Lukisan Mural Sulap Kolong Flyover Antasari Jadi Menarik

Jumat | 23/02/2018 21.58 WIB
Lukisan Mural Sulap Kolong Flyover Antasari Jadi Menarik
Tujuh pelukis graffiti yang tergabung dalam Lampung Street Art (LSA) kembali beraksi di kolong flyover Pangeran Antasari, Sukarame, Bandarlampung, Jumat (23/2/2018). FOTO: RILIS.ID/El Shinta

RILIS.ID, – Lampung Street Art (LSA) kembali beraksi di jalanan. Tujuh pelukis graffiti bersilaturahmi sekaligus mengekspresikan diri dengan ‘mencoret-coret’kolong flyover Pangeran Antasari-Tirtayasa, Sukarame, Bandarlampung, Jumat (23/2/2018).

Tujuh pelukis graffiti itu semuanya perempuan dengan kisaran usia 22-25 tahun. Mereka terlihat asyik menulis ide dan gagasan di kolong flyover yang kumuh dan tak menarik. Tentunya menggunakan komposisi, warna, garis, bentuk, volume, dan cat semprot kaleng atau pilox.  

“Ada tujuh writer atau bombers yang ikut kegiatan Thanks God Its Friday (TGIF) ini. Kita mulai dari jam 10 sampai selesainya. Khusus untuk hari ini semua writer-nya perempuan dan tema gambarnya bebas,” kata anggota LSA, Dedek Rezeki Saputra kepada rilis.id, Jumat (23/2/2018).

Menurut Dedek, kegiatan TGIF ini untuk menjalin silaturahmi para anggota LSA yang sudah jarang turun ke jalan. “Kumpul bareng, gambar bareng di jalan. Karena sudah lama tidak berkarya di ruang publik, terakhir berkarya di ruang publik Hari Kartini tahun 2017," jelasnya.

Dedek menuturkan, TGIF ini juga memiliki tujuan untuk mencari bibit baru bombers khususnya dari kalangan kaum perempuan.

“Kita cari orang baru khususnya perempuan yang punya hobi di bidang yang sama dengan kita. Intinya lebih ke arah mengajak dan membuktikan, meskipun mereka perempuan, ya mereka juga bisa," ungkapnya.

LSA sengaja memilih flyover Antasari-Tirtayasa untuk mengganti gambar yang lama. “Gambar kita di sini (Flyover Antasari-Tirtayasa) kan sudah lama nggak diganti, sudah dicoret-coret juga dengan gambar yang lain, jadi mau dirapihin lagi. Terus karena ini perempuan semua writer-nya, makanya dicari tempat yang aman dari panas dan hujan,” paparnya.

Salah seorang pelukis graffiti bernama Tasya mengaku sudah mengenal dunia seni jalanan ini sejak tahun 2013 lalu. “Dari kelas 2 SMP memang suka menggambar, tapi medianya di kertas, terus ngeliat teman-teman banyak yang menggambar graffiti, ya ngalir saja jadi ikutan,” ucap dara 22 tahun itu.

Mahasiswi Universitas Negeri Islam (UIN) Raden Intan ini mengaku awalnya sempat dilanda rasa takut saat menasbihkan diri sebagai salah satu writer di LSA.

Tasya mengaku sempat mengalami kejadian tak mengenakan saat tengah mencoret dinding. “Dunia seni jalanan seperti grafitti ini kan imej-nya masih seram, bagi yang nggak mengerti, ya ini seperti vandalisme. Tapi karena lama-lama terbiasa nggak takut lagi. Dulu pernah waktu menggambar di flyover Unila, lagi gambar digangguin orang gila seharian, takut juga,” bebernya.

Ia mengaku mengikuti kegiatan TGIF untuk menunjukkan ke publik bahwa tindakan yang dilakukan bersama rekan-rekannya bukan vandalisme. “Tidak semua gambar itu vandal, ini bentuk kami menunjukkan ke masyarakat bahwa imej para bombers nggak melulu negatif," tandasnya. (*)

 

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID