Panen Raya - RILIS.ID
Panen Raya
lampung@rilis.id
Sabtu | 16/05/2020 06.01 WIB
Panen Raya
Cerpen Muhammad Harya Ramdhoni. ILUSTRASI: Pixabay

RILIS.ID, –

”Dengan mempertimbangkan kuasa hikmatnya yang agung, penghancuran
terhadap kejahatan dianggap sebagai tindakan suci…”

(Nagarakrtagama, 92, I, IV)

 

Solo, 20 November 1965
IA
masih ingat kejadian itu, di malam termuram menjelang akhir bulan November 1965. Malam itu langit tidak berbintang, gelap, dan menakutkan.

Sekumpulan burung hantu dan burung bangkai bersaingan berkoak memapah setiap orang menuju kengerian tak terperi.

Ada bau kematian di sana. Auranya membimbing warga desa Sambeng menutup rapat pintu dan jendela rumah mereka walau malam belum lagi dini.

Beberapa jam sebelumnya Kolonel Broto, komandan Brigif IV Surakarta, mendapat berita dari pihak intelijen bahwa Ketua Komite Sentral Partai Komunis tercium jejaknya di desa Sambeng dekat Solo. Dialah yang dua bulan lalu merupakan tersangka utama pembunuhan berencana terhadap enam jenderal Angkatan Darat dan satu perwira pertama.

Pembantaian yang mengharu-biru kepulauan Indonesia dan mengheret rakyatnya ke dalam kesumat tak termaafkan. Di mana sang ketua bersembunyi? Siapa saja yang turut melindunginya? Hingga detik itu Broto belum dapat memastikan tempat persembunyian buruannya.

Broto baru saja tiba dari Kisaran setelah penugasan selama beberapa bulan. Peristiwa pembunuhan para jenderal memintanya kembali ke Jawa.

Beberapa hari setelah penculikan Staf Jenderal Angkatan Darat, ia dipanggil Panglima Kostrad Mayjen Harto. Broto diperintahkan membantu pembasmian partai komunis hingga ke akar-akarnya.

Sesungguhnya ia meragu terhadap isu pemberontakan yang konon didalangi oleh Partai Komunis. Bukankah Partai Komunis sedang berada di puncak kejayaan? Lalu untuk apa menyusahkan diri dengan melakukan kudeta? Bukankah jika presiden Koesno tiba-tiba mangkat, Partai Komunis adalah pewaris sah dan terkuat sebagai penggantinya?

Namun sebagai prajurit Broto harus patuh. Apalagi Mayjen Harto mengandalkannya untuk menangkap ketua Partai Komunis yang melarikan diri ke Jawa Tengah.

”Bawa pasukanmu ke Jawa Tengah, segera tangkap ketua Partai Komunis yang melarikan diri ke sana. Bereskan itu semua,” perintah Mayjen Harto kepadanya. Dalam hitungan jam ia segera menggerakkan pasukannya kembali ke Solo.  

Tepat di tubir senja pasukannya berhasil menangkap seorang kader Partai Komunis. Suparto adalah kepercayaan sang ketua untuk mencari tempat persembunyian yang aman.

Lelaki setengah tua itu hanya bisa pasrah ketika beberapa orang bersenjata menghentikan laju sepedanya dan segera membawanya menuju markas Brigif IV Surakarta.

Munculnya desas-desus bahwa ketua Partai Komunis melarikan diri ke Solo membuat gerak-gerik Suparto dan beberapa kader partai dibayangi pihak intelijen militer.

Penguasa yakin bahwa rumah-rumah kader partai Komunis merupakan tempat bersembunyi yang aman dan terpercaya bagi sang ketua partai.

Sejak tragedi penculikan dan pembantaian enam jenderal Angkatan Darat dan seorang perwira pertama, hampir semua kader Partai Komunis di Solo melarikan diri atau meniarapkan aktivitasnya. Hanya beberapa orang yang masih berusaha bergerak tak terlihat seperti hantu.

Tetapi mereka terlampau sedikit dan begitu mudah diawasi oleh pihak berkuasa. Salah seorang di antaranya adalah Suparto yang kesetiaan terhadap sang ketua partai tak perlu diragukan.

Ia sabar mengawal sang ketua mencari tempat persembunyian teraman. Berpindah-pindah dari satu rumah kader partai menuju rumah kader partai lainnya mereka lalui demi menghindari penangkapan.  
* * *

SEBUAH ruang interogasi menunggu Suparto dengan senyum terbengis dan terkejam. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan interogator. Pertanyaan yang menggiringnya agar membuka rahasia tempat persembunyian sang ketua tercinta. Suparto sadar ia dijebak. Namun ia tak sudi membocorkan persembunyian Kawan Ketua apalagi hendak bekerjasama dengan tentara.

Ia gigih membela kepercayaan pimpinannya. Suparto sadar bahwa ketua Komite Sentral Partai Komunis adalah perlambang keberadaan partai. Tertangkap atau terbunuhnya Kawan Ketua akan mengakibatkan kehancuran partai secara pasti. Gerak maju revolusi akan menjadi kontraproduktif tanpa kehadiran kawan ketua.

Keimanannya terhadap komunisme sebagai jawaban pamungkas seluruh permasalahan umat manusia memperkuat pembelaan itu.

”Kapitalisme akan menggali liang kuburnya sendiri sementara komunisme bersiap menggantikannya.” Begitulah argumentasi Suparto dalam berbagai kesempatan mendoktrin kader-kader partai yang lebih muda.

Menghadapi lelaki yang telah terideologis dengan baik membuat sang komandan Brigif IV memadukan cara-cara halus dan kekerasan. Rayuan dan ancaman digunakan untuk membuka mulut Suparto di ruang interogasi.

Suparto bersikeras bahwa Gerakan Satu Oktober bukanlah dosa Partai Komunis. Partainya sama sekali tidak terlibat dalam konspirasi pembunuhan jenderal-jenderal bernasib nahas itu. Penculikan itu adalah putsch yang terburu-buru. Ciri khas kaum kontra revolusioner.

Konflik internal sekelompok tentara goblok yang terpancing oleh keruhnya situasi. Gerombolan pengacau agen-agen imperialis Amerika dan Inggris sengaja menciptanya dengan dua tujuan utama: menggulingkan presiden Koesno dan menghancurkan Partai Komunis hingga tak bersisa.

Suparto menolak menyerahkan ketua partainya kepada pihak militer karena ia yakin Partai Komunis adalah korban teraniaya dari persekongkolan jahat ini. Sebagai kader unggulan Partai Komunis di Jawa Tengah, sudah menjadi hak dan kewajibannya membela dan melindungi Partai Komunis yang sedang berada di tepi keruntuhan.

Sikap Suparto membuat Broto muak. Sosok Suparto menjelma iblis yang tak tahu berterima kasih kepada Tuhan. Tawaran Broto akan mencoret nama Suparto dari daftar anggota Partai Komunis ditampik mentah-mentah. Padahal dengan begitu Suparto dan keluarganya dijamin selamat dari ancaman pembantaian yang akhir-akhir ini menimpa ribuan keluarga komunis. Sebuah pembunuhan massal terencana yang perlahan namun pasti memerahkan sungai dan tanah tempat mereka berpijak.

Sementara itu kepala Broto berputar-putar bagai gasing memikirkan langkah apa yang harus dilakukan untuk membuka mulut komunis tua berkepala batu ini.

”Mungkin kekerasan adalah jalan ke luar yang tepat!” pikirnya tiba-tiba. Di bawah keremangan cahaya lampu neon lima watt Broto memutuskan mengakhiri kesombongan si komunis tua dengan cara-cara paling sadis dan tak terbayangkan.

Pada akhirnya perlawanan Suparto berakhir di ruang interogasi. Kuku-kuku yang dicabut paksa, meledakkan jerit tangis. Satu persatu serpihannya berjatuhan di lantai ruang interogasi. Tetes demi tetes darah bercampur dengan keringat dingin runtuh membasahi lantai.

Dua prajurit yang diperintah Broto untuk memberi pelajaran kepada Suparto benar-benar sudah kehilangan iba. Gagang pistol menghantam kening Suparto bertubi-tubi tanpa ampun. Disusul tendangan telak menghantam dada si komunis tua hingga terlempar dari kursi.

Pukulan dan tendangan kembali menghampiri Suparto tanpa ampun. Tujuh kali pukulan siku di rahang menimbulkan bunyi ”krek.” Rahang Suparto patah.

Tak berhenti sampai di situ popor senapan menghantam hidung dan telinganya. Darah membanjir mengotori kemejanya. Di depannya kolonel Broto nampak menikmati proses penyiksaan itu. Rasa puas mulai menjalari tubuhnya.

”Lelaki tua ini memang pantas dihajar karena menolak bekerjasama dengan tentara.”

Sebatang rokok disulutnya. Asap rokok beterbangan memutari ruangan mencari celah untuk ke luar tetapi jalan itu tak ada. Dinding ruang interogasi itu tanpa ventilasi. Hawa di ruang interogasi seluas 4 x 3 meter itu pun semakin pengap dan mesum.

Broto memberi perintah kepada kedua penyiksa membawa Suparto menuju kamar mandi. Suparto dipapah ke luar dalam kondisi menyedihkan. Kedua matanya lebam, sepuluh kukunya telah dicabut paksa, lima gigi atasnya tanggal, rahangnya patah, dan kepalanya bocor mengucurkan darah segar.

Diperkirakan dadanya remuk karena lusinan tendangan di dada. Kurang dari sejam yang lalu Suparto memasuki ruangan ini dalam kondisi segar bugar. Kini bahkan untuk berdiri ia mesti dipapah kedua penyiksanya. Siapa yang sanggup menahan siksaaan seperti ini?

Tanpa memberi kesempatan Suparto untuk mengeluh, kedua penyiksa menggantungnya dengan kedua kaki terikat pada sebuah pengungkit dengan posisi kepala di bawah. Bak mandi yang telah dialiri listrik siap menyambut kepala Suparto.

Pengungkit diturunkan dan terdengar suara jeritan terputus-putus. Separuh badannya ditenggelamkan ke dalam air beraliran listrik tersebut. Pengungkit dinaikkan kembali dan terlihat setengah tubuh Suparto pucat pasi. Ia masih sadar dan hanya bisa mengerang.

Kemudian pengungkit diturunkan lagi tetapi suara jeritannya semakin lemah. Begitu seterusnya pengungkit itu naik turun secara cepat sampai suara Suparto hilang sama sekali. Setelah itu ia sama sekali tak sadar apa yang terjadi kemudian. Suparto pingsan. Ia belum mati. Lebih tepatnya disiksa setengah mati. Tentara masih memerlukan dirinya

* * * 

AZAN isya baru beberapa menit terdengar ketika ia terbangun dengan kondisi tubuh yang remuk. Tulang-tulang di tubuhnya terasa hancur. Rahangnya dibiarkan patah sementara mukanya masih lebam. Dari telinga dan hidungnya sesekali masih mengucur darah segar.

Ia merasa pendengarannya berkurang. Mungkin telinganya mulai tuli karena dipukul popor senapan.

Setelah disiksa, Suparto digeletakkan begitu saja di lantai sebuah ruangan. Perlahan-lahan Suparto mencoba bangkit dan melihat sekeliling. Akan tetapi tubuhnya masih amat lemah dan berasa sakit.

Ruangan yang cukup rapih ditempeli foto-foto dan simbol-simbol kemiliteran. Di tengah ruangan terdapat satu set sofa tamu yang cukup mewah. Seperangkat meja kerja berdiri angkuh di sudut kanan ruangan.

Di belakangnya sepasang samurai tergantung menyilang di dinding. Ada foto kolonel Broto yang senja tadi memerintahkan penyiksaan terhadapnya.

”Rupanya ini ruangan komandan Brigif IV Surakarta,” ia membatin. Kini ia merasa tubuh dan perasaannya hancur lebur. Sepertinya ia tak sanggup lagi menahan siksaan.

Suara sepatu memasuki ruangan diiringi dehaman sok berwibawa. Wajah Kolonel Broto muncul tanpa ekspresi. Kemudian tersenyum tragis kepada Suparto yang telah siuman dari pingsannya.

”Sudah sadar?”

”Masih kukuh tidak mau bekerjasama dengan kami?”

Suparto tak menjawab.

Bagaimana hendak menjawab? Rahangnya sakit campur ngilu akibat tujuh kali pukulan siku. Seorang prajurit memasuki ruangan sambil menyodorkan dua cangkir teh hangat kepada Broto dan Suparto.

”Saya masih memberi kesempatan kepada Anda untuk berpikir. Apakah upaya-upaya represif kami untuk membuka mulut saudara masih perlu dilanjutkan?” ujar Broto seraya menyesap secangkir teh manis.

”Beritahu di mana ketua Anda bersembunyi maka kita akan melupakan segala hal yang telah terjadi.” 

Melupakan semuanya? Sementara aku telah disiksa begitu kejam karena enggan membocorkan keberadaan ketua partaiku. Suparto tak habis fikir dengan ucapan Broto.

Keduanya terdiam. Angin malam mulai berkejaran melewati ventilasi ruangan itu.

”Saya ulangi lagi saudara Suparto. Di mana Anda menyembunyikan Ketua Partai Komunis? Saya akan merekomendasikan nama saudara dan keluarga agar dihapus dari keanggotaan Partai Komunis. Dengan begitu Anda dan keluarga tidak akan diganggu-gugat dan terbebas dari ancaman pembunuhan massal.”

Suparto terdiam. Ia termangu. Hati kecilnya tak sanggup membiarkan Kawan Ketua dikejar-kejar bagai hewan buruan. Namun di sisi lain ia pun harus memikirkan keselamatan diri dan keluarganya.

Lama ia melamun memikirkan pertengkaran antara cita-cita ideologis dengan mimpi-mimpi pragmatis. Siapakah di antara keduanya yang akan jadi pecundang?

”Bagaimana saudara Suparto? Adakah tawaran saya tidak dapat dipercaya?” ulang Kolonel Broto.

”Kolonel Broto, saya tidak kuat menahan siksaan ini. Saya akan memberitahu di mana persembunyian ketua kami tetapi dengan satu syarat…” berkata Suparto dengan mimik wajah menahan sakit.

”Persyaratan apa yang anda minta? Kami akan berusaha memenuhinya”.

”Saya mohon kepada kolonel Broto agar Kawan Ketua Partai diperlakukan dengan baik dan dijamin dari penyiksaan fisik dan mental seperti yang saya alami. Kalau kolonel setuju saya sendiri yang akan mengantar ke tempat persembunyian kawan Ketua…”

”Kecintaan dan kesetiaan Anda kepada ketua partai begitu tulus,” berkata Kolonel Broto dengan senyum yang dimanis-maniskan.

”Tetapi baiklah kalau itu yang saudara inginkan. Saya berusaha memenuhi persyaratan yang saudara ajukan.”

Ada kelegaan merasupi dada Suparto yang sesak.

”Ketua akan selamat. Terima kasih, Gusti Allah,” ia berucap syukur di dalam hati. Akhir-akhir ini ia memang jarang sembahyang namun baginya eling pada keberadaan Sang Khalik sudahlah cukup.

Menjelang malam satuan pasukan di bawah komando Letnan Ning Prayitno menyusuri desa Sambeng yang telah lengang. Cuaca dingin begitu menusuk. Ditingkahi sesayup suara jangkrik menggenapkan suasana yang makin sepi. Celoteh burung bence membawa Ning dan pasukannya menuju celah-celah ketidakpastian malam. Sebuah malam yang menakutkan dan hanya menawarkan suasana suram.

Kesenyapan yang menelusup hingga meremangkan bulu roma adalah kesenyapan lain dan janggal. Diam-diam di lubuk hati Ning dan pasukannya timbul kekaguman sekaligus kebencian terhadap sosok buruan mereka. Seseorang yang dapat dipandang dari dua segi berbeda: seorang komunis pengkhianat sekaligus tokoh partai yang terbukti berjaya membangun partainya dari puing kehancuran pasca Madiun 1948.

Pukul sembilan malam Ning dan pasukannya tiba di sebuah rumah semi permanen. Rumah perpaduan tembok dan papan. Letaknya tak jauh dari Stasiun Kereta Api Balapan.

Rumah itu terpisah dari rumah-rumah lain di sekitar Sambeng. Keberadaannya seperti hendak mengasingkan diri dari kehidupan sosial masyarakat. Di dalamnya seolah tersembunyi rahasia yang tak boleh diketahui orang-orang awam.

Lampu-lampu di rumah itu telah lama dipadamkan. Seakan ingin mengelabui siapa pun yang bertandang bahwa rumah itu tak berpenghuni. Kosong, gelap, dan angker.

Tetapi bukan Ning bila tak mampu mencium bau manusia yang tertinggal. Aroma seduhan kopi, ruh, dan nafas manusia yang meruap dapat tercium oleh dirinya. Bebauan khas dan takkan kau dapati pada sebuah rumah yang telah lama dilupakan oleh penghuninya.

 ”Tak salah lagi disini bersembunyinya ketua Partai Komunis,” Ning yakin pada instingnya. 

Tak jauh dari rumah itu, Broto mengawasi pergerakan anak buahnya dengan seksama. Dia tak sabar ingin segera meringkus ketua Partai Komunis. Dalam sekali penyerbuan sang ketua harus segera ditangkap.

Nafas Broto tertahan sebentar ketika Ning memerintahkan pasukannya mendobrak rumah itu secara paksa. Lampu-lampu senter dinyalakan serentak. Tanpa mengurangi kewaspadaan mereka bergegas memasuki rumah itu.

Setiap sudut rumah tak luput dari pemeriksaan anak buah Ning. Bilik-bilik senyap jua tak lolos dari sergapan mereka. Kolong-kolong ranjang, lemari-lemari tua bahkan dapur yang telah dipenuhi tikus dan kecoa mungkin menjadi tempat persembunyian yang nyaman bagi sang ketua partai. Tetapi semuanya kosong.

”Pencarian yang sia-sia. Adakah ia lenyap tanpa jejak seperti hantu?” Ning meragu.       
* * *

ANAK buahnya menemukan ketua Partai Komunis meringkuk di dalam sebuah lemari pakaian.

”Apakah anda saudara Amat, Ketua Partai Komunis,” tanya Broto.

”Ya. Sayalah Amat, Ketua Komite Sentral Partai Komunis,” Mata lelaki itu jalang menatapnya. Tatap mata milik sang iblis sendiri.

Dua hari kemudian hukuman mati tanpa pengadilan berlangsung singkat di tengah hujan bulan November yang lembab dan gigil.

Empat butir peluru yang ia tembakkan melesat menembus jantung si gembong komunis. Setelah sebelumnya sang Ketua Komite Sentral Partai Komunis dengan gagah menyanyikan ’Indonesia Raya’ dan ’Internasionale’.

Tiada gelepar sakaratul maut dan jeritan mengaduh karena tubuh lelaki setengah baya itu langsung lenyap ke dalam tempat pembuangan sampah raksasa di depan tangsi militer yang kumuh. 

Kepada pers dan golongan anti komunis Broto berbangga hati telah menanam jasad si atheis malang itu ke dalam sumur tua pada suatu kampung di Boyolali.

Entah untuk apa ia menyembunyikan kenyataan sebenarnya. Mungkin ia hendak mendramatisir kejadian itu sambil membangun ingatan penuh kebencian masyarakat kepada kaum komunis yang tanpa kasihan menyembelih jenderal-jenderal Angkatan Darat dan membuang mayat mereka ke dalam sumur tua tak jauh dari pangkalan Tentara Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Sebagai perwira menengah ia pintar memainkan psikologi dan imajinasi rakyat. Ia ingin menyenangkan hati mereka yang dengan penuh kebencian mengutuk segala hal yang berbau Pe-Ka-I sambil membalas dendam hati mereka yang merasa disakiti.

Ditanamnya jasad si gembong komunis ke dalam sumur seolah telah membayar perlakuan keji yang dialami para jenderal. 
* * * 

Telukbetung, Lampung, 1978
TIGA
belas tahun kemudian ia menuai panen raya yang dahulu ia pupuk sedemikian rupa dengan keyakinan dan kesabaran. Empat butir peluru penamat kehidupan komunis tak bahagia itu terbukti ampuh mengantarnya sebagai Gubernur Lampung.

Kini pembunuhan yang diperbuatnya telah sah di mata negara dan hukum. Pelantikannya sebagai Gubernur Lampung membenarkan kepahlawanannya sebagai penjaga setia Pancasila dari serbuan kaum komunis berwatak munkar. Ia pun pantas diganjar imbalan sesuai jasa-jasanya yang tulus kepada negara. Ya, sebuah perbuatan sadis yang memerlukan payung hukum legal.

Dulu orang-orang riuh bertanya kenapa si gembong komunis tidak dihadapkan ke pengadilan? Bukankah si komunis ini tokoh kunci yang mengetahui kejadian sebenar yang terjadi pada dini hari 1 Oktober 1965? Suara-suara sumbang menuduh negara telah melanggar hak seseorang untuk membela diri di muka pengadilan.

Negara tak perduli.

Seperti hari ini di musim kemarau tahun 1978 Broto pun tak perduli pada suara-suara sumbang yang menuduhnya berpesta pora di atas mayat ribuan rakyat yang belum pasti berdosa. Juga tentunya tariannya terlihat makin seronok di atas bangkai sang Ketua Partai Komunis yang khianat. Broto tepikan suara-suara yang dianggapnya hanya berisi kedengkian.

”Iri hati tanda tak mampu!” sergahnya. 

”Terimakasih, Amat. Lenyapnya selembar nyawamu baru kurasakan manfaatnya sekarang ini.”

Sebetulnya bukan Broto yang digadang-gadang menjabat Gubernur Lampung melainkan seorang jenderal lain yang lebih berprestasi dibanding dirinya. Namun entah lelembut dari mana yang tiba-tiba membisiki telinga Presiden Jenderal Harto untuk memilihnya sebagai Gubernur Lampung.

Seketika Harto bertanya kepada Menteri Dalam Negeri, ”Siapa yang dulu menembak mati Ketua Partai Komunis?”

Sang menteri yang hidup matinya tergantung pada menjilat pantat Jenderal Harto buru-buru menjawab, ”Si Broto, Jenderal.”

”Oh iya, Si Broto. Ya sudahlah. Dia saja jadi Gubernur Lampung. Batalkan calon lainnya,” perintah Jenderal Harto tanpa ragu-ragu.

Dan Broto pun kini menikmati lembutnya kursi jabatan Gubernur Lampung di atas mayat penasaran Amat dan tumpukan bangkai kaum komunis tak bahagia.

Ia hirup segelas kopi Lampung. Kemudian pelan-pelan dihisapnya cerutu berkelas, impor dari negara komunis Kuba.

Sedap. Nikmat apa lagi yang hendak kaudustakan, wahai Broto? (*)

Hentian Kajang, Malaysia-Bandarlampung, 2006-2007

 

PENGARANG CERITA
Muhammad Harya Ramdhoni Julizarsyah, Ph.Dmeraih Hadiah Rancage Sastra Lampung 2018 untuk buku kumpulan puisi berbahasa Lampung “Semilau” (Pustaka Labrak, 2017).

Novel pertamanya "Perempuan Penunggang Harimau” (BE Press, 2011) disusul kumcer “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” (Koekoesan, 2012/edisi e-book 2020); kumcer “Mirah Delima Bang Amat” (Ladang Publishing, 2017); dan buku puisi “Sihir Lelaki Gunung” (Ladang Publishing, 2018). Karya mutakhirnya kumpulan cerpen “Kitab Pernong” akan terbit pada akhir tahun 2020.

Ramdhoni menamatkan Ph.D (2014) dan M.Soc.Sc Sains Politik (2006) dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Alumnus S1 Ilmu Pemerintahan Universitas Lampung (2004) ini merupakan Direktur Eksekutif Sakala Institute Research and Consultant.

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID