Iman dan Saum
lampung@rilis.id
Rabu | 06/06/2018 06.00 WIB
Iman dan Saum
Asrian Hendi Caya, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung; Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

RILIS.ID, – KEWAJIBAN saum didasarkan pada perintah Allah surat Al-Baqarah 183: ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Seruan saum ditujukan kepada orang yang beriman. Mengapa orang beriman yang diseru saum? Karena saum merupakan ibadah yang berat. Dalam saum orang harus menahan kebutuhan pokoknya yaitu makan dan minum serta mengurangi tidur dan mengendalikan syahwat. Belum lagi pengendalian perilaku baik perkataan maupun perbuatan. Bahkan secara rohaniah harus lebih banyak mendekatkan diri (taqarrub) pada Allah. 

Tentu saja saum yang berat ini sangat rugi bila sia-sia. Sementara Allah membalas amal hanya pada orang beriman. ”Siapapun yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan mengkaruniainya kehidupan yang baik dan membalasnya dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl: 97).

Iman menjadi prasyarat amal saleh. ”Maka siapapun yang mengerjakan amal saleh, dalam keadaan beriman, maka tidak akan ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan Kami akan menuliskannya untuknya” (Al-Anbiya: 94). Itulah sebabnya kita harus mewaspadai diri kita apakah sudah pada taraf iman.

Allah membedakan antara tingkat Islam dan iman. ”Orang-orang Arab Badui itu berkata: ’Kami telah beriman’. Katakanlah: ’Kamu belum beriman’. Tapi katakanlah, ’kami telah berislam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"(Qs 49: 14).

Iman mengandung makna lebih dalam karena sampai pada ketundukan hati. ”Bersabda Rasulullah, sholullohu ’alaihi wasallam: Iman terhadap Allah itu ialah ikrar dengan lisan, dan menyatakan benar dengan hati, mengamalkan dengan anggota badan” (dari Siti Aisyah, yang diriwatkan oleh Imam Syairozi). 

Allah menegaskannya lagi dalam surat Al-Baqarah ayat 8: ”Dan sebagian manusia ada yang lisannya berkata: Aku beriman kepada Allah dan beriman kepada Hari Akhir, dan tiadalah mereka itu orang-orang yang beriman”.

Tingkatan iman mana yang sudah kita capai? Jangan sampai kita merasa sudah beriman, tapi Allah menilai belum sehingga tidak termasuk yang dipanggil saum: Hai orang-orang yang beriman! Nauzubillah minzalik! Saatnyalah saum ini menandai kemantapan dan kebangkitan iman kita sehingga tidak termasuk kategori surat Al-Hujurat ayat 14 dan Al-Baqarah ayat 8 di atas. Siapa mereka yang beriman itu menurut Allah?

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah: (1) mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka [karenanya] dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (2) [yaitu] orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (3) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki [nikmat] yang mulia” (Qs 8: 2-4).

Anas ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, ”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua, anak-anaknya, dan seluruh umat manusia”.

Sahih Bukhari menceritakan bahwa Umar bin al-Khatthab ra berkata, ”Wahai Rasulullah, demi Allah sungguh Anda lebih saya cintai daripada segala sesuatu kecuali diri saya sendiri”. Maka Nabi SAW bersabda, ”Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai Aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri”. Umar ra pun mengatakan, ”Demi Allah, sungguh Anda sekarang lebih saya cintai daripada diri saya sendiri”. Kemudian Nabi SAW mengatakan, ”Nah, sekarang baru benar wahai Umar”. 

Semoga dengan saum kita dapat memperbaiki dan meningkatkan iman. Dan semoga iman kita termasuk yang benar (Qs 2: 177). (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID