OAIL Itera Berhasil Abadikan Kemunculan Komet Swan
lampung@rilis.id
Jumat | 08/05/2020 20.44 WIB
OAIL Itera Berhasil Abadikan Kemunculan Komet Swan
Komet swan yang berhasil diabadikan oleh OAIL Itera. FOTO: OAIL Itera

RILIS.ID, Bandarlampung – Observatorium Astronomi Institut Teknologi Sumatera Lampung (OAIL) berhasil mengabadikan kemunculan komet C/2020 F8 (swan) dalam pengamatan menggunakan teleskop Lunt Engineering 80 ED --jenis refraktor doublet akromatik, pada Rabu (6/5/2020) pukul 04.55 WIB.

Komet tersebut diperkirakan semakin cerah dalam beberapa hari mendatang dan dapat diamati masyarakat.

Pengamat OAIL, Aditya Abdillah Yusuf, menyebut swan oleh para astronom disebut sebagai komet terbaik yang bisa dilihat tahun ini. Bahkan hingga akhir Mei, komet Swan akan menjadi target untuk pengamatan, baik dengan alat ataupun mata telanjang.

Komet swan diperkirakan melewati Bumi paling dekat pada 13 Mei dan paling dekat dengan matahari pada 27 Mei 2020. Namun perlu diingat, komet adalah benda langit yang sangat mudah berubah-ubah. Bisa sangat cerah dan mudah diamati dengan mata telanjang, tetapi juga mungkin memecah dan pudar sehingga sulit teramati.

Berdasarkan data, komet swan melesat dengan kecepatan 48.996 kilometer per detik melintasi bumi dalam perjalanannya mengorbit Matahari.

Komet ini kemungkinan berasal dari Oort Cloud, sebuah lokasi sekitar 100 ribu unit astronomi atau 100 ribu kali jarak bumi dan matahari.

Adit menambahkan, kebanyakan orang kerap menyebut komet sebagai bintang berekor. Namun sebenarnya komet swan bukanlah bintang.

Secara keseluruhan ada miliaran komet yang mengorbit matahari. Benda langit tersebut akan masuk ke dalam orbit karena gaya gravitasi matahari.

Setiap komet memiliki kesamaan yaitu batuan beku di intinya yang disebut nukleus. Bagian itu terukur berdiameter beberapa kilometer saja. Bagian ini berisi es, gas beku, dan sedikit debu.

Sebuah komet akan menghangat dan mengembang menciptakan atmosfer atau coma seiring mendekat ke matahari. Panas matahari lalu membuat inti es pada komet berubah menjadi gas sehingga coma semakin besar atau berkembang hingga ratusan ribu kilometer.

Tekanan dari sinar dan angin matahari yang berkecepatan tinggi, debu dan gas dalam coma yang tertiup menjauhi matahari, bisa sangat panjang dan terang. Terdiri dari gas dan ion yang pada akhirnya masyarakat menjuluki sebagai bintang berekor.

Terpisah, Kepala UPT OAIL Hakim L Malasan, menyebut selain mengamati komet swan, OAIL Itera juga eksis menghadirkan citra obyek langit dan menyuguhkan edukasi astronomi bagi masyarakat luas.

”Bagi masyarakat yang ingin mengetahui seputar hasil pengamatan OAIL juga dapat mengaksesnya melalui media sosial dan website OAIL,” ungkapnya. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID