Jiwa-Jiwa Merdeka, Buku yang Terinspirasi dari Alquran
lampung@rilis.id
Sabtu | 16/02/2019 14.29 WIB
Jiwa-Jiwa Merdeka, Buku yang Terinspirasi dari Alquran
Suasana bedah buku "Jiwa-Jiwa Merdeka" di Aura Book Coffee. FOTO: ISTIMEWA

RILIS.ID, Bandarlampung – Buku "Jiwa-Jiwa Merdeka" karya Komiruddin Imron dibedah di Aurabook Coffee, Jumat (15/2/2019) malam.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan ustaz Komiruddin di media sosial Facebook (FB) dan buku ke enam mantan anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan dari PKS.

Komiruddin mengatakan setiap tulisannya selalu diinspirasi seusai ia membaca dan mengkaji Alquran.

Ia mencontohkan saat membaca kisah nabi Yusuf AS, lalu lahirlah tulisan "Jiwa-Jiwa Merdeka".

"Setiap manusia harus memiliki jiwa yang medeka. Merdeka yang dimaksud di sini, ialah merdeka dari sesembahan selain Allah," katanya.

Komiruddin menjelaskan nabi Yusuf AS lebih baik ia berada di penjara yang lebih merdeka, daripada tak merdeka dalam tekanan penguasa zalim dan terperangkap rayuan Zulaikha.

Ia juga menyebutkan bagaimana Nabi Sulaiman, seorang raja yang tiada tandingan hingga akhir zaman, tak abai pada rakyat dan makhluk lainnya di bawah kekuasaannya.

Bahkan, imbuh Komir, Sulaiman tak harus memaksa Ratu Balqis agar mengakui ajaran yang dibawanya, namun ia tunjukkan dengan karya dan cara-cara yang santun.

Pada buku ini juga tertuang "Petarung versus Pecundang", "Menolak Lupa", dan lain-lain. Sebanyak 43 judul terhimpun dalam buku yang diterbitkan Ali Imron Pers ini.

Selain Komiruddin, penulis buku, bedah "Jiwa-Jiwa Merdeka" ini menghadirkan Isbedy Stiawan ZS, sastrawan Lampung, sebaga pembanding.

Jiwa-jiwa Merdeka, dikatakan penyair berjuluk Paus Sastra Lampung, adalah hak setiap individu yang harus dimiliki. Jiwa yang merdeka harus berdaulat pada diri sendiri dan bertanggungjawab atas kemerdekaannya.

"Apabila jiwa sudah merdeka, kita tak pernah takut pada siapa pun kecuali pada Allah. Pikiran dan kreasi kita akan merdeka," katanya.

Namun, lanjut Isbedy, kemerdekaan tetap mesti tahu batasan, tatacara, aturan-aturan yang telah disepakati oleh masyarakat.

"Bukan lantas karena merdeka, kita tabrak aturan, undang-undang, maupun norma yang ada dan telah disepakati," ujar Isbedy.

Bedah buku ini, selain dihadiri kalangan mahasiswa, juga ormas Garbi Lampung, tokoh pemuda Agusri Junaidi, owner Aura Book Ikhsanuddin, dosen UIN Nurkholis, dan lain-lain.

Bedah "Jiwa-Jiwa Merdeka” karya Komiruddin ini ditutup pembacaan puisi "Di Alunalun Itu Ada Kalian, Kupukupu, dan Pelangi" oleh Isbedy Stiawan ZS. (*)

 

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID