Menguji Taji KPK Menghadapi ’Kanjeng Ratu’
lampung@rilis.id
Sabtu | 24/04/2021 06.15 WIB
Menguji Taji KPK Menghadapi ’Kanjeng Ratu’
Rosim Nyerupa SIP, Aktivis Muda Lampung

MUSTAFA adalah sosok publik figur yang tidak hanya cakap berbicara di hadapan masyarakat. Tetapi juga pintar melantunkan lagu dengan suara emas yang menjadi ciri khasnya.

Ia bahkan terbilang cukup paling energik di antara kepala daerah di Lampung saat itu. Nama Mustafa semakin mengudara di berbagai penjuru Lampung pasca dirinya memutuskan ikut serta dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) tahun 2018 lalu.

Namun lagu-lagu yang kerap didengar publik lewat suara emasnya baik sewaktu menjabat bupati Lampung Tengah maupun momentum kampanye pada pilgub, berubah pasca Mustafa terkena OTT KPK.

Lagu-lagu tersebut berubah menjadi ’nyanyian’ sederet nama yang didendangkan Mustafa. Salah satu di antaranya adalah wakil gubernur Lampung saat ini, Chusnunia Chalim.

Dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap dan gratifikasi di Pengadilan Negeri Tipikor Bandarlampung, Kamis (4/3/2021) -- sosok yang tak pernah absen mengabadikan berbagai momen harian di Instagram Story milik akun pribadi miliknya itu, menyampaikan kesaksiannya di hadapan hakim dan jaksa.

Saya sampai bolak-balik memutar cuplikan video persidangan. Saya melihat raut muka Nunik terlihat pucat. Tidak tahu kenapa.

Jika membuka rekam jejak digital, tidak hanya media lokal yang memberitakan. Media nasional ikut menyoroti hubungan Nunik dan KPK dalam berbagai pusaran kasus korupsi.

Siapa menduga alih-alih berpikir liar, sosok ini membuat masyarakat tercengang dan menimbulkan pertanyaan berbagai pihak, termasuk saya secara pribadi. Saya bahkan sempat berfikir, ’matei kak hibat orang ini’.

Dalam persidangan yang berlangsung pada 22 April 2021, tak salah-salah elit PKB Lampung ikut memberanikan diri demi kebenaran, mengatakan DPW pernah mengadakan rapat pleno membahas dukungan untuk Mustafa pada Pilgub Lampung.

Hal tersebut disampaikan Okta Rijaya, Wakil Ketua DPW PKB Lampung yang juga jadi saksi dalam persidangan. Jika dicermati artinya serius urusan ini.

Kemudian, pengakuan mantan Ketua DPD PKB Lampung Tengah, Slamet Anwar, yang menurutnya dipaksa Chusnunia Chalim mengaku telah menerima uang sebesar Rp150 juta.

Ada lagi fakta baru yang terungkap dalam persidangan pada 22 April dari sopir anggota DPRD Lampung Midi Iswanto, yakni Syaifudin. Ia secara terang mengatakan dirinya mengantar uang Rp1 miliar untuk seseorang yang disebut ’Kanjeng Ratu’.

Pikiran saya sempat liar, saya kira Kanjeng Ratu yang dimaksud ada kaitannya dengan Kanjeng Ratu Kidul dalam cerita masyarakat di Pulau Jawa dan Bali itu. Ternyata tidak.

Belakangan diketahui, istilah Kanjeng Ratu merujuk pada Ketua DPW PKB Lampung Chusnunia Chalim.

Sidang lanjutan kasus yang menimpa Mustafa ini pun membuat saya tidak bisa move on dari pemblokiran akun Instagram milik saya tahun 2019 lalu, yang diduga dilakukan akun pribadi milik wakil gubernur Lampung itu.

Masih terekam jelas dalam benak saya, akun saya diblokir setelah menyampaikan kritik di salah satu postingan Instagram miliknya.

Kritik sengaja disampaikan melalui kolom komentar pada postingan dengan harapan bisa dibaca langsung oleh perempuan yang akrab disapa Nunik ini. Kritik sebagai wujud hidupnya demokrasi di tanah Lampung.

Saat itu saya bahas mengenai ultimatum KPK pada November 2019 lalu karena Nunik tidak mengindahkan panggilan lembaga anti rasuah itu. Dia menjadi saksi dugaan korupsi proyek di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Menyandang status sebagai saksi, Nunik memiliki kewajiban hukum dan diharapkan bisa memberikan keterangan secara benar.

Saat itu juga, saya dkk mencoba mengkritisi prilaku orang nomor dua di Lampung ini. Mungkin dia termasuk salah satu pejabat yang alergi kritik, makanya akun Instagram pribadi saya atas nama Rosim Nyerupa diblokir olehnya sampai hari ini.

Peristiwa itu cukup membuat saya lelah berpikir. Sedikit menyesal karena tidak bisa lagi mengikuti perkembangan terkini aktivitas hariannya di Instagram. Saya termasuk salah satu followers yang cukup setia mengikutinya di Instagram.

Cuitan Mustafa dan pengakuan beberapa saksi akan keterlibatan Nunik dalam pusaran kasus korupsi ini telah membuat catatan hitam pada dinding kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Arinal-Nunik.

Meskipun jalan persidangan masih berlangsung panjang dan keterlibatan Nunik dalam kasus tersebut masih didalami, tapi bisa saja menyebabkan trust masyarakat menurun.

Sebagai masyarakat, saya yakin Kanjeng Arinal sebagai Gubernur Lampung juga was-was terhadap cuitan beberapa saksi bahkan Mustafa sendiri.

Was-was bukan karena apa. Jika ending akhirnya Nunik terbukti bersalah dan ditetapkan jadi tersangka, ini akan berdampak terhadap citra baik dirinya sebagai gubernur Lampung.

Sebab, Nunik merupakan tandem politik yang berpasangan dengannya pada Pilkada 2018. Pasangan Arinal-Nunik berhasil memenangkan pilkada dengan perjuangan yang cukup melelahkan.

Apalagi beberapa gerakan pascapilkada berlangsung, menggugat pasangan tersebut. Mereka diduga melakukan kecurangan.

Ada lagi yang menyoal dugaan keterlibatan SGC dalam kontestasi Pilgub Lampung dengan sokongan amunisi yang tidak sedikit untuk kandidat tersebut. Tetapi, fakta hukum bicara pasangan Arinal-Nunik tidak bersalah.

Tidak sedikit teman-teman saya berpikir, jika Nunik ditetapkan jadi tersangka, Arinal berpotensi diseret-seret juga. Bagi saya itu pikiran liar.

Saya berpikir lain. Sebab, dugaan keterlibatan Nunik dalam pusaran kasus Mustafa adalah hal yang berbeda.

Selain dugaan menerima aliran dana hasil gratifikasi proyek Mustafa, Nunik juga diduga menghalang-halangi proses penyidikan atas kesaksiannya.

Dia sebagai pihak yang disebut-sebut berperan terkait penerimaan uang yang semula dari angka Rp30 miliar, kemudian berubah menjadi Rp22 miliar, dan berakhir di angka Rp18 miliar sebagai mahar politik agar PKB mendukung Mustafa pada Pilgub Lampung. Namun dukungan gagal karena Nunik juga ikut serta dalam kontestasi pilkada berpasangan dengan Arinal Djunaidi.

Akhirnya mahar Rp18 miliar yang telah diserahkan Mustafa dikembalikan sebanyak Rp14 miliar. Sedangkan, sisanya sebanyak Rp4 miliar itulah yang dipertanyakan Mustafa dalam persidangan ke Nunik mengapa tidak dikembalikannya ke KPK.

Sebagai gubernur Lampung, Arinal Djunaidi wajib kita jaga citranya. Ia merupakan simbol masyarakat Lampung, yang telah menunjukkan kinerja sangat baik bagi kemajuan Provinsi Lampung.

Jangan sampai konsentrasinya terganggu karena masalah-masalah bawahannya. Sebagai wujud kepedulian tentunya sikap kritis masyarakat adalah salah satu cara terbaik dalam upaya membantu mengontrol bawahannya, termasuk wakil gubernur Lampung.

Kita tidak ingin ada oknum bermasalah berada di lingkaran gubernur Lampung sehingga bisa merugikan kepemimpinannya dalam menjalankan tugas.

Dalam momentum hari Kartini ini, quote populer ’Habis gelap terbitlah terang’, nampak cocok kita kursorkan ke Nunik sebagai Kartininya Lampung dengan sebutan Kanjeng Ratu.

Kanjeng Ratu dalam strata masyarakat Lampung terbilang tinggi. Keteladanan harus senantiasa dipakai dalam kehidupan bermasyarakat. Karena menjadi panutan segenap keluarga kerabat bahkan masyarakatnya sendiri. Apalagi ia seorang pejabat publik.

Berbeda pada masyarakat di Pulau Jawa dan Bali. Kanjeng Ratu melekat pada sosok yang bernama Kanjeng Ratu Kidul.

Konon menurut cerita sosok ini roh suci yang mempunyai sifat mulia dan baik hati. Dia berasal dari tingkat langit tinggi, pernah turun di berbagai tempat di dunia dengan jati diri tokoh-tokoh suci setempat pada zaman yang berbeda-beda pula.

Pada umumnya dia menampakkan diri hanya untuk memberi isyarat  peringatan akan datangnya suatu kejadian penting.

Merujuk dari kedua penggambaran terhadap sifat sosok Kanjeng Ratu di Lampung, Pulau Jawa, dan Bali, semoga Kanjeng Ratu yang disebut dalam sidang lanjutan kasus Mustafa sama sifatnya meski objek dan alur ceritanya berbeda.

Jika kesaksian yang disampaikan beberapa saksi terkait Nunik dalam sidang kasus Mustafa tidak benar, bisa saja Nunik mengambil langkah hukum dengan melaporkan mereka kepada pihak berwajib. Karena selain menyampaikan cerita bohong juga merugikan citra baiknya.

Tapi, ini kita lihat Nunik nampak santai. Mengapa dia tidak melaporkan mereka ke pihak berwajib?

Sebagai masyarakat Lampung, kita berharap KPK bisa memegang teguh independensi dan tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi di tanah air. Termasuk debt collector partai politik yang bertugas menarik mahar politik di setiap momentum pilkada.

Mampukah KPK di bawah kepemimpinan Irjen Pol Firli Bahuri menguak dugaan keterlibatan Nunik dalam pusaran kasus Mustafa? Dengan segala kerendahan hati, saya ucapkan pada KPK, selamat menghadapi Kanjeng Ratu dengan segala kekuatannya. Salam. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID