Desa Miliarder - RILIS.ID
Desa Miliarder
Wirahadikusumah
Minggu | 06/09/2020 22.15 WIB
Desa Miliarder
Oleh: Wirahadikusumah

Tadinya saya ingin melanjutkan ”rumpian” tentang konstelasi Pilkada di Lampung. Tetapi saya putuskan menundanya sementara.

Sebab, informasi dari Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur, ini menginspirasi bagi saya. Tentu saya juga berharap bagi Anda. Khususnya yang belum tahu informasi ini.

Awalnya, saya tahu desa ini dari video yang diposting di Facebook. Kemudian saya langsung ”kepo”. Saya mencari tahu lebih banyak informasi desa ini. Di internet.

Saat browsing, saya sempat terkejut. Desa ini ternyata memiliki website sendiri. Di Lampung, sangat jarang ada desa punya website. Pun kecamatan. Makanya, saya sempat kaget.

Nama website desa ini adalah desasekapuk.com. Jika Anda mengunjungi website tersebut, kemungkinan perasaan kita sama: kagum.

Sebab, isi website-nya informatif sekali. Ada informasi yang disuguhkan dalam berbentuk tulisan. Ada juga berupa video. Yang me-link langsung ke YouTube.

Saya menilai, itu menandakan aparatur desa ini sudah sangat melek informasi dan teknologi. Bahkan, saya menyakini aparatur desa ini transparan. Karena, di website desa ini, terdapat juga nama lengkap dan foto seluruh aparatur desa. Termasuk nomor handphone-nya masing-masing.

Karenanya, dalam tulisan ini, saya tak akan menjelaskan lagi demografi desa ini. Silakan Anda buka saja link desasekapuk.com. Informasinya lengkap di alamat situs tersebut.

Lalu mengapa informasi desa ini termuat di Facebook?

Itu karena desa ini sempat ”mengegerkan” jagat maya. Pada Rabu (2/9/2020),  aparatur desa ini bersama RT, RW, PKK, Karangtaruna, dan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) serta warga menggelar deklarasi. Yakni sebagai Desa Miliarder. Di Indonesia.

Usai deklarasi, mereka menggelar kirab. Dari balai desa menuju tempat wisata terkenal di desa itu: Selo Tirto Giri (Setigi).

Kirab yang dilakukan dengan mengendarai lima mobil operasional. Dan puluhan sepeda listrik. Milik desa tersebut.

Informasi yang saya dapat, desa ini sebelumnya berstatus desa tertinggal di Jawa Timur. Kini berubah menjadi Desa Miliarder.

Lima mobil operasional yang dimiliki dibeli bukan dari uang negara. Atau dana desa kucuran dari pemerintah. Tetapi dari penghasilan desa itu sendiri.

Hebatnya, kendaraan operasional untuk pemerintah desanya saja bermerek Alphard. Kemudian untuk PKK (Grand Livina). Dan untuk wisata jenis double cabin (Mazda). Lalu untuk pengurus BUMDes (Mitsubishi Xpander).

Desa Sekapuk juga memiliki satu unit mobil ambulans. Berstandar protokol kesehatan Covid-19. Yang diperuntukkan membantu warga setempat yang membutuhkan ambulans.   

Tetapi, bukan karena mobil itu Sekapuk menjadi Desa Miliarder. Tetapi putaran uang di desa itu. Sektor PKK-nya yang menggerakkan ekonomi kerakyatannya saja, punya target Rp1,9 miliar pertahunnya. Lalu, BUMDes-nya ditarget Rp4 miliar. Itu memengaruhi pendapatan desa yang mencapai Rp1,5 miliar.

Aktifnya PKK dan BUMdes ini menciptakan lapangan pekerjaaan. Menurut Kepala Desanya Abdul Halim, ada 591 lapangan kerja baru tercipta.

”Kami juga ada 400 obligasi. Semua ini terwujud dengan semangat kebersamaan. Terima kasih semuanya,” ujarnya seperti yang saya kutip dari tribunnews.com.

Saya pun sempat mencari tahu sosok Abdul Halim. Sang Kades yang berhasil merubah kasta Desa Sekapuk. Dari tertinggal menjadi mandiri.

Sayang, tak banyak saya dapatkan informasi tentangnya. Saya hanya mengetahui pria ini alumnus Pondok Pesantren Sunan Drajat. Ia menjabat Kades Sekapuk sejak 2017 hingga 2023. Dan ia mendapat julukan Ki Begawan Setigi.

Di bawah kepemimpinannya lah, Sekapuk menjadi desa mandiri. Konon kabarnya dahulu mayoritas pekerjaan desa ini adalah buruh tambang kapur. Sebab, desa ini memang dikelilingi gunung berkapur. Bekas tambang kapur itu kemudian dijadikan tempat pembuangan sampah (TPS). Oleh warga sekitar.

Abdul Halim lantas menyulap eks tambang kapur itu. Menjadi destinasi wisata. Bernama Setigi. Dananya dari warga. Yang mekanismenya dengan sistem obligasi saham.

Konsep tabungan saham itu adalah warga desa diminta menabung Rp7 ribu per hari. Dalam sebulan menjadi Rp200 ribu. Kemudian menjadi Rp2,4 juta selama setahun. Saat ini, dana warga yang terkumpul sudah Rp1,69 miliar. Dana itu digunakan untuk membangun fasilitas destinasi.

Dengan konsep seperti itu, warga setempatlah yang menjadi pengusaha kawasan wisata tersebut. Sebab, Abdul Halim tak mau ada investor luar ikut mengelola. Bahkan, ia sempat menolak investor yang akan berinvestasi Rp35 miliar. Di Setigi. Walaupun ia mengaku sempat diimingi sogokan. Dari investor tersebut. Yakni mobil Pajero Sport Dakkar. Dan saham 10 persen.

Tentu tak mudah saat kali pertama ia mewujudkan itu. Pada tahun pertama menjabat kades, ia berusaha meyakinkan warganya.Untuk merubah eks tambang yang jadi TPS itu, menjadi tempat wisata.

Kendati timbul pro kontra, akhirnya warga sepakat. TPS seluas 5 hektare itu akhirnya dirubah menjadi destinasi wisata.

Di kawasan itu kemudian dibuat danau, air terjun, kolam renang, glam camping (glamping). Ia juga mempertahankan bangunan asli. Berupa tebing kapur yang menjulang tinggi. Ada juga berbentuk goa dengan warna yang menarik.

Beberapa konsep pahatan di tebing batu kapur banyak dibantu ahli dari Institut Seni Indonesia, Jogjakarta.

Di sana, dibangun juga masjid. Bernuansa Timur Tengah. Ada pula bangunan menyerupai keraton goa emas. Dengan pintu goa menghadap ke selatan. Tidak ketinggalan arena kuliner dengan menu khas kopi Setigi.

Informasi yang saya dapat di internet, hampir semua bangunan yang ada di Setigi memiliki keunikan. Bahkan di antaranya bergaya arsitektur bangunan Yunani.

Sejak dibuka setahun  lalu, Setigi sudah dikunjungi 30 ribu wisatawan. Dari domestik hingga mancanegara.

Otomatis dengan adanya Setigi, pendapatan desa itu melejit. Abdul Halim pun menggunakannya untuk kesejahteraan warganya.

Ia membeli puluhan sepeda listrik. Untuk dipakai pelajar desa setempat pergi ke sekolah. Tak hanya itu, desanya juga menanggung biaya sekolah warganya hingga sarjana. Tentunya pembiayaannya berdasarkan kriteria tertentu. Yakni berlaku bagi anak yatim piatu, hafiz, dan hafizah.

Untuk yatim piatu dibiayai sejak SD hingga lulus SMP. Sedangkan hafiz dan hafizah dibiayai hingga lulus S-1. Dan bebas mengambil jurusan apapun. Termasuk Fakultas Kedokteran.

Usai browsing tentang Desa Sekapuk, saya menjadi terkesan dengan Abdul Halim. Sosok Kades yang punya jiwa enterpreneur. Dengan komitmen yang tinggi. Dan mandiri. Dalam mewujudkan mimpi. Sehingga menjadi inspirasi. Untuk negeri.(Wirahadikusumah)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID