Iktikaf Ramadan
lampung@rilis.id
Minggu | 10/06/2018 06.01 WIB
Iktikaf Ramadan
Asrian Hendi Caya, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung; Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

RILIS.ID, – SALAH satu sunah di dalam bulan Ramadan adalah iktikaf. Iktikaf adalah berdiam diri di masjid selama sepuluh hari bahkan Nabi SAW di akhir hayatnya melakukan iktikaf dua puluh hari. Mencurahkan sepenuhnya perhatian kepada Allah dalam rangka taqarrub ilallah.

Ternyata iktikaf ini tidak terlepas dari akan adanya lailatulkadar sehingga Nabi SAW pernah iktikaf pada sepuluh hari pertama dan sepuluh hari kedua kemudian terahir mendapat informasi adanya pada sepuluh hari ketiga yang sampai saat ini terus dikuti oleh umat Islam.  

Lailaturkadar adalah peristiwa penting karena lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu para malaikat turun termasuk Jibril bersamaan dengan berkah dan rahmat Allah SWT. Pada malam itu diatur segala urusan dengan penuh hikmah. Yang ingin dipetik dari peristiwa ini adalah menegakkan sunah Rasul.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadan melebihi waktu yang lainnya” (HR Muslim). Kesungguhan Rasul dalam beriktikaf cerminan totalitas dalam menjalankan perintah Allah.

Iktibar dari kegiatan iktikaf adalah kesungguhan (jihad). ”Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (Qs 22: 78).

Itulah sebabnya kita harus totalitas dalam menjalan agama. ”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (Qs 2: 208).

Sewajarnya kita mengikuti Rasul. ”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya” (Qs 59: 7).

Mengikuti Rasul adalah bentuk kecintaan pada Allah dan cermin kesungguhan dalam menjalankan agama. ”Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs 3: 31).

Dan Allah memang menjadikan Rasul sebagai teladan dalam menjalankan agama. ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (Qs 9: 128). Apalagi alasan kita tidak mengikuti Rasulullah SAW?

Dengan demikian iktikaf membina karakter seorang muslim. Bahwa kesungguhan adalah totalitas menjalankan agama. Totalitas cerminan dari pemahaman yang baik.

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawaban” (Qs 17: 36).

Totalitas mencerminkan etika, yaitu sebagai bentuk pengagungan kepada teladan hidup (Rasulullah SAW). Totalitas cerminan dari ketekunan, yaitu komitmen yang tinggi untuk menjunjung etika dan mengaktualisasikan pemahaman. Iktikaf adalah cerminan muslim yang paham, beretika, dan tekun. Semoga kita memilikinya. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID