Masker Langka, KPPU Belum Temukan Pelanggaran
lampung@rilis.id
Rabu | 04/03/2020 15.28 WIB
Masker Langka, KPPU Belum Temukan Pelanggaran
Masker tak tersedia di Apotek Enggal, Tanjungkarang Pusat, Selasa (3/3/2020)./FOTO ISMI RAMADHONI/RILISLAMPUNG.ID

RILIS.ID, BANDARLAMPUNG – Kekhawatiran akan penyebaran virus corona sepertinya mulai melanda beberapa warga di Lampung. Itu bisa dilihat dari kelangkaan masker di toko-toko yang biasa menjualnya pada beberapa daerah di Lampung.

Pantauan Rilis Lampung pada beberapa apotek di Kota Bandarlampung kehabisan stok masker. Seperti di Apotek Enggal, Tanjungkarang Pusat (TkP), yang menurut petugas di apotek itu stoknya sudah kosong sejak sebulan lalu.

Kemudian, di Apotek Kita, Jl. Teuku Umar, TkP. Juga sudah sejak sebulan lalu juga kehabisan stok masker. Termasuk di Apotek Dian yang berlokasi di jalan yang sama.

Wartawan media ini juga sempat mendatangi Apotek Kimia Farma di Jl. Kartini No. 45, TkP. Salah satu karyawan di apotek itu mengatakan stok masker di sana hanya dibatasi 250 pcs. Menurut dia, apoteknya membatasi setiap orang hanya boleh membeli maksimal 10 masker.

”Setiap hari kami menyediakan 250 pcs. Itu langsung habis. Makanya kami batasi pembeliannya. Kami menjual satu masker Rp8.000,” katanya.

Kelangkaan masker juga terjadi di Kabupaten Waykanan. Mugi, salah satu karyawan yang bekerja di Apotek Waykanan Baradatu mengaku stok masker di apoteknya kosong.

”Sudah sulit sekarang mau dapat masker, kami memang tidak dapat kiriman dari distributornya,” ucapnya.

Menurut dia, untuk permintaan sebenarnya tidak ada kenaikan yang signifikan, tetapi untuk harganya memang ada kenaikan.

”Tadinya kami menjual Rp1.500 per masker. Kini kami jual Rp6 ribu per maskernya. Penyebabnya memang sudah naik dari distributornya,” kata dia.

Kondis kelangkaan masker juga terjadi di Kabupaten Lampung Barat (Lambar). Doni (30), warga Sukamenanti, Kecamatan Balikbukit, Lambar mengaku kesulitan mendapatkan masker.

”Saya keliling Indomaret dan Alfamart dari Tugu Liwa hingga Kodim untuk membeli masker, masker nggak ada yang jual lagi,” katanya kepada Rilis Lampung, Selasa (3/3/2020).

Menurut dia, akhirnya masker didapatkannya di salah satu toko. Kendati begitu, harganya cukup mahal. Per satu masker dijual Rp10 ribu. Padahal sebelumnya Rp30 ribu untuk 5 pcs.

Sementara, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) hingga Selasa (3/3/2020), belum menemukan adanya dugaan pelanggaran dalam perdagangan masker di pasaran.

Hal itu disimpulkan dari temuan sementara penelitian inisiatif yang dilakukan KPPU dalam menyikapi kenaikan dan kelangkaan harga masker di pasaran sejak awal Februari hingga 2 Maret 2020.

Penelitian tersebut memang menunjukkan kenaikan harga masker terutama jenis 3 ply mask dan N95 mask yang sangat signifikan. Namun saat ini, kenaikan masih dipacu oleh merebaknya virus corona atau novel coronavirus (COVID-19) di seluruh dunia.

Hasil penelitian tersebut disampaikan di Forum Jurnalis terkait Temuan Sementara Penelitian KPPU atas Kelangkaan Masker di Pasaran pada 3 Maret 2020 oleh Anggota KPPU Guntur S. Saragih dan Direktur Ekonomi KPPU M. Zulfirmansyah.

Dalam rentang waktu tersebut, KPPU melihat adanya kenaikan harga yang signifikan dari harga normal. KPPU melihat ada peningkatan demand yang tinggi di pasar yang tidak diiringi dengan peningkatan supply dari produsen.

Di mana, jumlah produksi antarprodusen tidak sama. KPPU telah melakukan konsolidasi data dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian, di mana pembuktian memperlihatkan berkurangnya stok masker dan tingginya demand. Penelitian tersebut dilakukan di area Jabodetabek dan seluruh wilayah kerja kantor wilayah KPPU.

KPPU belum menemukan adanya pelaku usaha besar yang menjadi sumber kenaikan harga masker di pasaran. Dari struktur, saat ini terdapat banyak pelaku usaha di pasar masker Indonesia.

Tercatat ada 28 perusahaan produsen masker yang terdaftar melalui izin yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, 55 perusahaan distributor masker, dan 22 perusahaan importir masker.

Dari penelitian juga ditemukan belum ada pelaku usaha besar yang melanggar aturan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat di pasar.

KPPU juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi pengumuman yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020 bahwa di Indonesia telah ditemukan suspect pasien yang terinfeksi COVID-19.

Kepanikan ini membuat meningkatnya daya beli di pasaran dan meningkatkan kebutuhan secara mendadak, sehingga sangat rentan dimanfaatkan oleh pasar untuk menaikkan harga. KPPU berharap masyarakat dapat teredukasi dengan baik dan bertindak cerdas dalam bertransaksi.

KPPU juga mengapresiasi pelaku usaha yang tidak melakukan peningkatan harga dan memanfaatkan situasi yang tengah terjadi saat ini.(ism/yul/ari/rls/whk)

Editor Wirahadikusumah


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID