Membangkitkan Kepedulian untuk Lombok Lewat Literasi
lampung@rilis.id
Sabtu | 08/09/2018 06.00 WIB
Membangkitkan Kepedulian untuk Lombok Lewat Literasi
Ikhsanudin, Founder YMI (Yuk Menulis Indonesia)

SAYA bersyukur berkesempatan hadir ke Lombok, Nusa Tengara Barat pada 16-19 Agustus lalu. Kesempatan ini sesungguhnya telah lama saya nantikan sejak terjadinya gempa Lombok.

Rasanya ingin sekali terlibat dalam program kerelawanan. Sampai cari-cari info lembaga yang bisa nampung saya. Alhamdulillah, entah sebuah kebetulan atau tidak akhirnya mimpi tersebut dapat terwujud.

Lombok bagi saya sangat berkesan. Saya masih ingat keramahtamahan masyarakat dan eksotisme alam saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau seribu masjid 18 tahun lalu.

Tidak berlebihan jika perpaduan ini menjadi kekuatan dan daya tarik siapapun untuk mengunjunginya. Bahkan mampu mengantarkan NTB menjadi salah satu destinasi yang dipersiapkan menjadi tempat wisata kelas dunia.

Namun hari ini, 16 Agustus 2018, saya melihat Lombok ”hancur”. Banyak bangunan rumah dan tempat ibadah rata dengan tanah. Saya dapat  merasakan langsung kesedihan dan trauma yang dialami saudara-saudara kita itu.

Tak banyak yang dapat dilakukan saat itu. Kami hanya melihat dan menyalurkan bantuan sembari membangun relasi dengan relawan yang telah lebih dahulu hadir dan warga di lokasi. Setelah beberapa hari kamipun kembali.

Kunjungan perdana ternyata tidak berhenti begitu saja, kawan-kawan lainnya terus mengorganisasi kegiatan untuk bisa melakukan kerja-kerja lainnya ketimbang hanya datang dan memberi bantuan.

Mereka menindaklanjutinya dengan membentuk grup diskusi melalui WhatsApp yang bertujuan melibatkan lebih banyak orang dari berbagai kalangan.

Hasil diskusi disepakati bahwa kegiatan lanjutan dilakukan pada 6-9 September 2018. Akhir pekan dipilih agar tidak banyak menganggu aktivitas. Meski demikian peserta diberi kebebasan untuk memperpanjang masa kerjanya bilamana mereka menginginkan.

Saya sendiri berhalangan untuk ikut dalam kegiatan lanjutan tersebut. Meski demikian saya tetap mendapat perkembangan kabar dan ikut memberi masukan berdasar pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki. Kebetulan saya bergelut di dunia penerbitan buku dan pengembangan literasi.

Saya mengusulkan kepada para relawan yang tergabung untuk menuliskan pengalaman-pengalaman mereka untuk selanjutnya dibukukan. Buku tersebut selain menjadi salah satu dokumentasi kegiatan, juga diharapkan dapat menjadi media fund rising untuk membantu saudara-saudara kita di Lombok.

Meski tak intens mengikuti diskusi dan kegiatan, usulan tersebut rupanya masuk dalam bahasan diskusi. Satu persatu peserta kegiatan ini mulai menulis. Ide membuat buku berjudul Berbagi untuk Bangkit Kembali; Catatan Relawan 69 pelan-pelan mulai berjalan.

Dimulai oleh Marta Satria Putra, hakim muda asal NTB yang menawarkan gagasan kolaborasi. Lalu menyusul Jihan Nurlaila, dokter muda asal Lampung yang mengajak anak-anak muda.

Dua artikel itu turut memicu jaksa asal Lampung Andrie dan Bupati Lampung Timur yang juga Wagub Lampung, Chusnunia Chalim, terpilih ikut menulis. Tak kalah semangat seorang guru ngaji asal Mataram ikut menuliskan pandangannya.

Saya juga ikut membangun komunikasi dengan rilislampung.id yang ikut memuat artikel-artikel pendek tersebut. Komunikasi mulai dibangun dengan menawarkan gagasan untuk bersama-sama menerbitkan artikel-artikel tersebut menjadi sebuah buku.

Gayung bersambut. Pemimpin redaksi rilislampung.id, Ade Yunarso, merespons gagasan ini. Lagi-lagi tak ada obrolan formal dan komunikasi, sebatas melalui WhatsApp. Saya tentu merasa senang sekali ide sederhana ini bergulir mengalir tanpa hambatan dan melahirkan partisipasi.

Saya merasa harus ikut terlibat dalam gerakan membangkitkan energi positif bagi saudara-saudara kita di Lombok melalui apa yang saya pahami selama ini, yakni literasi. Rencananya penjualan buku ini juga akan didedikasikan untuk membantu saudara-saudara kita di Lombok.

Jujur kini saya tak lagi merasa risau tak mengikuti kegiatan kedua ini.Terlebih kabar yang saya dapatkan bahwa selain kegiatan yang kami lakukan juga ada donasi yang dikumpulkan oleh para guru di Lampung Timur juga diarahkan kepada bantuan-bantuan yang berkaitan dengan pendidikan.

Donasi tersebut akan digunakan untuk membangun sekolah-sekolah darurat, mendistribusikan keperluan pendidikan anak-anak dan pengadaan buku-buku bacaan untuk anak. Sebuah sinergi yang tak pernah direncanakan sebelumnya.

Dari Lampung dan dari apa yang kita pahami  kita tetap dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi saudara-saudara kita. Akhirnya seperti judul buku yang direncanakan, semua ini dilakukan dalam semangat berbagi untuk bangkit kembali. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID