Patah Batang Padi, Petani di RJU Mesuji Terancam Gagal Panen - RILIS.ID
Patah Batang Padi, Petani di RJU Mesuji Terancam Gagal Panen
Juan Situmeang
Rabu | 20/05/2020 22.22 WIB
Patah Batang Padi, Petani di RJU Mesuji Terancam Gagal Panen
Anggota DPRD Mesuji, Agus Munawar berbincang dengan petani padi yang mengalami patah batang padi di Kecamatan Rawajitu Utara. Foto: Ist

RILIS.ID, Mesuji – Di tengah situasi pandemic Covid-19, musibah lain menimpa warga Desa Sidang Kurnia Agung Kecamatan Rawajitu Utara (RJU). 

Padi di tempat itu mengalami patah batang dengan luasan lebih dari 10 hektar. Akibatnya, petani terancam gagal panen.

Belum lagi intensitas hujan yang cukup tinggi dalam dua pekan terakhir yang berpotensi banjir. 

Kondisi ini membuat warga yang sebagian besar petani penggarap sawah di wilayah tersebut semakin khawatir.

Seno (56), petani Desa Sidang Kurnia Agung, meminta Pemkab Mesuji mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan petani padi yang terancam gagal panen.

“Kami berharap, pemkab turun tangan, menolong kami yang saat ini tertimpa musibah seperti ini, belum lagi saat ini menghadapi wabah Covid-19,“ harapnya, Rabu (20/5/2020).

Anggota DPRD Mesuji, Agus Munawar, yang turun langsung ke lokasi tersebut mengatakan jika persoalan seperti itu merupakan kejadian yang berulang hampir tiap tahunnya. 

Oleh karena itu, ia mendesak Dinas Pertanian Mesuji proaktif  membantu petani  terkait bimbingan teknis melalui Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) yang ada.

“Ini persoalan yang terus terjadi. Kasihan petani kita. Tolong DInas Pertanian mencari formulasi agar tidak ada lagi hal seperti ini terjadi di Mesuji,” katanya.

Mengenai padi roboh batang, kata Agus, merupakan satu dari banyak persoalan yang dihadapi oleh petani di Mesuji terutama di wilayah yang menjadi sentra padi yakni Kecamatan Mesuji, Mesuji Timur dan Rawajitu Utara.

“Masih ada penyakit seperti sundep, wereng dan blaz yang sering dialami petani padi,” terangnya.  

Sedangkan dari sisi ekonomi petani padi juga menghadapi persoalan yang lebih sulit lagi. Karena, tidak adanya jaminan harga gabah akan dijual dengan harga yang baik buat petani.

“Standar harga gabah kering panen  yang selalu fluktuatif. Tidak pasti. Malah cenderung anjlok saat panen raya adalah persoalan klasik lain yang dialami petani,” terangnya. 

Belum lagi modal yang diperoleh saat pengolahan padi selalu meminjam dana dari pengijon. Sehingga petani terikat harus menjual gabah dengan murah ke pemberi modal. “Semua ini harus diselesaikan oleh pemerintah. Disini pemerintah harus hadir,” tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian Mesuji, Pariman kepada wartawan mengaku sudah mengindentifikasi masalah di wilayah pertanian tersebut.  

“Untuk masalah roboh batang pada padi itu banyak penyebabnya. Bisa jadi karena angin kencang, atau karena kelebihan nitrogen,” ungkapnya.

Kondisi yang terjadi di wilayah Desa Sidang Kurnia Angung itu juga ditanggapi oleh dua camat yang menjadi setra padi yakni Camat Mesuji Timur, Tarbin dan Camat Rawajitu Utara, Samijo.

Menurut Tarbin, aktifnya PPL di lapangan menjadi penentu agar petani dapat memilih bibit padi yang baik dan cara pengelolaan lahan dengan benar.

“Kalau perlu Kelompencapir seperti dulu perlu dibuat lagi, sehingga petani dapat bimbingan langsung dari PPL,” ungkapnya dalam laman medsos nya terkait kondisi tersebut.

Begitu juga Camat RJU, Samijo, otimalisasi penyuluh  agar lebih dekat dengan petani di lapangan. “Itu kuncinya, supaya dekat dengan petani. Jadi petani bisa diarahkan, dalam pemilihan bibit, pengolahan lahan, sampai pasca panen,” ujarnya. (*)

Editor Adi Pranoto


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID