Pariwisata dan Lokomotif Perubahan Lampung Timur - RILIS.ID
Pariwisata dan Lokomotif Perubahan Lampung Timur
lampung@rilis.id
Sabtu | 10/03/2018 06.00 WIB
Pariwisata dan Lokomotif Perubahan Lampung Timur
Dr. Bambang Suhada, Pengajar di FE Universitas Muhammadiyah Metro

Lampung Timur (Lamtim) kini terus berupaya membangkitkan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan. Meskipun, kabupaten itu masuk dalam cluster industri.

Keseriusan tersebut ditunjukkan dengan menggelar berbagai festival dengan berbagai tema. Mulai budaya, olahraga, hingga aktivitas produksi masyarakat.  

Selama 2017 puluhan festival digelar. Antara lain Lamtim BMX Festival, Festival Kicau Burung, Tasyakuran Laut, Pekan Seni Lamtim, Mulei Meghanai, Begawi Adat Lampung, dan Festival Kuliner Ramadan.

Lalu, Petualangan Motor Cross, Gebyar Wisata Mudik, Festival Layang-Layang, Festival Petik Lada, Festival Membaca, Festival Kuda Lumping, dan Festival Bersih Danau Beringin.

Kemudian, Festival Dayung Way Bungur, Festival Musik Kreatif, Festival Tari Melinting, Festival Seribu Pohon, Festival Sepuluh Ribu Rebana, Festival Napak Tilas Purbakala, dan Festival Wisata Way Kambas.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lamtim menyebut, berhasil menggaet 506.158 wisatawan dari 22 kegiatan festival yang digelar selama kurun waktu 2017 itu. Perputaran uang selama penyelenggaraan festival-festival itu juga sangat besar, mencapai Rp5,061 miliar lebih.

Geliat pariwisata Lamtim juga diikuti dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 3.493 orang. Terdiri atas pedagang 2.284 orang dan dari sektor jasa 1.209 orang. Keramaian memang berpotensi untuk menggerakan sektor perekonomian masyarakat sekitar.

Pariwisata di banyak tempat adalah sektor yang paling murah dan cepat memberikan dampak perekonomian. Bergeliatnya ekonomi lokal masyarakat, harapannya memberi dampak pada berkurangnya kriminalitas dan kerawanan sosial.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Ir Subakir menyebut, realisasi pendapatan berupa penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Balai TNWK mencapai 300 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp250 juta. Data ini dari kunjungan wisatawan hingga awal November 2017.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lamtim menyampaikan selama pelaksanaan Festival Way Kambas 2017 total kunjungan wisatawan baik lokal dan asing sebanyak 129.921 orang dari target yang diperkirakan 120 ribu kunjungan. Sementara penyerapan pedagang sebanyak 621 orang dan tenaga kerja 526 orang.

Di tengah perspektif baru pengembangan pariwisata tantangan terbesar saat ini adalah mengubah stigma Lamtim. Dari daerah yang dikenal ”kurang aman” menjadi daerah tujuan wisata.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada tentunya membutuhkan kreativitas, inovasi, dan juga kerja keras. Citra Lamtim yang menahun dikenal sebagai daerah yang rawan, daerah ”begal”, perlahan mulai berubah

Di sisi lain kolaborasi antara satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Lamtim dengan sektor swasta, tentu mempercepat perubahan citra yang hendak dilakukan. Sebab, agak sulit mengubah citra daerah kurang aman menjadi daerah tujuan wisata bila hanya dilakukan dalam bentuk penyelenggaraan even semata. 

Hal yang tak kalah penting lainnya adalah terkait strategi marketing dan komunikasi yang harus  terus dikembangkan untuk mengakselerasi upaya pengembangan sektor pariwisata di Lampung Timur.

Sekarang hasilnya mulai terlihat. Pelan tapi pasti, kita tak lagi hanya disajikan berita terkait kriminalitas Lampung Timur. Tapi juga pesona daerah yang selama ini belum terungkap. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID