Gubernur Lampung dan Bupati Pesawaran Tinjau Lumbung Cabai di Tegineneng
Segan Simanjuntak
Rabu | 19/02/2020 15.10 WIB
Gubernur Lampung dan Bupati Pesawaran Tinjau Lumbung Cabai di Tegineneng
Gubernur Lampung Arinal Djunaidi dan Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona panen cabai di Desa Trimulyo, Selasa (18/2/2020). FOTO: ISTIMEWA

RILIS.ID, Pesawaran – Pesawaran menyimpan sejumlah potensi yang patut dibanggakan. Selain segudang destinasi wisata, kabupaten berjuluk Andan Jejama ini juga menjadi lumbung cabai di Provinsi Lampung.

Dari tujuh kecamatan, Tegineneng memiliki lahan pertanian cabai terluas di Pesawaran. Totalnya mencapai 460 hektare (Ha). Potensi ini selaras dengan program unggulan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi yaitu Kartu Petani Berjaya (KPB).

Arinal pun turun langsung untuk melihat lumbung cabai di Desa Trimulyo, Kecamatan Tegineneng. Ia didampingi Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona. Keduanya melakukan panen cabai merah di atas lahan seluas 246 hektare.

Dalam laporannya, Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona mengungkapkan lahan pertanian cabai di wilayahnya terluas di Provinsi Lampung.

“Selain Desa Trimulyo, kita juga memiliki lahan pertanian cabai di Wayratai seluas 200 hektare,” kata Dendi.

Kepala Dinas Pertanian Pesawaran Anca Martha Utama menambahkan produksi cabai merah dalam satu kali musim mencapai 10 ton per haktare.

“Karena Pesawaran terluas lahan cabainya, secara otomatis kita sebagai pengendali,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melakukan dialog dengan sejumlah petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gemah Ripah.

“Saya turun langsung karena saya ingin lebih dekat dengan masyarakat petani. Tadi juga saya sudah melihat hasil cabai para petani dan hasilnya bagus," jelasnya.

Arinal berjanji akan melakukan pengkajian terkait upaya pengendalian hama ini.

“Kita akan melakukan pengkajian lebih dalam terkait upaya pengendalian hama ini. Kita juga akan melaporkan dengan Kementerian Pertanian," ujarnya.

Sedangkan untuk masalah kekurangan air, Arinal menawarkan dua solusi alternatif. Pertama, menggunakan pompa air tenaga surya dari Bukit Asam.

“Alternatif kedua, dengan meminjamkan alat untuk membuat sumur bor. Sehingga, nanti tiap sumur yang dibuat minimal mampu memenuhi kebutuhan air untuk areal pertanian sekitar 3-4 hektare,” tandasnya. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID