Negeri Rawan Gempa dan Kepedulian Bersama
lampung@rilis.id
Kamis | 06/09/2018 11.18 WIB
Negeri Rawan Gempa dan Kepedulian Bersama
Syamsul Arief, Peladang Berpindah

”Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena mereka tak peduli” (Albert Einstein)


SELASA dini hari, 15 Februari 1994, ranjang kayu tidurku berayun kencang, atap rumah berderit lalu disusul getaran keras. Aku yang belum sempat terlelap sigap melompat mencari perlindungan ke luar rumah. Syukurlah ayah, emak, dan saudara-saudaraku menyusul. Kami semua terjaga dan menyadari baru saja terjadi gempa besar hari itu di Lampung.  

Beberapa jam kemudian seiring matahari terbit kami mendapat kabar gempa besar tersebut terjadi di Liwa Lampung Barat, kampung halamanku. Radio RRI pagi itu mengabarkan, Liwa luluh lantak, hampir sebagian besar bangunan rata dengan tanah. Sehari setelahnya sanak keluarga berbodong-bondong mulang pekon, kembali ke kampung untuk melihat langsung kerusakan yang diakibatkan gempa tersebut di tanah kelahirannya.

Aku melihat jalan-jalan aspal di Liwa retak memanjang, seperti bumi akan terbelah. Ngeri rasanya untuk mendekat di retak jalan itu. Imajiku, lubang itu terhubung pada kedalaman yang tak terukur menuju perut bumi. Paman, tante, sepupu, kemenakan, dan minak muaghi menangis menyesali harta benda rumahnya yang hancur. Kehilangan anggota keluarga  sekaligus juga mensyukuri hidupnya yang selamat.

Sebanyak 196 jiwa tewas, 2000 lebih orang terluka, 75 ribu orang kehilangan tempat tinggal di wilayah Liwa dan Krui Lampung Barat. Krui adalah kampung halamanku juga, kota kecamatan teramai di Lampung barat itu berjarak sekitar 15 kilometer (km) arah barat menjorok Samudera Hindia. Dampak hebat gempa juga terjadi di Krui (kini wilayah Kabupaten Pesisir Barat) juga banyak bangunan hancur.

Segera setelahnya bantuan kemanusian mengalir.  Tidak terdengar kritik atas penanganan bencana zaman Soeharto itu. Mungkin saja ada tapi bisik-bisik, siapa berani dengan rezim otoriter itu. Tapi mungkin boleh jadi nirkritik karena kesantunan masyarakat, pengamat, dan politisi saat itu yang memandang bencana alam pendekatannya adalah bantuan kemanusiaan bukan donasi kritik.

Meski tidak sederas zaman now  bantuan yang datang dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga swasta , sipil, dan militer ke Liwa, Lampung Barat cukup monolong masyarakat Liwa saat itu. Beberapa relawan baik individual maupun kelompok, dari mahasiswa, pelajar dan organisasi kepemudaan, juga menunjukan empatinya dengan menyalurkan bantuan.

Saat itu sudah terlihat keberadaan para kelompok relawan datang bahu-membahu di daerah bencana dengan tujuan kongkret membantu meringankan penderitaan korban bencana. Waktu itu aku di penghujung kelulusan SMA dan peristiwa itu kusimpan di dalam kepala.

Pagi hari 4 Juni 2000, ketika aku berada di Jakarta dalam rangka diklatsar kedinasan, kulihat wajah temanku was-was. Setelah meminta izin panitia ia berkemas untuk  pulang ke kampung halamannya, Bengkulu. Hari itu Bengkulu dilanda gempa hebat menewaskan 94 orang, melukai 1000 orang , dan 15.000 rumah rusak berat serta 29.940 rusak ringan.

Kulihat kerisauan di wajah temanku, saat menghubungi keluarga di Bengkulu. Di ujung ponsel Nokianya,  sepupunya mengabarkan dalam tangis tentang bapak, ibu, dan adik-adiknya yang mati tertimpa bangunan rumah yang hancur. Sedangkan sepupunya selamat karena saat kejadian sedang melaut.

Usai telepon ditutup, aku melihat ada genangan air di pelupuk mata teman itu. Air matanya jatuh dan ia menyeka dengan lengan bajunya. Aku merangkulnya. Enam bulan setelahnya aku berkesempatan mengunjungi Bengkulu, melihat langsung sisa dampak dahsyatnya gempa terhadap hancurnya infrastruktur Kota Bengkulu. Peristiwa itu 18 tahun yang lalu dan aku menyimpan ingatan itu di dalam kepala.

Pada 26 Desember 2004 di depan televisi, aku menyaksikan live report. Penyiar berita dengan ekspresi suram mengabarkan gempa bumi dengan magnitudo 9,1 SR disertai tsunami terjadi di Aceh disertai gambar video amatir yang memilukan.

Detail gambar bergerak menunjukan betapa dahsyatnya gempa dan tsunami itu saat berlangsung. 230.000 orang tewas di 14 negara dan sebagian besar yang meninggal itu berada di Aceh. Banyak orang kehilangan sanak keluarga dan orang-orang terkasih. Hari-hari itu kudekap istriku setiap meyaksikan berita gempa dan tsunami. Aku tak ingin kehilangan orang-orang yang aku kasihi.

Segera setelahnya masyarakat dunia bahu membahu menyalurkan bantuan kemanusian di Aceh. Aku pun memberi donasi, jumlahnya tidak seberapa dibanding tangisan, takbir, dan ketidakberdayaan yang menyayat saat gempa dan tsunami itu berlangsung. Peristiwa memilukan itu terus dikenang di kepala tak hilang dalam ingatan.

Tanggal 5 Agustus 2018 gempa kembali mengguncang, kini di Lombok. Gempa 7,0 SR itu menewaskan 460 orang dan ratusan lainnya luka-luka serta ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Jumlah korban tersebut masih mungkin terus bertambah karena tim penanggulan bencana masih terus melakukan pencarian korban di puing-puing bangunan yang roboh. Aku dengan segala ingatan di kepala tentang gempa tersadar kembali: bersiapsiagalah kamu yang hidup di negara rawan gempa. Pasti gempa datang entah kapan dan di mana.

***

Lombok dengan Pantai Gili, Gunung Rinjani, keramahan masyarakat dan barisan keindahan lainnya terasa benar memberi kelapangan dada saat aku dan istri berlari di ajang perlombaan lari ultra Rinjani100 pada awal bulan Mei 2018.

Dari Ketinggian aku melihat hamparan biru tenang Danau Anak Segara. Setiap pendaki yang kujumpai dalam papasan jalan tersenyum bahagia. Adakah ini surga atau inikah tangga menuju surga? Seperti simfoni Jimmy Page dalam lengkingan vokal Robert Plant dari band rock Led Zepplin. Begitulah gumamku setiap aku menengadahkan kepala memandang puncak Dewi Anjani di pintas kelok perbukitan.

Kini, usai gempa terjadi, Lombok bersalin dalam luka kesedihan. Cepat sekali kenyataan berganti, keindahan menjadi kerusakan, bahagia berubah luka tangisan. Tidakkah jika itu kau simpulkan datangnya dari Tuhan lalu kenyataan itu harusnya menggerakkan nuranimu?

Dan, kutipan fisikawan Einstein itu bertemu realitasnya. Dunia ini akan tetap indah jika orang-orangnya peduli. Sisi baiknya teknologi informasi, mempertemukan orang-orang yang peduli. Para relawan-relawan pemilik jiwa yang lapang, tekadnya seperti arus sungai, bertemu di pusaran berkumpul di hilir dan lautan.

Aku menemukan kelompok lintas profesi yang bergerak dari atensi individual ke jalinan kelompok bersama dalam kerja-kerja kemanusiaan. Bukan kebetulan jika aku yang asal Liwa-Krui Lampung dengan hikayat ingatan gempa dipertemukan relawan-relawan asal Lombok yang kini bertekad membangun kembali keindahan Lombok dari puing-puing kerusakan.

Ada para dokter yang menemukan realitas kongkret sumpah hippocrates-nya. Ada Jaksa dan hakim yang menyerap rasa keadilan dari kepedihan akibat bencana. Ada dosen, guru ngaji, pegiat anak, pengusaha muda, peladang berpindah, hingga  Bupati Lampung Timur menemukan bacaan hidup tentang pengetahuan pentingnya peduli sesama.

Kolaborasi relawan-relawan kemanusiaan ini akan berikhtiar membantu bersama di Lombok pada 6-9 September 2018 . Mereka mengimpun cinta dengan hadir langsung di tenda-tenda pengungsian dan memberikan apa yang dibutuhkan, menghibur masyarakat dalam pesan.

Lombok tidak sendirian, duka ikut kita rasakan. Semoga kerja kemanusiaan itu diganjar kesejukan semesta alam. Seperti sejuknya semilir angin yang liris di Danau Segara Anak Lembah Dewi Anjani. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID