Parina, Warga Pesawaran yang Sebatang Kara Tinggal di Gubuk Derita

Senin | 14/05/2018 07.01 WIB
Parina, Warga Pesawaran yang Sebatang Kara Tinggal di Gubuk Derita
Riswadi menunjukkan gubuk derita yang dihuni Parina. FOTO: RILISLAMPUNG.ID/Bayumi Adinata

RILIS.ID, Pesawaran – Menyedihkan. Kehidupan getir terpaksa dialami Parina. Perempuan berumur 50 ini hidup sebatang kara di sebuah gubuk, di Dusun Pancur, Desa Rejo Agung,  Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran.

Ia tinggal seorang diri di gubuk yang ala kadarnya. Gubuk itu beralaskan tanah. Atapnya dari terpal dan dindingnya dari spanduk.

Gubuk derita berukuran sekitar 1,5mx2m itu ada di tanah milik orang lain, yakni kebun jagung Burhan, warga setempat.

Parina sudah puluhan tahun tinggal di tempat yang jauh dari kata layak itu. 

Selama hidup dia tinggal sendiri. Ia tidak mempunyai suami. Sementara keluarganya yang lain tidak peduli dengan kondisi Parina.

“Entah di mana perasaan mereka," ujar Riswadi (48),  Ketua RT di Dusun Pancur, Minggu (13/5/2018).

Sayangnya, rilislampung.id tak bisa bertemu Parina di gubuknya. Menurut Riswadi mungkin dia sedang mencari kayu di kebun karet.

Namun, setelah mencari sekitar 1 jam di kebun karet, Parina tak juga ditemukan.

Riswadi mengatakan, Parina setiap hari hanya bisa merasakan sisa-sisa hidupnya di gubuk itu. Dapur dan kamar mandi berada tidak jauh dari gubuk, sekitar 2 meter, yang dia buat sendiri.

“Untuk kebutuhan makannya sehari-hari, Parina ke kebun karet mencari sisa-sisa ranting yang dikumpulkan dan dijual kepada warga. Kayu dia jual sekitar Rp5 ribu per iket," kata Riswadi yang menjabat Ketua RT selama 3 tahun terakhir.

Selama tinggal di gubuk itu, Parina juga pernah menerima uluran tangan dari warga sekitar.  "Ya bagaimana mas, kami kasihan melihat kondisi dia seperti itu,” ujar Riswadi.

Riswadi menuturkan, saat hujan dan angin kencang terutama pada malam hari menjadi yang paling membuat Parina cemas. Ia selalu takut gubuknya roboh.

“Tidurnya pun tanpa kasur, setiap hari Parina tidur beralaskan karpet dan kain sebagai selimut,” kata Riswadi.

Riswadi meminta kepada Pemkab Pesawaran bisa membantu Parina. “Meskipun warga di sini merasa iba dengan kehidupan Parina, namun tak bisa berbuat apa-apa," tutup Riswadi. (*)

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID