Pahit yang Dinikmati
lampung@rilis.id
Senin | 28/12/2020 13.23 WIB
Pahit yang Dinikmati
Oleh: Wasril Purnawan, Penulis tinggal di Bandarlampung

”Dikasih paitan pak?” tanya mbak jamu gendong pagi itu.

”Ada apa aja mbak?”

”Ada Sambiloto, Brotowali, Kayu Pucang dan Ceplikan,”

Walaupun dua jenis yang pertama namanya sering ku dengar, tapi tak satupun dari ke empat jenis tadi yang benar-benar aku tahu rupanya.

Wow...alamak... Alangkah pahitnya. Tenggorokanku hampir saja memuntahkannya karena kaget, tak biasa. Untung segera kusogok dengan seteguk minuman manis penawarnya.

Padahal, kopi yang sering ku seruput setiap pagi juga pahit. Tapi ini beda. Terasa begitu getir di lidah. Nyegak di tenggorokan. Tentu karena aku bukan penikmat jamu.

Aku tiba-tiba teringat bukunya Mas Prie Ge ES: ”Aku Hidupku Humorku”. Walaupun belum membacanya langsung, aku dapat membayangkan kepiawaian Mas Prie menguliti setiap rangkaian perjalanan hidupnya yang lebih mirip parodi kegetiran dan kepahitan secara jenaka.

”Derita itu, jika tenang kita menatapnya, ternyata penuh humor di dalamnya,” begitu tulisnya dalam ”Refleksi” di akun Facebook-nya.

”Saya bisa saja melewatinya dengan menggugat pemerintah, memprotes banyak pihak, dan bahasa-bahasa ’gerutu’ lainnya,” jelas Mas Prie dalam sebuah podcast.

Ada ribuan perspektif dalam melihat kegetiran.

Pramoedya Ananta Toer mengolah kegetiran yang dialami Nyai Ontosoroh dan Minke, dua tokoh utama dalam tetraloginya yang mengaduk-aduk rasa. Mengajak menyelami perihnya sayatan demi sayatan luka orang yang kalah. Saat yang sama, energi kata-katanya tidak sekadar ajakan menghayati rasa kalah semata, tapi utamanya tentang ”daya hidup”. Ya, melawan untuk tetap hidup.

Sebagaimana yang biasa dikutipnya dalam dialog Nyai Ontosoroh kepada Minke: ”Kita sudah melawan, Nak, Nyo...sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!”.

Di antara ribuan perspektif itu, tak sepertj Pram, Prie Ge ES mengajak menyelami parodi kegetiran secara jenaka. Pencapaian yang tak gampang. Menertawai liku kepiluan yang dialami, sungguh hanya sedikit orang yang bisa.

Dan kepahitan Sambiloto, Brotowali, Kayu Pucang dan Ceplikan pagi ini kusesapi sembari mengerjapkan mata. Kelak rupa-rupa kesusahan, kesedihan, bahkan trauma yang pernah dan akan kulewati, tak kan ku wartakan kecuali dalam kemasan yang manis. Sebagaimana pahitnya jamu pagi ini kutawarkan dengan seteguk gula.

Selanjutnya, sebagaimana Pram atau Mas Prie, kelak akupun ingin menyajikannya dalam refleksi yang berguna, syukur-syukur menyulapnya menjadi cerita jenaka.

Ciputat, 27 Desember 2020. (Wasril Purnawan)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID