Mengoptimalkan Pemanfaatan Tanaman Ubikayu untuk Pangan dan Pakan
lampung@rilis.id
Minggu | 11/04/2021 19.33 WIB
Mengoptimalkan Pemanfaatan Tanaman Ubikayu untuk Pangan dan Pakan
Oleh: Dr. Ir. Erwanto, M.S. (Dosen Fakultas Pertanian Unila & Anggota DRD Lampung).

Ketika acara diskusi pengembangan agribisnis ubikayu di Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung (Unila) pada Rabu (31/3/2021) muncul pertanyaan menarik dari peserta, Azhari Rangga, M.Sc.

Ia menanyakan, apakah memungkinkan produk ubikayu yang sangat berlimpah di Lampung digunakan untuk pakan ternak?

Beliau menawarkan alternatif tersebut sebagai solusi anjloknya harga ubikayu di Lampung yang menghebohkan beberapa pekan sebelumnya. Ide ini menarik, hanya saja sebaiknya dari produk ubikayu diambil terlebih dahulu patinya untuk pangan, kemudian sisa biomassa lainnya (sisa panen dan pengolahan hasil) yang digunakan untuk pakan ternak.

Acara FGD yang diinisiasi DRD Lampung bekerja sama dengan FP Unila tersebut secara khusus membahas capaian riset ubikayu di FP Unila dan prospek pengolahan ubikayu menjadi tepung mocaf (modified cassava flour).

Mocaf adalah tepung ubikayu yang ”perilaku” patinya telah sedikit direkayasa, sehingga agak menyerupai tepung terigu. Tepung mocaf bisa digunakan untuk mensubstitusi sebagian tepung terigu pada pembuatan biskuit, kue kering, dan bahkan kue basah. Praktik penggunaan tepung mocaf untuk aneka produk pangan sudah banyak diterapkan di dunia.

Komisi Ketahanan Pangan dan Inovasi DRD Lampung menyampaikan kemajuan riset ubikayu yang telah dicapai di FP Unila, antara lain: mesin pemotong batang singkong untuk bibit (petokong); mesin perajang batang singkong (rabakong) untuk pakan ternak; teknologi pembuatan gula cair dari singkong (gulakong); ransum ternak berbasis batang singkong yang diperkaya dengan suplemen multi nutrien saos (MNS); serta temuan riset lainnya. Riset-riset tersebut ditujukan untuk meningkatkan kinerja agribisnis singkong melalui peningkatan daya guna biomassa singkong.

Komisi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada diskusi tersebut sangat mengapresiasi inisiatif dan kreativitas dari komunitas penggiat ekonomi lokal, yang telah mendorong tumbuhnya industri pangan berbasis mocaf.

Kegiatan tersebut sejatinya adalah bagian dari industri kreatif yang memperkaya hasanah kuliner lokal. Inisiatif seperti ini sangat diperlukan karena hasilnya berdampak luas tidak hanya pada ekonomi kerakyatan, tetapi juga pada ketahanan pangan khususnya diversifikasi pangan yang masih tersendat. Selain itu, berkembangnya aneka ragam produk kuliner lokal juga berkontribusi positif terhadap pengembangan sektor pariwisata Lampung.

Kembali kepada topik di judul artikel ini, hasil-hasil kajian membuktikan bahwa seluruh bagian dari tanaman ubikayu dapat menjadi pakan ternak. Formula ransum berkualitas berbasis ubikayu sangat mungkin disusun. Daun ubikayu diketahui memiliki kadar protein yang tinggi dan sumber asam amino esensial yang lengkap untuk ternak. Kulit ubikayu juga sudah digunakan sebagai pakan ternak sapi.

Selain itu, ampas pengolahan ubikayu yang terkenal dengan sebutan onggok termasuk komponen ransum yang sering digunakan. Kehadiran mesin rabakong produk FP Unila (yang kini sedang menanti terbitnya SNI) sangat memungkinkan batang singkong melengkapi formula ransum berbasis ubikayu.

Ransum berbasis biomassa ubikayu (batang singkong) tentu saja masih perlu disempurnakan dengan menambahkan produk suplemen dan aditif. Produk multi nutrien saos (MNS) yang juga hasil riset di FP Unila telah diuji untuk meningkatkan kualitas ransum berbasis biomassa ubikayu pada ternak sapi.

Hasil pengujian memperlihatkan bahwa ransum berbahan sisa panen dan sisa pengolahan ubikayu yang diperkaya dengan MNS dapat meningkatkan produksi ternak sapi. Hasil riset ini mengantarkan Fakultas Pertanian Unila memperoleh Rekor MURI yang kelima dengan judul: ”Penemu Pakan Ternak Berbasis Batang Singkong” pada 10 Agustus 2020.

Dari beragam problem dan prospek yang dibahas dalam FGD dapat ditarik beberapa isu strategis terkait masa depan agribisnis ubikayu di Lampung: (a) Komoditas ubikayu sudah jelas adalah salah satu pilihan petani; (b) Saatnya didorong pengembangan teknologi tepat guna untuk mengolah ubikayu (sebagian kecil saja dari produksi) menjadi tepung mocaf;

Kemudian (c) Industri pangan (kuliner) berbasis tepung mocaf perlu difasilitasi pengembangannya dan dirancang menjadi industri kreatif yang menunjang pariwisata; (d) Perlu dikembangkan skema kerjasama partnership (skala kecil) antara produsen ubikayu dan industri pengolahan mocaf); dan (e) Seluruh biomassa sisa panen (daun dan batang ubikayu) dan sisa pengolahan hasil (kulit ubikayu dan onggok) dimanfaatkan untuk ransum ternak.

Kita bersyukur, pada pertemuan di Mahan Agung pada Rabu (24/3/2021) telah dicapai kesepakatan harga singkong di Lampung minimal Rp900 per kilogram. Pertemuan koordinasi yang diinisiasi gubernur Lampung dan dihadiri stakeholders agribisnis ubikayu terbukti sangat efektif meredam anjloknya harga ubikayu.

Agar lebih efektif dan lemanjut, capaian tersebut tentunya perlu disusul dengan kebijakan-kebijakan lain yang lebih sistematis, komprehensif, dan saling menenggang. Semoga kelak komoditas ubikayu bisa juga ikut mengantarkan Petani Lampung Berjaya. Tabik Pun Nabik-tabik!(*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID