Dapur Difable, Tempat Makan dengan Seluruh Karyawan Tuna Rungu
Dora Afrohah
Sabtu | 03/04/2021 17.27 WIB
Dapur Difable, Tempat Makan dengan Seluruh Karyawan Tuna Rungu
Canda tawa karyawan Dapur Difable. FOTO: DAPUR DIFABLE

RILIS.ID, Bandarlampung – Bagaimana jika ada tempat makan yang pegawainya tuna rungu? Ya, ini fakta. Namanya, Dapur Difable dengan 17 karyawan yang semuanya tak bisa mendengar.

Terletak di Jalan Diponegoro, Gotong-Royong, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung. Lokasinya tepat di sebelah kantor PLN. Kira-kira dua menit kalau berjalan kaki dari Tugu Adipura. Buka Senin-Sabtu pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.

Tempatnya unik. Bukan karena ornamen kafe yang kekinian. Tapi karena 17 karyawannya adalah penyandang tuna rungu.

Ini adalah kafe pertama di Bandarlampung dengan konsep mempekerjakan mereka yang berkebutuhan khusus.

Pada salah satu sudut ruangan terdapat beberapa kalimat motivasi. Seperti ’Different but Able’ dan ’Kenali Aku karena Kemampuanku, bukan Keterbatasanku’.

Para karyawan memakai seragam dan apron yang berbeda setiap harinya. Pertama saya ke sini, karyawan ini bekaus kerah warna kuning dan apron merah.

Hari Sabtu (3/4/2021), mereka pakai baju warna biru gelap dan apron coklat. Apronnya selalu bertuliskan ’Dapur Difable’.

Rilisid Lampung yang sudah empat kali ke tempat ini selalu duduk di meja nomor dua. Ada dua alasan, outdoor dan langsung berhadapan dengan dapur.

Ada lima meja outdoor yang tersedia. Sementara, di dalam ruangan tertata lima meja juga.

Mejanya unik, dibuat dari kayu bekas gulungan kabel. Lalu, dipahat oleh para difabel ditambah beberapa ornamen seperti bunga di meja, juga buatan mereka sendiri.

Cara order di sini adalah langsung mendatangi meja pemesanan. Pengunjung tinggal menunjuk menu yang tertulis di buku.

Tak lupa setelah selesai memesan, Rilisid Lampung biasanya mengucapkan terima kasih dengan bahasa isyarat.

Rilisid Lampung pesan nasi tumpeng mini dengan irisan telur dadar, orak arik tempe, tumis mi putih, sambal, irisan timun, dan kerupuk.

Cara Rilisid Lampung berisyarat mulai luwes, tidak seperti ketika pertama kali ke sini. Rilisid Lampung sempat bingung berkomunikasi dengan mereka.

Untungnya saat itu ada Edovan, Humas Sahabat Difabel Lampung (Sadila) yang membantu menciptakan Dapur Difable ini. Dia sekaligus menjadi penerjemah bagi pengunjung yang datang.

Dapur Difabel ini baru soft opening pada Senin (8/3/2021). Didirikan atas inisiasi komunitas Sadila bersama YLS (Yayasan Langit Sapta). Bangunannya menempel Kantor PLN Bandarlampung.

Sewanya Rp60 juta setahun diberikan gratis dengan dana dari corporate social responsibility (CSR) PLN lewat program ’PLN Peduli’.

Sesaat datang seorang perempuan muda sekitar 22 tahun. Dia duduk di sebelah Rilisid Lampung dan mengajak berbincang dengan bantuan Edovan.

Namanya Dilla, Riris Fadilla lengkapnya. Dia adalah salah satu koki dan pelayan di sini.

Dia salah satu anggota Sadila yang berkeinginan memiliki kafe sendiri. Lewat Sadila, Dilla belajar memasak.

Ada juga anggota Sadila yang belajar servis elektronik, bengkel, dan kerajinan tangan.

Nah, Dilla inilah yang mengajari Rilisid Lampung huruf alfabet dalam bahasa isyarat.

Dilla bercerita dirinya tuna rungu bukan sejak lahir. Tapi karena kecelakaan saat usianya sembilan tahun.

Dia tertabrak mobil saat mengendarai sepeda. Saat tersadar dari pingsan, Dilla tidak bisa mendengar apapun lagi.

Ada juga Chandra Wijaya, kasir sekaligus penanggung jawab di kafe itu. Karyawan senior di kafe. Badannya tak bisa dibilang kurus dengan tahi lalat di pipinya. Dia biasa dipanggil "bos" oleh rekan-rekannya.

Berbeda dengan Dilla, Chandra menyandang tuna rungu ketika masih berusia dua bulan. Saat itu ia demam tinggi. Orang tuanya tidak mampu membawanya berobat karena keterbatasan biaya.

Karyawan di kafe ini masing-masing punya peran sendiri. Dari barista, koki, kasir, sampai pelayan.

Mereka terlihat bahagia. Ada yang berswafoto atau mengobrol dengan bahasa isyarat. Kerap terdengar tawa lepas mereka.

Tak lama datang seorang laki-laki berperawakan gagah. Siapa sangka ia juga tuna rungu.

Namanya Muhammad Faris, 31 tahun. Dia bekerja sebagai tukang pijat refleksi dan laundry.

Faris mengaku senang makan di sini karena enak. Dia pun bangga dengan teman-temannya itu dan berharap Dapur Difable ini bisa terus maju. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID