Pelaksanaan Haji 2021 Masih Belum Pasti
Dwi Des Saputra
Senin | 01/03/2021 11.29 WIB
Pelaksanaan Haji 2021 Masih Belum Pasti
Ilustrasi Kalbi Rikardo/RILISLAMPUNG.ID

RILIS.ID, BANDARLAMPUNG – Calon Jamaah Haji (CJH) Lampung tahun 2021 sepertinya harus bersabar dan terus berdoa. Sebab, hingga saat ini, keberangkatan mereka ke tanah suci masih belum pasti.

Tahun 2020, keberangkatan mereka juga ditunda karena pandemi Covid-19 yang mewabah ke seluruh dunia termasuk Arab Saudi dan Indonesia. Sehingga, membuat Arab Saudi menutup pelaksanaan haji.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Lampung M. Ansori kepada Rilislampung.id mengatakan, keberangkatan haji tahun 2021 masih menunggu kebijakan Arab Saudi.

Kendati keberangkatan haji 2021 belum pasti, Ansori mengaku Kemenag tetap menyiapkan skema pelaksanaan ibadah haji di tahun ini yang hampir sama dengan pelaksanaan tahun 2020.

Menurutnya, skemanya apakah berangkat seluruhnya dengan protokol kesehatan ketat. Atau ada pembatasan sampai 50 persen kloter jamaah.

”Kita menunggu kabar kebijakan Arab Saudi selanjutnya,” kata M. Ansori melalui sambungan WhatsApp pribadinya, Minggu (28/2/2021).

Karena itu, terus dia, peserta haji asal Lampung akan tetap melakukan persiapan. Seandainya pemerintah Arab Saudi kembali membuka kloter haji 2021, paling tidak peserta haji asal Lampung sudah siap.

Ansori berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga pelaksanan haji bisa terselenggara. Ia pun meminta kepada calon jamaah haji untuk terus bersabar serta terus memperdalam ilmu pengetahuan tentang Rukun Islam kelima itu.

”Apabila nantinya berangkat, maka dapat melaksanakan hajinya dengan baik secara mandiri sesuai dengan syariat Islam,” pungkasnya.

Sebelumnya, pelaksanaan haji tahun 2020 dibatalkan. Sekitar 7.140 orang peserta (termasuk petugas) asal Lampung ditunda keberangkatanya ke tanah suci.

Pada awal Februari 2021, pemerintah Arab Saudi juga memasukkan Indonesia dalam daftar negara yang dilarang berkunjung. Kebijakan mendadak itu membuat ratusan jamaah umrah batal berangkat.

Pelaksanaan haji pun semakin diliputi ketidakpastian. Pemerintah Arab Saudi memasukkan Indonesia dalam daftar negara yang dilarang berkunjung.

Kebijakan mendadak itu membuat ratusan jamaah umrah batal berangkat. Pelaksanaan haji pun semakin diliputi ketidakpastian.

Selain Indonesia, ada 19 negara yang juga di-blacklist Saudi. Yakni, Argentina, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Brasil, Jerman, dan Inggris. Kemudian, Jepang, Italia, Pakistan, Irlandia, Portugal, Turki, Afrika Selatan, Swedia, Swiss, Prancis, Lebanon, Mesir, dan India. Kebijakan yang berlaku mulai kemarin itu bertujuan meredam penyebaran Covid-19 di Saudi.

Keputusan Saudi menutup akses untuk Indonesia juga berimbas pada rencana penyelenggaraan haji. Sangat mungkin haji tahun ini kembali ditiadakan. Indikasinya, banyak persiapan yang belum dilakukan Kementerian Agama (Kemenag). Misalnya, rekrutmen petugas haji yang biasanya dimulai pertengahan Februari hingga kini belum dibuka.

Besaran biaya haji juga belum diputuskan. Tahun lalu, meskipun haji dibatalkan karena pandemi, biaya haji diputuskan pada 30 Januari atau sekitar 5 bulan sebelum penerbangan perdana jamaah haji.

Nah, tahun ini, pemerintah bersama Komisi VIII DPR baru menyetujui pembentukan panitia kerja (panja) biaya haji 2021. Padahal, waktu yang tersisa tinggal empat bulan.

Sebelumnya, Menag Yaqut Cholil Qoumas menyatakan, jika menggunakan acuan kondisi normal, rombongan haji tahun ini mulai diberangkatkan pada 15 Juni.

Plt. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Oman Fathurahman mengakui, belum banyak perkembangan persiapan haji 2021. Termasuk soal biaya haji yang belum ditetapkan.

’’(Masih, Red) Menyusun skema-skema anggaran BPIH (biaya penyelenggaraan ibadah haji, Red),’’ terangnya seperti dikutip Rilislampung.id dari Jawapos.com.

Penyusunan biaya haji tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Tahun lalu, harga ongkos haji disusun tanpa ada penyesuaian dengan kondisi pandemi Covid-19. Tetapi, tahun ini, penyusunan biaya haji disesuaikan dengan skenario penyelenggaraan haji di tengah pandemi.

Kemenag sudah menetapkan skenario haji 2021. Mulai skenario haji berjalan dengan kuota normal, haji dengan kuota dibatasi, hingga skenario terburuk tidak ada haji seperti periode 2020. Nah, ongkos haji antara kuota normal dan kuota separo berbeda. Semakin sedikit jumlah jamaah haji, biayanya semakin mahal.

Oman mengatakan, seharusnya saat ini rekrutmen petugas haji sudah selesai. Namun, Kemenag bisa saja menggunakan hasil seleksi petugas haji 2020 yang berhenti di tengah jalan.

Soal kontrak layanan haji di Arab Saudi, sudah dilakukan sejumlah pendekatan. Dia menjelaskan, komunikasi kontrak layanan haji dilakukan sejak tahun lalu. Penyedia layanan haji 2021 bisa menggunakan perusahaan yang lolos seleksi penyedia layanan tahun lalu.

Sebagaimana diketahui, tahun lalu Kemenag sudah melakukan seleksi atau penjaringan penyedia layanan haji di Arab Saudi. Baik itu katering, hotel, maupun transportasi. Namun, seluruhnya terhenti karena pandemi.

’’(Kontrak, Red) akan terus diperbarui sesuai update,’’ ungkapnya.

Kontrak layanan haji juga bergantung jumlah jamaah yang akan berangkat tahun ini.(*)

Editor Wirahadikusumah


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID