Pilgub 2018, Government Campaign, dan Political Benefit
Gueade
Selasa | 03/04/2018 07.13 WIB
Pilgub 2018, Government Campaign, dan Political Benefit
Calon Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo saat Rilis Corner bersama tim Rilislampung.id, Senin (2/4/2018). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/ Segan Simanjuntak

RILIS.ID, Bandarlampung – Sang petahana M. Ridho Ficardo optimistis memenangkan pemilihan gubernur (pilgub) Lampung 27 Juni 2018. Dua survei dari lembaga konsultan politik, Charta Politika dan SMRC (Saiful Mujani Research & Consulting) yang menempatkan dirinya di posisi tertinggi, menjadikannya kian pede.

Calon gubernur (cagub) yang berpasangan dengan Bachtiar Basri itu karenanya,  tidak perlu banyak mengerahkan tenaga sebagaimana kandidat lain. Pembangunan yang dilakukan Pemprov Lampung selama dirinya 3,5 tahun memimpin, tanpa disadari menjadi semacam government campaign, yang sedikit banyak memberikan political benefit bagi dirinya dalam pilgub 2018.

Keuntungan petahana? ”Jadi begini. Kalau program yang kita lakukan banyak manfaatnya, itu pasti jadi political benefit. Sebaliknya jika tidak bermanfaat, justru jadi bumerang sekalipun kita petahana,” ungkap Ridho dalam acara Rilis Corner bersama tim Rilislampung.id, Senin (2/4/2018).

Menurut dia, masyarakat saat ini sudah lebih cerdas. Di banyak tempat dia mengaku tidak perlu berkampanye. Tapi dirinya yakin masyarakat di sana akan memberi dukungan karena merasakan manfaat pembangunan yang dilakukannya selama dia menjabat Gubernur Lampung.

Ridho mencontohkan di Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat (Lambar). Sebelum dia menjabat, daerah itu puluhan tahun tidak tersentuh. Lalu, Pemprov Lampung masuk dan membangun jalan. Listrik juga kemudian menerangi kawasan yang selama ini gelap tersebut. ”Saya percaya masyarakat di Suoh dukung saya, di atas 75 persen. Dan itu tercermin juga dari hasil survei kita,” tandasnya.

Dia pun tak khawatir soal suaranya di Bandarlampung, meski perolehannya dalam pilgub Lampung 2014 kurang signifikan. Sebab, kondisi politik di 2014 dengan saat ini jauh berbeda. Dulu, warga Bandarlampung tidak kenal siapa dirinya. Berbeda dengan sekarang, setelah dia menjadi gubernur.

”Di 2014, saya maklum kalau lebih dari 75 persen, katakanlah 90 persen PNS tidak memilih saya. Bayangkan seorang eselon III yang sudah berkarir belasan tahun tiba-tiba akan dipimpin anak berusia 33 tahun? Kalau jadi mereka, saya juga nggak akan pilih,” paparnya.

Namun tidak kini. Warga Bandarlampung adalah masyarakat menengah yang melek informasi. Ridho memprediksi akan ada kenaikan suara yang signifikan mengingat sudah banyak program kerjanya yang bermanfaat. Dan hal ini tersosialisasikan dengan baik lewat media massa, baik elektronik, online, maupun cetak. ”Mereka lebih clear melihat kerja yang sudah kita lakukan,” yakinnya. (*)



Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID