Nanggung! PT KAI Baru Tutup 5 dari 29 Perlintasan Maut

Sabtu | 03/03/2018 11.29 WIB
Nanggung! PT KAI Baru Tutup 5 dari 29 Perlintasan Maut
Perlintasan kereta api ilegal di Gang Inaba, Gunung Sulah, yang ditutup oleh PT KAI Subdrive IV Tanjungkarang beberapa waktu lalu. FOTO RILISLAMPUNG.ID/El Shinta

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre IV Tanjungkarang menutup lima dari 29 perlintasan tidak resmi di Kota Bandarlampung. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecelakaan lalu lintas.

Manager Humas PT KAI Divre IV Tanjungkarang Franoto Wibowo menerangkan, lima perlintasan ilegal itu berada di Kecamatan Kedaton dan Wayhalim.

”Dan sudah disetujui warga. Yakni di Gang Bakung, Gang Inaba, Gang Danau Laut Tawar Bawah, serta Gang Tangkil I dan II,” kata Franoto kepada rilislampung.id, Sabtu (3/3/2018).

Dia mengungkapkan jika dibiarkan, perlintasan ilegal akan membesar sehingga sangat berbahaya. Sebab, jaraknya dari rel kereta hanya 20 meter. Sementara aturan resmi adalah 800 meter. 

”Kita harus mapping dulu di lokasi, jadi belum bisa menentukan dimana dan berapa jumlah yang akan ditutup. Tahun lalu kita tutup empat perlintasan tidak resmi. Tahun ini sudah 12 perlintasan tidak resmi yang ditutup dari Bandarlampung sampai Lampung Utara,” paparnya.

Menurutnya, perlintasan tidak resmi menjadi salah satu penyebab kecelakaan akibat kereta api. Paling banyak kecelakaan di perlintasan Sukamerindu, Muara Enim sebanyak tiga kali pada tahun 2017. Di tahun sama terjadi dua kejadian Sungai Tuha Oku Timur (2).

Berikutnya di Lampung, masing-masing satu kejadian di perlintasan belakang Supermarket Milenium Natar; dan Jalan Danau Toba, Kedaton; Gedungratu, Hajimena, Lampung Selatan.

Di tahun 2017 terjadi peningkatan kecelakaan untuk areal Tanjungkarang-Muara Enim hingga 26 kejadian. Padahal di 2016 hanya 12 kejadian. ”Ini akibat kesadaran masyarakat kurang. Masyarakat seenaknya saja membuat jalan perlintasan sendiri padahal sangat membahayakan,” tandasnya.

Sementara itu, Yulianti (37), warga Jalan Pajajaran setuju dengan penutupan ini. Ia kerap kali was-was melihat ada sepeda motor yang menerobos perlintasan ilegal meski peluit kereta sudah terdengar jelas. ”Lebih aman memutar ke jalan agak sedikit jauh daripada nyawa jadi taruhannya,” singkatnya. (*)

 

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID