Menuju Panggung Senayan, Ini Perintah Zulkifli Hasan untuk Agus BN

Jumat | 13/07/2018 08.15 WIB
Menuju Panggung Senayan, Ini Perintah Zulkifli Hasan untuk Agus BN
Dalam sebuah kesempatan Agus Bhakti Nugroho (kanan) mendampingi Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua DPW PAN Lampung Zainudin Hasan. FOTO:ISTIMEWA

RILIS.ID, Bandarlampung – Di lingkaran pengurus DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Lampung, nama Agus Bhakti Nugroho, bukan sosok pemula. Kiprahnya cukup membumi dalam merintis partai besutan Amien Rais itu sejak era reformasi 1998. 

Petualangannya di panggung politik lokal, membuatnya makin matang. Baik dalam bertindak dan bersikap di ranah politik. Torehan kegagalan demi kegagalan menuju kursi parlemen, sampai pencalonannya sebagai Wakil Bupati Tanggamus, menjadi pelajaran berharga untuk tetap melangkah secara konsisten di bawah bendera PAN.

Merasakan asam-garam perjalanan politik, akhirnya menemukan titik terang. Pria berkacamata, yang fasih berbahasa Jawa itu, dipercaya duduk sebagai Anggota DPRD Lampung, menggantikan Azizi dalam proses Pergantian Antar Waktu (PAW) beberapa waktu lalu.

Di ruang politik formal, Agus memainkan perannya sebagai Ketua Fraksi PAN DPRD Provinsi Lampung. Desakan kepentingan legislatif, sampai pesan-pesan khusus yang disuarakan oleh partainya, tentu bukan persoalan mudah untuk diimplementasikan. 

Contoh saja, terjadinya gesekan pasca Pilgub Lampung 27 Juni 2018. PAN secara tegas menolak pansus money politics lewat argumen yang telah disampaikan dalam pandangan fraksi dan berbagai dialog. Menurut PAN, dasar UU menjadi acuan. Bukan sekadar tata tertib dewan, yang secara jelas tidak masuk pada ranah hasil pilgub. 

Tapi kondisi berkata lain, PAN dituntut masuk dalam pansus. Kepiawaian Fraksi PAN kembali diuji dalam memainkan perannya di pansus bentukan mayoritas fraksi di DPRD Lampung.

”Ombak semakin deras mas. Kerja politik ini menuntut kita untuk mengikuti arah angin. Tak apa, tak perlu juga gusar. Langkah PAN tetap konsisten memenangkan pertarungan pilgub sampai final,” tutur politisi yang bergabung sejak kepengurusan Ibnu Hajar, tepatnya sebelum pemilu 1999, Jumat (13/7/2018).

Disinggung, soal rencana menuju kursi senayan pada Pileg 2019 mendatang, Agus sempat melepas tawa.

”Kira-kira saya ini sudah pas apa belum ya mas?” jawab ABN, balik bertanya.

Agus beberapa kali menghindar ketika ditanya soal pencalonannya. Dengan alasan, konsentrasi saat ini adalah tugas partai untuk mengawal jalannya pansus.   

”Yang pasti ini datangnya bukan dari diri sendiri. Tapi ini amanah, dan dorongan dari rekan-rekan di PAN,” tuturnya. 

Nah, dalam konteks pencalonan DPR RI, daerah pemilihan Lampung I (Lamsel, Bandarlampung, Pesawaran, Prengsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Lampung Barat dan Metro), Agus merasa memiliki tanggung jawab yang harus dijalankan. 

Ini terlepas dari kemampuannya menguasai teritorial wilayah sampai amunisi dalam proses pemenangan. Karena Agus begitu menyadari, sulitnya menembus kursi senayan di tengah persaingan yang begitu ketat. Terlebih, kontestan mayoritas tokoh-tokoh nasional yang sudah memiliki pengalaman dalam pertarungan.  

”Saya cerita sedikit ya. Sore hari menjelang magrib, Ketua umum PAN, Zulkifli Hasan menghubungi saya. Dalam teleponnya saya diperintahkan mencabut berkas untuk pencalonan DPRD Provinsi. Sontak saya kaget,” tutur Agus.

Ketua MPR RI, sambung Agus meminta dirinya mendaftarkan diri sebagai anggota DPR RI. Dengan alasan, partai membutuhkan dirinya, untuk memperkut posisi tawar PAN di panggung politik nasional. 

Ditambahkan Agus, Bang Zulhasan-sapaan akrab sosok yang dicalonkan sebagai kandidat capres itu, berharap PAN berbenah dan dituntut mampu mewarnai pembangunan lewat jalur politik secara ril bukan retorika semata.

PAN juga harus mampu menguasai kursi parlemen baik secara kuantitas maupun kualitas. Dan PAN juga harus mampu merangkul kekuatan umat, dan masuk pada ruang-ruang sempit untuk berdiplomasi. 

Pesan dan keinginan, Zulkifli Hasan itu, yang menurut Agus, menjadi tantangan tersendiri. Terlebih menjelang pilpres dan pileg 2019.    

”Kalau dihitung-hitung, sebenarnya banyak kader di dalam yang lebih layak dibandingkan saya, jujur saja. Saya sendiri sempat bingung kenapa kok saya,” ungkapnya. 

Muncul keraguan awalnya, tapi kondisi itu makin terkikis setelah Ketua DPW PAN Lampung Zainudin Hasan, juga meminta hal yang sama.  

”Ketua saya juga minta hal yang sama. Dia meyakinkan saya, untuk menerima perintah ini. Selang beberapa hari, saya bicara dengan istri dan keluarga. Akhirnya saya putuskan, mandat itu saya terima. Jujur mas, modal saya cuma Bismillah dan terus berusaha,” imbuh Agus. 

Selain modal nekat, satu hal yang Agus miliki adalah pengalaman. Jelajah politiknya pada ranah-ranah krusial seperti pertarungannya di pilkada dan maupun pileg, tentu tidak bisa dianggap remeh bagi rivalnya.

Pria jebolan Faktultas Hukum, Universitas Lampung itu menegaskan, bahwa niat yang tulus, dan bekerja dengan dasar amanah rakyat, diyakini dapat memenangkan pertarungan. 

”Yang dikedepankan itu kan niatnya dulu. Tujuannya apa. Tapi jika kerja politiknya untuk kepentingan rakyat, Insya Allah, benturan-benturan itu akan terbentuk menjadi hal positif. Rakyat yang menilai, tinggal kita yang mengerjakan,” pungkas mantan ketua senat mahasiswa Universitas Lampung itu, mengakhiri perbincangan dengan rilislampung.id. (*)
 

 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID