Gali Peluang Usaha dengan Kreatif di Dunia Digital
lampung@rilis.id
Minggu | 17/01/2021 09.31 WIB
Gali Peluang Usaha dengan Kreatif di Dunia Digital
Owner DRB Records Deni Ribowo saat menjadi mentor Potensi Industri Kreatif Digital yang digelar oleh Kelas Minat di Koma Space, Bandarlampung, Jumat (15/1/2021)./FOTO ISTIMEWA

RILIS.ID, BANDARLAMPUNG – Di masa Pandemi Covid-19 membuat orang tidak leluasa untuk ke luar dari rumah. Karenanya, sektor industri bergeser ke ranah digital.  

Untuk itu, saat ini, gadget dan media sosial (medsos) menjadi keharusan bagi sebagian besar masyarakat. Sebelum dan bangun tidur, yang dilihat banyak orang adalah handphone terlebih dahulu.

Owner DRB Records Deni Ribowo mengatakan, potensi dunia kreatif digital inilah yang harus digali sebagai peluang usaha. Seperti yang dilakukannya bersama temannya dr. Aldo di bawah label rekaman musik DRB Records sejak awal 2020. Mereka menciptakan banyak lagu dan Ring Back Tones (RBT). Lalu menjualnya ke platform musik digital.

”Saat ini memang harus berbisnis secara digital. Kita narsis di medsos saja tidak berguna. Kita posting sesuatu di medsos seperti anak sultan. Tapi kenyataannya kayak anak hutan. Susah dan terbatas. Jadi lebih baik manfaatkan medsos untuk membuat konten yang jelas,” kata anggota DPRD Lampung ini.

Deni menjelaskan hal ini ketika menjadi mentor Potensi Industri Kreatif Digital yang digelar oleh Kelas Minat di Koma Space, Bandarlampung, Jumat (15/1/2021).

Dia mencontohkan, sejumlah orang di Lampung yang cukup berhasil di dunia digital. Misalnya, pemilik akun Instagram @turono86 yang menjual konten kuliner. Turono kerap mengunggah konten siaran makan. Karena cara makan dan ulasannya yang berhasil membuat orang ngiler, konten Turono berhasil dilihat banyak orang. Pengikutnya di Instagram pun banyak.

”Karena memanfaatkan dan membuat konten jelas, Turono berhasil menjadi selebgram. Followers-nya banyak. Dan sering mendapat endorsement untuk sekali posting,” kata Deni.

Dalam workshop tersebut, Deni juga memperkenalkan temannya bernama Daus. Daus baru saja mendapatkan hadiah berupa kamera dari Kine Master--sebuah aplikasi telepon pintar untuk editing video dengan tampilan seperti komputer dengan tampilan telepon seluler. Sebelumnya, Daus merekam dan mengedit video menggunakan handphone.

”Daus ini mendapat kamera dari Kine Master dalam sebuah kompetisi. Karena editannya bagus, dia dapat kamera. Sebelum menggunakan kamera profesional, dia pakai handphone yang bukan branded. Daus memanfaatkan keahliannya menjadi peluang untuk usaha. Bahkan, kini Daus sudah memasang tarif,” ucap Deni.

Daus membeberkan, dia kini sering mendapatkan pekerjaan untuk membuat konten video berisi iklan dan endorse. Kliennya mulai dari usaha bengkel, butik, sampai perumahan. Tarifnya Rp1.500-Rp3.500 per detik. Sehari, dia bisa memproduksi empat sampai lima video. Idenya, dia belajar secara otodidak. Juga belajar melalui YouTube. Sejak delapan bulan lalu.

”Intinya, di tengah masa pandemi, perekonomian belum bisa bangkit. Tidak lain sekarang harus berbisnis digital. Bagaimana caranya menyampaikan usaha kita sampai ke hp dan ke rumah orang lansung. Jangan malu memulai usaha. Untuk pertama, bisa gunakan aplikasi yang gratisan dulu. Tapi dengan tetap memperhatikan UU ITE,” sarannya.

Fotografi Jurnalistik

Platform digital yang sudah banyak saat ini, tentu menjadi wadah bagi penghobi fotografi. Hobi yang satu ini bisa dijadikan peluang usaha yang menguntungkan. Apalagi sekarang ini dunia fotografi sudah tidak lagi dimonopoli oleh para fotografer profesional. Orang sudah dapat memotret dengan bagus menggunakan hp.

Bisnis fotografi bisa menjanjikan. Misalnya fotografi pernikahan, foto komersial, sampai foto jurnalis.

”Kembali lagi ke passion. Ketika memang hobi foto dan siap menjadi fotografer profesional, tidak masalah. Yakin saja,” kata fotografer Radar Lampung, yang menjadi mentor Fotografi Jurnalistik dalam workshop Kelas Minat tersebut.

Tegar tidak sekadar menjalani hobi fotografi. Yang membuatnya bertahan sebagai jurnalis foto karena dapat memberikan manfaat bagi sesama.

”Ada kebanggaan ketika saya memotret jalan rusak. Besoknya jalan itu dibenerin sama pemerintah. Ini bagian dari profesi, ada manfaatnya foto saya. Tidak buat diri sendiri, juga buat teman-teman,” ucapnya.

Tentang Kelas Minat

Terbentuknya Kelas Minat Lampung berawal dari keresahan sosial di lingkungan sekitar tempat tinggal Habib dan founder lainnya, Robin Ali. Banyaknya pengangguran, anak muda terjerat kasus hukum narkoba, dan anak putus sekolah. Karena itu, kegiatan belajar gratis harus rutin berjalan demi membantu mengurangi dampak dari keadaan sosial di lingkungan sekitar.

”Semua kegiatan harus gratis dan kami berusaha untuk menyediakan fasilitas untuk semua kegiatan belajar para peminat. Kami yakin dari kegiatan sederhana ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan  pemuda-pemuda yang kreatif, lebih banyak lagi,” kata Habib.

Dia meyakini, para pemuda mempunyai potensi di dalam diri mereka. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan dan ruang untuk menggali potensi dalam diri mereka. Kelas Minat melakukan kegiatan belajar secara rutin lima hari dalam sepekan. Setiap Jumat pada setiap peaknnya, Kelas Minat mengadakan materi besar dan materi tambahan.

”Kegiatan belajar tidak hanya kami lakukan di Rumah Minat. Tapi juga kami lakukan di luar ruangan, camping ground,” ucapnya.

Sementara ini, Kelas Minat fokus mengajar di tiga bidang. Yakni fotografi, videografi, dan desain grafis. Kelas Minat juga memberikan materi pendamping bahasa Inggris dasar untuk meningkatkan kualitas belajar para peminat. Kelas Minat akan terus berusaha menambah bidang keminatan yang lain.

”Karena melihat antusias dari pendaftar yang masih terus bertambah dengan keminatan yang sangat beragam,” katanya.

Kelas minat saat ini sudah memiliki lebih dari 70 peminat dari berbagai kalangan dan latar belakang. Mulai dari anak-anak putus sekolah, pegawai yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan mantan narapidana.

”Mahasiswa yang aktif dan rutin kami latih secara gratis,” ucapnya. 

Karena jumlah peminat yang masih terus bertambah, pola belajar  mereka lakukan secara bergantian tatap muka dan dalam jaringan.

”Kami  hanya melakukan hal kecil untuk mendukung dan meyakinkan mereka bahwa masih ada kesempatan di dunia digital creative. Mimpi kami adalah sekolah keminatan gratis untuk mereka yang membutuhkan. Untuk mereka yang sebenarnya punya potensi tapi jauh dari jangkauan dan perhatian. Kelas minat harus hadir untuk membantu menciptakan lapangan pekerjaan baru, lingkungan yang sehat dan para pemuda yang kreatif,” pungkasnya.(*)

Editor Wirahadikusumah


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID