Jauh-Jauh dari Inggris, Penulis Ini Juarai Krakatau Award 2018
lampung@rilis.id
Selasa | 07/08/2018 20.32 WIB
Jauh-Jauh dari Inggris, Penulis Ini Juarai Krakatau Award 2018
Rilda A. Oe. Taneko. FOTO: DOKUMEN PRIBADI

RILIS.ID, Bandarlampung – Cerpen Bukan Sebambangan karya Rilda A. Oe. Taneko dari Inggris menjuarai Lomba Cipta Cerpen Krakatau Award (KA) 2018.

KA 2018 sekaitan Festival Krakatau 2018 yang ditaja Dinas Pariwisata Provinsi Lampung itu diikuti sebanyak 100 peserta/ cerpen.

Rilda, putri asli Lampung, satu-satunya peserta dari luar negeri. Ia bermukim di Inggris.

Sementara lainnya dari Aceh, Sumatera Barat, Sumut, Riau, Jakarta, Jogjakarta, Semarang, dan dari kota/daerah di Indonesia.

Cerpen Bukan Sebambangan mengisahkan tentang perkawinan yang mengatasnamakan kawin lari (sebambangan) bagi masyarakat adat Lampung.

Bukan sebambangan yang pernah terjadi di Lampung Timur, juga di Lampung Utara yang dikenal meramut/ngeramut, menjadi kritik dalam cerpen ini.

Rilda menyorot soal negatif dari ngeramut tersebut, karena "menggelapkan" nasib masa depan perempuan. Sebab lebih cenderung melarikan (meramut) anak gadis orang dengan atas nama sebambangan.

Selain Bukan Sebambangan, di urutan kedua adalah cerpen Nedes karya Fajar Mesaz dari Mesuji.

Cerpen ini mengangkat adat nedes (nenemo) masyarakat Lampung di Pagardewa, Tulangbawang Barat.

Fajar adalah novelis Maafkan Aku Kuala Mesuji yang juga kerap mengangkat masalah sosial di Lampung.

Sementara juara 3 diraih cerpen Litografi karya Rahmad Sudirman.

Jurnalis yang pernah menjuarai KA 2017 ini menyoal silsilah keadatan dan tradisi masyarakat Lampung masa kini, seperti melulis di tempat yang licin.

Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, Linda Libiyanti Sumadewi, menjelaskan di samping bentuk sosialisasi, KA 2018 juga membangun apresiasi masyarakat terhadap pariwisata dan seni budaya daerah Lampung.

"Pariwisata Lampung memiliki keunikan dan pesona tersendiri, begitu juga dengan seni budaya yang kaya dan beragam," katanya usai rapat juri di Dinas Pariwisata, Selasa (7/8/2018).

Dengan adanya KA 2018, pihaknya berharap pariwisata dan seni budaya Lampung, bukan hanya dikenal. Tapi juga menarik minat mayarakat untuk berkunjung ke daerah ini.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung Budoharto Herman N. mengatakan, KA 2018 menjadi bagian dari Festival Krakatau karena nilai positif bagi promosi pariwisata dan senibudaya Lampung.

Diharapkan masyarakat di luar Lampung akan mencari tahu dan belajar untuk mengenal kebudayaam dan destinasi wisata yang ada di daerah ini.

"Walaupun cerita yang ditulis oleh sastrawan tersebut adalah fiksi, namun tafsir hasil transformasi budaya menjadi kekayaan bagi daerah ini," ujar dia.

Dewan kurator, Yanusa Nugroho (ketua), Isbedy Stiawan ZS, dan Syaiful Irba Tanpaka (anggota), juga memilih 10 cerpen nominasi tanpa ranking.

Ke-10 cerpen tersebut adalah, Bediom karya Heny Sulistiyani, Sebagai Duyung Saat Berdomisili di Gunung Krakatau (Rahmat Ali), Jalan Bengkunat (Rizki Andika), dan Gadis Sukamenanti (Sulis Setia Markhamah).

Lalu, Suara dari Menara Siger (Sammad Hasibuan), Hakikat Sekura (Wi Noya), Bunga Kopi dalam Tapis Penagantin (Rama Safra), Di Kaki Gunung Pesagi (Handry TM), Rumah Kita (Roni Tabroni), dan Rindu Tak Berujung di Tanjung Setia (Nur Haidi).

Yanusa Nugroho mewakili dewan kurator menjelaskan,  menulis cerita untuk sebuah lomba atau apapun yang bertolak pada tema tertentu, ada begitu banyak kendala.

”Misalnya, jika itu menyangkut adat-istiadat, maka kita tak bisa hanya 'mengetahui' lewat bacaan semata; tanpa bertanya pada para pemangkunya. Jika hal ini 'dipaksakan' maka kisah yang kita paparkan terasa 'mengada-ada',” tegasnya.

Kesan memaksakan itulah yang umum muncul pada naskah-naskah yang di KA 2018. Umumnya, peserta, seolah meletakkan adat sebagai latar semata dan menyebutkan--katakanlah: nemui nyimah, sebagai sebingkai foto bunga di ruang tamu.

'Mutiara' adat ini tidak muncul sebagai fokus pengisahan, tetapi sekadar ada, bahkan sekadar disebutkan.

Tetapi, tiga naskah yang akhirnya diputuskan sebagai terbaik, ditulis dengan riset yang cukup baik. Bahkan dari sisi pengisahan, layak disebut cerita pendek. 

”Pada 'Bukan Sebambangan' misalnya, gambaran perempuan yang memegang sabit, dengan kegeramannya, dan sebagainya, muncul sebagai sosok yang hidup,” puji sastrawan asal Jakarta --yang karya-karyanya kerap dimuat Kompas dan media cetak lain serta menulis buku cerpen/ novel tunggal, itu. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID