Kejati Tetapkan Asisten II Pemprov Lampung Tersangka Kasus Korupsi Pengadaan Jagung
Segan Simanjuntak
Kamis | 25/03/2021 11.42 WIB
Kejati Tetapkan Asisten II Pemprov Lampung Tersangka Kasus Korupsi Pengadaan Jagung
ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Kalbi Rikardo

RILIS.ID, Bandarlampung – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung menetapkan Asisten II Pemprov Lampung Edi Yanto (EY) sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan bantuan benih jagung tahun anggaran 2017.

Selain EY, Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung Herlin Retnowati (HR/HRR) dan Imam (IMA) juga ditetapkan sebagai tersangka. Baca: Kejati Periksa Kadisbun-Kabid DTPH Lampung Terkait Dugaan Korupsi Benih Jagung

"Hari ini Kejaksaan Tinggi Lampung telah menetapkan tersangka dalam kegiatan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan bantuan benih jagung pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian yang dialokasikan untuk Provinsi Lampung tahun anggaran 2017," kata Kasipenkum Kejati Lampung Andrie W Setiawan dalam keterangannya, Kamis (25/3/2021).

Andrie menjelaskan kasus ini bermula adanya program pemerintah untuk mewujudkan swasembada jagung di Indonesia dengan cara pengajuan proposal kepada Kementerian Pertanian secara elektronik (e-proposal) pada 2017.

"Dari pengajuan tersebut, Lampung mendapatkan alokasi anggaran berkisar Rp140 miliar," ujarnya.

Berdasarkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang, Kementan mensyaratkan agar uang tersebut dipergunakan  atau dibelanjakan untuk benih varietas hibrida (pabrikan) sebanyak 60 persen dari nilai anggaran dan benih varietas hibrida Balitbangtan sebanyak 40 persen dari nilai anggaran tersebut.

"Kemudian PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) melaksanakan penandatanganan kontrak sebanyak 12 kontrak dalam lima tahapan kegiatan dengan jenis benih varietas yang diadakan sebanyak 9 jenis benih varietas hibrida dan salah satu varietas yang diadakan adalah jenis benih varietas Balitbang dengan merek BIMA 20 URI," jelas Andrie.

Dalam penunjukan penyedia varietas benih jagung Balitbangtan, PPK kemudian menunjuk PT DAPI yang mengaku sebagai distributor yang ditunjuk oleh PT ESA untuk Lampung.

"Dengan pelaksanaan kontrak sebanyak dua kali dengan nilai kontrak sebesar lebih kurang Rp15 miliar yang dialokasikan untuk lebih kurang 26.000 hektare lahan tanam dengan jumlah benih sebanyak 400 kg yang disebar di Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Lampung Utara," ungkap Andrie.

Ia menambahkan penyidik memperoleh fakta bahwa PT DAPI tidak pernah mendapatkan dukungan dari produsen jenis benih BIMA 20 URI, melainkan proses yang terjadi di dalam proses pengadaan hanya proses jual beli antara PT DAPI dengan PT ESA.

"Dalam mengadakan benih varietas penyedia yang ditunjuk dalam hal ini PT DAPI mengadakan sendiri (membeli dari pasar bebas) sehingga kualitas daripada benih yang diadakan menjadi tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan (sertifikat kadaluarsa / sertifikat tumpang tindih)," ujarnya.

Menurut Andrie, penyelidikan kasus ini menggunakan sumber informasi awal yang tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK yang menemukan adanya indikasi kerugian negara atas pekerjaan PT DAPI karena benih melebihi batas masa edar atau kadaluarsa.

"Selain itu juga benih tidak bersetifikat senilai lebih kurang Rp8 miliar. Saat ini proses perhitungan kerugian keuangan negara sedang dikoordinasikan dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI," ungkapnya.

Andrie menyatakan ketiga tersangka disangkakan pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 ayat (1), (2) dan (3) UURI No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU RI No.20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP.

Juga subsider pasal 3 jo pasal 18 ayat (1), (2) dan (3) UURI No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UURI No.20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP.

"Dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara," pungkasnya. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID