau sistem IT PJJ dalam satuan pendidikan;
3. Mahalnya pembuatan konten pemebelajaran online;
4. Belum siap bahan ajar yang dibuat oleh para dosen dan guru, dan belum tahu cara membuatnya;
5. Jaringan yang tidak support di setiap daerah;
6. Mahalnya biaya kuota internet/pulsa bagi sekolah/PT/dosen/guru dan siswa/mahasiswa yang mengunakan kuliah atau pembelajaran daring.
7. Tidak setiap siswa/ mahasiswa memiliki perangkat pembelajaran online, khususnya dari kalangan siswa/mahasiswa tidak mampu.

Mestinya saat sekarang adalah kesempatan pemerintah memberikan goodwill, membebaskan biaya untuk internet melalui PT Telkom dan membuat jaringan sampai pelosok tanah air, dengan biaya murah.

Dan pemerintah juga harus membebaskan pajak bagi pendidikan dasar menengah swasta dan PTS terutama PTS kecil dan memberikan bantuan pada mahasiswa dalam bentuk beasiswa Covid-19.

Sehingga tentu dapat dipastikan pembelajaran online belum efektif sebagaimana dengan metode klasik, tapi ke depan harus lebih efektif dan kemendikbud harus mendukung penuh pembelajaran daring, dan tidak perlu diatur rigid, wong tidak membantu PTS kok.

 

Imbauan Bagi PTS
APTISI mengimbau semua pimpinan PTS seluruh Indonesia segera memberikan warning kepada semua civitas akademik untuk bisa menyesuaikan kondisi lingkungan, me-reschedule ”jadwal wisuda” dan mematuhi anjuran pemerintah pusat dan pemerintah daerah masing-masing, dan jika memungkinkan sementara waktu menghindari pertemuan masal.

Jika mungkin lakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan seluruh PTS di Indonesia civitas akademiknya mampu mengedukasi pada lingkungannya terhadap bahaya virus Corona dan cara pencegahan atau menghindarinya.

APTISI juga mengimbau semua pimpinan PTS dan yayasan pembinanya untuk sementara bisa memberikan ijin ujian bagi para mahasiswa yang belum dapat membayar uang kuliah di semester berjalan, agar mereka bisa mengikuti ujian akhir semester tahu ini.

 

Kesimpulan
Bagaimana bangsa Indonesia bersatu dan masyarakat dunia dapat bersama-sama menghilangkan pandemi corona. Kita menyadari tidak setiap negara siap menghadapi wabah corona ini, dan kita juga tahu kondisi negara kita banyak hutang dan tidak mungkin pemerintah melakukan tindakan lockdown, pada semua aktivitas masyarakat.

Maka APTISI mengimbau pada Presiden Joko Widodo agar menginstruksikan semua menterinya untuk fokus pada kegiatan penanggulanggan Covid-19, dan tetap juga memberikan pelayanan yang baik pada masyarakat. Terutama arahkan APBN tahun 2020 untuk direvisi pada penangulangan Covid-19.

Hentakan anggaran pada pemindahan ibu kota, fokus arahkan pengeluaran pada bantuan sosial masyarakat. Bangsa Indonesia tidak boleh mundur dari ilmu pengetahuan, semua aktivitas pendidikan di Indonesia harus berjalan.

Walaupun secara kasat mata pembelajaran daring kita gagal, tetap upayakan semaksimal mungin walaupun dengan cara memberikan tugas pada anak didik kita. Dan orang tua bersama-sama bahu membahu membantu pendampingan pada anak kita dalam pembelajaran online ini atau dengan cara guru/dosen mewajibkan membaca buku ajar pada anak didik kita, seperti Universitas Terbuka.

Dan pada semua masyarakat Indonesia mari kita bahu-membahu membantu sesama dan pemerintah untuk mencegah pandemi ini dengan tetap memohon pada Allah SWT, Tuhan YME, yang sedang menguji masyarakat dunia. Dan Allah sedang memperlihatkan kekuasaannya tehadap rencana dan makar orang-orang jahil.

Doa kita semua tidak boleh putus di saat bulan suci Ramadan ini. Semoga bangsa Indonesia lulus dari ujian yang sulit ini, dan Allah SWT memberikan jalan ke luar yang baik pada bangsa negara, masyarakat, dan pemerintah dalam memutuskan setiap langkah penyelesaian Covid-19, di bulan Ramadan yang mulia ini di tahun 2020. Salam. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID