Peduli Kota, Peduli Peradaban
lampung@rilis.id
Senin | 16/07/2018 06.00 WIB
Peduli Kota, Peduli Peradaban
Nick Kurniawan R, Pemerhati Masalah Sosial, Ketua Karang Taruna Langkapura Baru

KOTA adalah simbol peradaban. Maju kotanya, maju pula peradabannya. Diibaratkan, tempat mimpi beradu dan ambisi hidup bebas bersaing.

Kemajuan kota sebagai wajah peradaban tercermin dari perilaku masyarakat, pekerja pemerintahan, dan pelaku usaha. Baik dari cara berfikir, merasa, dan bertindak yang menyangkut soal nilai yang dihayati.

Sebuah fenomena wajar dari keseharian hidup di kota adalah kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, gaya hidup modern. Mayoritas masyarakatnya menjalankan rutinitas, entah itu menyenangkan atau justru melelahkan, merampas kebahagiaan hidup.

Awal tahun 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menjabarkan Kota Bandarlampung menyokong kemerosotan indeks kebahagiaan Provinsi Lampung. Di antaranya karena tingginya angka pengangguran, banyak anak putus sekolah, meningkatnya kemacetan lalu lintas, dan pengembangan diri yang tidak tersalurkan.

Bahagia tidak selalu berhubungan kaya-miskin seseorang. Panjang urusannya dan akan saling bantah-membantah apabila terus berpolemik atau mengkritisi tingginya harga barang pokok, angka pengangguran, dan kriminalitas dengan satu tema besar tentang kemiskinan.

Persoalan kemiskinan tidak akan pernah dan tidak akan mungkin selesai apabila hanya mengandalkan pemerintah. Namun pemerintah wajib menjadi pelopor pembangunan untuk meredam penderitaan rakyat kecil dan hadir memberi solusi guna menaikkan kualitas hidup masyarakat. Misalnya, melalui kebijakan yang promasyarakat kecil dan membangun kesadaran masyarakat kelas menengah dan atas untuk saling berbagi dan berempati melalui keteladanan seorang pemimpin.

Manusia sebagai makhluk sosial berkewajiban memiliki perilaku yang positif dan toleran antarsesama. Apalagi sebagai warga negara yang sejak kecil ditanamkan nilai-nilai, baik yang dijunjung melalui nilai-nilai Pancasila maupun nilai-nilai budaya piil pesenggiri. Keduanya mengarah kepada suatu pedoman dalam bergaul, memelihara kerukunan, kesejahteraan, dan keadilan yang muaranya membawa kebaikan bersama.

 

Membangun Ruang Sosial

Dibutuhkan sebuah ruang sosial sebagai sarana penyalur pengembangan diri manusia. Sebuah tantangan bagi pembuat kebijakan untuk menggoda masyarakatnya ke luar dari rumah dan berinteraksi serta berkreasi di ruang terbuka hijau yang difasilitasi pemerintah. Karena dari situlah interaksi dan aktivitas positif bisa terbangun, yang berdampak terhadap majunya peradaban masyarakat kita.

Bisa dibayangkan betapa nikmatnya pemandangan anak-anak kecil berlarian dan bermain di taman, yang berarti menghindari anak kecil memperoleh kebahagiaan dari smartphone. Pemuda mudah mendapat tempat berolahraga, membangun budaya sportif, mudah mendapat tempat untuk menyalurkan aktivitas seni. Sehingga mereka memperoleh kebahagiaan dan tidak terjebak dengan kenakalan mainstream seperti, tawuran, narkoba dan seks bebas.

Pembuatan ruang sosial tidak serta-merta membangun sebuah taman hijau. Butuh sentuhan lebih agar ruang sosial yang dibangun mendapat manfaat yang maksimal. Kinerja pemimpin daerah hari ini dapat diapresiasi dari pembangunan beberapa taman kota dengan bermacam fasilitas yang ditawarkan. Karena terlihat begitu antusiasnya masyarakat untuk menikmati fasilitas tersebut.

Tetapi, ada perbaikan yang diperlukan mengenai ketertiban dan ketersediaan parkir yang memadai agar menghindari ketidaknyamanan para pengendara yang melintas karena imbas dari parkir liar di sekitar lokasi taman.

Pembangunan ruang sosial juga butuh sentuhan dari arsitek/perencana pembangunan yang sensitif menghidupkan kota. Semisal PKOR Wayhalim yang perlu sebuah konsep pembangunan dan macam atraksi yang dapat ditawarkan agar tidak mengalami kejenuhan. Juga terwujudnya taman kota yang nyaman, senyaman ruang keluarga adalah impian.

Yang lebih penting dalam membangun ruang sosial bukan hanya membangun taman, melainkan mengaktifkan koridor jalan. Sebab, melihat koridor jalan di tiap titik di Kota Bandarlampung, benar-benar melihat matinya kehidupan peradaban. Trotoar jalan tidak teduh dipenuhi udara beracun imbas dari emisi kendaraan bermotor.

Belum terwujudnya hal tersebut dikarenakan tidak menjadi prioritas pembangunan karena kita belum memiliki mentalitas untuk membangun peradaban maju bersama-sama. Melainkan mengedepankan ego dan membuat kapling prestasi dengan tontonan konflik antarpimpinan daerah yang sebelumnya terjadi.  Begitu rumit, begitu kompleks.

Dalam konteks sebagai masyarakat kota, sangat dibutuhkan pemimpin yang membawa masyarakatnya siap hidup berkota. Karena hari ini masih banyak sekali hal yang terabaikan. Pembangunan jalan dan flyover memang sudah baik. Begitu juga program layanan satu pintu, pemerataan kualitas pendidikan melalui program biling, ketersediaan ambulans gratis.

Namun, ada kekhawatiran Bandarlampung bukanlah kota dalam arti sebenarnya, melainkan perkampungan raksasa karena carut-marut fisik kotanya. Intensitas hidup yang ekstrem dan bahkan dalam level maklum seperti tidak adanya respek terhadap ruang publik sering terjadi.

Pemakaian jalur pedestrian sebagai sarana pedagang kaki lima (PKL) berjualan, parkir di bahu jalan, bahkan dalam kondisi macet trotoar diintervensi oleh sepeda motor. Permasalahan besar lain datang pula dari kalangan ekonomi menengah atas yang dimanjakan oleh pembangunan pemukiman elit dengan kemewahan dan pagar tinggi, potensi untuk masyarakat tersebut tidak berbaur dengan golongan di luar amat tinggi. Apabila ada huru-hara bukan tidak mungkin kalangan elit itu pulalah yang akan menjadi sasaran amuk masa dengan mengatasnamakan ketidakadilan.

Esensi hidup berkota amat penting, untuk itu pulalah pemimpin di kota harus mampu memberikan teladan agar kedamaian dan keadilan mudah diperoleh oleh masyarakatnya. Bersumber dari keadilanlah kebebasan untuk bermimpi, beradu gagasan, dan menciptakan harapan dapat terwujud oleh masyarakat kota, sekaligus menepis anggapan hanya anak raja dan juraganlah yang mampu menjadi apa saja.

Pemerintah tidak boleh sendirian, kontribusi dari para pelaku usaha adalah hal terpenting dalam rangka membangun kota impian untuk kesejahteraan dan masyarakat. Untuk itu, rangkulan dari para pelaku usaha, yang taat membayar pajak, turut menyediakan lapangan kerja, memberikan kepedulian sosial pulalah yang mampu membawa peradaban kota semakin maju.

 

Hidup di Kota Harus Bermacetan

Sebuah renungan, apakah kemacetan harus ada di setiap kota di Indonesia. Rezim berganti, janji tetap sama dengan sedikit modifikasi regulasi, atas nama mengentaskan kemacetan. Melihat kota yang lebih maju, baik itu Jakarta, Bandung, maupun Surabaya dengan ruas jalan yang lebih luas dan panjang namun kemacetan tetap ada, bahkan semakin parah. Masyarakatnya pun mudah marah-marah.

Beberapa hal yang harus dicermati, apakah masyarakat kita menganggap simbol kemakmuran dan kenyamanan adalah memiliki mobil? Ada yang demikian, namun ada juga yang merasa tidak terdapatnya transportasi publik yang nyaman, murah dan menjawab kebutuhan. Semoga hadirnya kemajuan teknologi memudahkan pemerintah kita untuk berbenah.

Menyinggung keseharian kita kembali, Apakah cara kita berkendara merampas hak pengendara lain? Terkadang, kemacetan tuntas ketika polantas sedang bertugas, butuh kepemimpinan dari polantas untuk kita tertib, atau butuh diancam tilang terlebih dahulu agar kita taat.

Kesewenang-wenangan kita untuk memberhentikan kendaraan di bahu jalan adalah masalah. Pun dengan ketidaksediaan kita menaati rambu-rambu. Dengan kesadaran untuk berbenah sesuai aturan sesungguhnya akan sangat membantu mengurangi potensi kemacetan, yang berarti memperbaiki wajah kota, wajah peradaban yang maju. The City is the people. Sangat sederhana.

 

Politik, Penyelamat Peradaban

Di bawah terik matahari, aksi massa terjadi di Tugu Adipura Kota Bandarlampung (Senin, 9 Juli 2018). Dengan perspektif positif, respons tersebut merupakan bentuk kesadaran masyarakat tentang politik, atas dugaan pelanggaran yang terjadi. Massa berharap penanganan dilakukan dengan adil. Apapun keputusannya semoga para elite politik yang berpengaruh dapat legawa dan bijaksana.

Partisipasi masyarakat yang meningkat, keamanan proses demokrasi yang terjaga adalah modal besar untuk membawa peradaban kita semakin maju dengan harapan proses politik membawa kesejahteraan dan kebahagiaan.

Peran partai politik mengedukasi masyarakat tentang politik sekaligus menyuguhkan calon pemimpin politik di daerah. Untuk itu kesiapan masyarakat kota harus lebih siap ketimbang calon-calon pemimpin kota yang akan hadir.

Masyarakat kota adalah masyarakat cerdas, yang tidak tergadaikan dengan sedikit rupiah untuk orang-orang zalim berkuasa.

Kita semua harus percaya, bahwa tidak ada orang yang baik dalam politik, yang ada hanyalah orang yang berkepentingan. Semoga, seiring masyarakat kita tumbuh, kota kita tumbuh, semakin terekspose wawasan baru, kesempatan baru, dan harapan baru.

Gotong-royong lahir karena kita peduli, dalam konteks pembangunan ini sudah selayaknya kita masyarakat mempengaruhi, pejabat publik mematuhi. Dengan kerja bersama-sama, Bandarlampung bisa maju dengan luar biasa! (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID