Pemilih Diprediksi Menurun, KPU Diminta Ketat Terapkan SOP Covid-19 - RILIS.ID
Pemilih Diprediksi Menurun, KPU Diminta Ketat Terapkan SOP Covid-19

Minggu | 28/06/2020 19.37 WIB
Pemilih Diprediksi Menurun, KPU Diminta Ketat Terapkan SOP Covid-19
Ilustrasi: Rilis Lampung

RILIS.ID, BANDARLAMPUNG – Partisipasi pemilih pada pilkada di masa pandemi Covid-19 diprediksi menurun. Itu lantaran masih ada ketakutan masyarakat terhadap Covid-19.

“Partisipasi pemilih diprediksi menurun apabila penyelenggara pemilu yaitu KPU tidak bisa meyakinkan pemilih. Karena ketakutan penyebaran virus ketika hari pemilihan pilkada,” terang Pengamat Politik, Himawan Indrajat, kepada Rilis Lampung, Minggu (28/6).

Himawan, karenanya meminta agar penyelenggara pemilu menyiapkan dan menerapkan SOP (Standar Operasional Prosedur) protokol kesehatan secara ketat, guna mengantisipasi penyebaran virus ini saat pelaksanakaan pilkada serentak 9 Desember 2020.

"Kita belajar dari keberhasilan Korea Selatan dalam menyelenggarakan pemilu di masa pandemi. SOP dan upaya apa yang disiapkan penyelenggara pemilu di Korea Selatan sehingga bisa kita contoh dan dilaksanakan di Indonesia," kata Himawan.

Menurutnya, partisipasi pemilih di pilkada perlu ditingkatkan, karena tingkat partisipasi pemilih merupakan sumber legitimasi hasil pemilihan kepala daerah.

Walaupun tingkat partisipasi sampai 66% dari jumlah pemilih sudah cukup untuk menunjukkan adanya legitimasi dan kepercayaan dari pemilih dalam pelaksanaan pilkada. Tapi akan lebih baik apabila tingkat partisipasi pemilih di pilkada bisa mencapai angka 80 persen.

Karena, lanjutya, ketika pelaksanaan pilkada serentak biasanya diikuti adanya libur nasional. Ini dilakukan untuk meningkatkan tingkat partisipasi pemilih. Tapi untuk pekerja disektor informal seperti pedagang di pasar, sopir angkutan umum, sopir angkutan daring, buruh tani, atau buruh angkut di pasar tentu libur nasional tidak terlalu berpengaruh bagi mereka karena harus tetap bekerja.

"Ini yang menjadi PR bagi penyelenggara pilkada. Bagaimana meningkatkan partisipasi pemilih dari sektor informal, karena biasanya dalam pilkada, mereka memilih untuk tetap bekerja dibandingkan meluangkan waktunya untuk memilih.

"Perlu sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan tingkat partisipasi pemilih. Karena sebenarnya hasil pilkada tersebut mempengaruhi kehidupan mereka. Kepala daerah yang terpilih akan membuat kebijakan yang berdampak pada kehidupan pemilih. Untuk itu perlu upaya ekstra dari penyelenggara pemilu agar partisipasi pemilih bisa meningkat," ungkapnya. (*)

 

Editor Adi Pranoto


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID