Membangun Kembali Lombok dengan Kolaborasi
lampung@rilis.id
Senin | 27/08/2018 06.00 WIB
Membangun Kembali Lombok dengan Kolaborasi
Martha Satria Putra, Hakim asal NTB

PENGALAMAN beberapa hari di Lombok membuat saya dan teman-teman tersadarkan bahwa problem utama para korban gempa saat ini bukan lagi soal makanan dan barang-barang kebutuhan lainnya.

Bantuan yang terus mengalir dari berbagai elemen rakyat Indonesia ternyata belum mampu menyelesaikan problem utama mereka, yakni trauma akan gempa.

Rasa trauma yang tak kunjung berhenti sejak gempa utama menyebabkan mereka tinggal di luar rumah saat malam hari. Mereka hidup berdesak-desakan di tenda-tenda pengungsian.

Kurangnya istirahat akibat kekhawatiran akan terjadinya gempa susulan tentu berpengaruh terhadap produktivitas dan psikologis warga.

Berangkat dari persoalan tersebut ide untuk membangun shelter-shelter per keluarga diharapkan dapat membantu mengurangi trauma secara perlahan. Ini sembari menunggu perkembangan waktu rekonstruksi rumah-rumah mereka beberapa bulan ke depan.

Shelter-shelter yang didorong menjadi kampung kolaborasi ini juga perlahan dilengkapi dengan sekolah dan tempat ibadah sementara.

Lewat shelter ini setiap keluarga diharapkan tidak lagi tinggal bersama di tenda-tenda pengungsian bersama, melainkan bersama keluarga. Dengan demikian anak-anak menjadi lebih nyaman. Masyarakat di Lombok tentu butuh melanjutkan hidup seperti saat sebelum terjadinya gempa.

Ide membangun shelter kolaborasi ini tentu saja tidak bisa diterapkan di seluruh tempat. Saya melihat kolaborasi pendirian shelter-shelter ini bisa dimulai dari dusun-dusun kecil yang kebetulan juga terdapat relawan yang telah terlatih.

Di satu tempat yang kami kunjungi ada sebuah dusun yang cukup jauh dari jalan utama, tapi menariknya ada sekelompok relawan terlatih yang mendampinginya.

Kolaborasi dapat dimulai dengan kerjasama antara relawan di lokasi dan relawan di perkotaan yang bertugas memobilisasi bantuan untuk pendirian shelter kampung dan berbagai keperluan lainnya.

Pembiayaan shelter bisa melibatkan partisipasi dari berbagai kalangan sehingga mampu mendukung kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Relawan di perkotaan juga bisa membuat program live in bersama di akhir pekan dengan melibatkan para profesional seperti hakim, dosen, guru, dokter, arsitek, dan pecinta alam untuk berbagi keahlian bersama para korban gempa sebagai upaya mempercepat trauma healing.

Demikian pokok-pokok  sebagai bahan diskusi bersama dalam kerangka semangat berbuat untuk kebaikan. Meski kecil, ia akan tetap dikenang sejarah. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID