Kukang Albino Segera Dilepasliarkan, lalu Dipantau GPS Collar
lampung@rilis.id
Minggu | 02/09/2018 18.41 WIB
Kukang Albino Segera Dilepasliarkan, lalu Dipantau GPS Collar
rimata langka kukang albino yang berhasil diselamatkan BKSDA Bandarlampung. FOTO: Istimewa/Media IAR

RILIS.ID, Bandarlampung – Setelah berhasil menyelamatkan kukang albino, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah III Bandarlampung segera melepasliarkan primata langka tersebut ke alam bebas.

Baca Juga: BKSDA Selamatkan Primata Langka Kukang Albino

“Kami segera melepasliarkan kukang ini di alam bebas. Untuk pemantauannya akan dipasang GPS Collar agar lokasi kukangnya lebih mudah dipantau, Nanti, kami dari BKSDA akan bekerjasama dengan IAR (International Animal Rescue) Indonesia untuk pelepasliaran dan monitoring itu,” jelas Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Bandarlampung, Teguh Ismail, seperti keterangan tertulis yang diterima rilislampung.id, Minggu (2/9/2018).

Kukang atau yang dikenal dengan si malu-malu merupakan primata yang  dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P 20 tahun 2018.

Sesuai pasal 21 ayat (2) Undang-undang No. 5 tahun 1990, setiap orang dilarang untuk menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa dilindungi.

Kukang juga dilindungi oleh peraturan internasional dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Primata nokturnal (aktif di malam hari) itu juga termasuk ke dalam daftar 25 primata terancam punah di dunia.

Kukang terancam punah akibat kerusakan habitat, perburuan dan perdagangan untuk pemeliharaan serta digunakan untuk kebutuhan klenik.

Kukang yang ada di Indonesia, umumnya memiliki rambut  dominan berwarna coklat muda sampai coklat tua. Berbeda dengan kukang albino yang sekarang ditangani oleh PPS BKSDA dengan rambut dominan berwarna putih kekuningan

Menurut drh. Sugeng Dwiastono, Dokter hewan PPS BKSDA Wilayah III Bandarlampung, kukang albino ini terjadi karena ketiadaan melanosit yang menghilangkan pigmen warna pada kulit atau bulu.

"Umumnya albino itu merupakan kelainan genetis, pigmen atau sel melanosit sangat sedikit sehingga menyebabkan warna rambut dan kulit berwarna putih, juga warna mata menjadi lebih terang," ujarnya.

Kukang albino ini ternyata sangat langka, karena keberadaannya yang sangat jarang di alam bebas.

"Kemungkinan adanya kukang albino sangat kecil, bahkan ini baru pertama kali saya melihat kukang albino,“ tambah Sugeng.

Dari Hasil pengecekan diketahui bahwa kukang albino ini secara umum memiliki kondisi yang sehat dan baik. Primata ini berjenis kukang sumatra, berjenis kelamin betina  dan berusia dewasa. "Kondisinya cukup baik untuk dilepasliarkan, semoga saja bisa cepat kembali ke alam,” tutupnya. (*)

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID